Juni 27, 2017

Yayasan Tadulakota Peringati 50 Tahun Sulawesi Tengah

20140414_154056_resized

Bertempat di Bukit Jabal Nur Bumi Tadulako dan Kantor Gubernur Sulawesi Tengah (Sulteng), sebuah acara bertajuk Seminar Nasional dan Dialog Publik “50 Tahun Sulawesi Tengah” berlangsung megah dan meriah pada 13-15 April 2014 lalu.

Rangkaian kegiatan yang terdiri dari pentas seni budaya, seminar dan dialog publik tersebut dihadiri oleh sejumlah pejabat daerah, pendidik, mahasiswa, komunitas usaha, sanggar seni serta organisasi kemasyarakatan dan kepemudaan setempat. Lewat acara ini, Yayasan Tadulakota selaku penyelenggara, menggandeng sejumlah praktisi seni lokal dan pejabat setempat untuk bahu-membahu mengangkat kekayaan budaya Sulteng.

Perhelatan yang mengundang minat ribuan masyarakat Palu dan pejabat publik di Sulteng, termasuk Gubernur Longky Djanggola ini juga menyediakan panggung seni, pameran berisi puluhan kios produk lokal dan nasional khas Palu lengkap dengan lapak-lapak pedagang kaki lima.

Dalam pentas seni yang berlangsung, sekumpulan komunitas seni lokal menampilkan “Tadulako Neolithic Voice” yang berkisah tentang perjalanan peradaban Sulteng sejak jaman neolitikum. Saat ini tercatat 36 komunitas lokal etnik dan antar inter etnik (23 komunitas asli dan 13 komunitas urban) mendiami beberapa wilayah administrasi di Sulteng. Sebagian besar anggota komunitas tersebut datang dari kalangan anak muda Sulteng. Menutup pentas seni, pertunjukan kembang api digelar dari Jabal Nur, sebuah perbukitan di utara Kota Palu yang jaraknya hanya sekitar 20 menit dari pusat kota.

20140414_112337_resized

Sementara pada sesi seminar dan dialog publik, acara dibuka dengan pidato kebudayaan oleh Gubernur Longky Djanggola. Dalam sesi tersebut, sejumlah narasumber membahas isu seputar kebijakan kebudayaan, pendidikan seni berbasis kearifan lokal, perkembangan pembangunan kebudayaan di Sulteng dan peran seni dalam masyarakat. Selain itu, pembicara juga berdiskusi seputar seni pertunjukan internasional serta industri kreatif berbasis kerajinan lokal.

Sebagian besar narasumber diundang dari sejumlah pejabat daerah terkait bidang kebudayaan dan pariwisata namun kemarin hanya diwakili oleh satu orang pejabat dari Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Sementara narasumber lain datang dari KUKMI Sulteng dan perwakilan Koalisi Seni Indonesia yakni Abduh Aziz, Alex Sihar dan Aquino Hayunta. Dalam sesinya, Koalisi Seni menekankan pentingnya advokasi kebijakan kebudayaan termasuk kebijakan anggaran dan insentif pajak, juga tentang bagaimana bangsa Indonesia perlu menjadi produsen budaya alih-alih menjadi konsumen budaya seperti sekarang.

Related posts