Juni 26, 2017

Cultural Hotspots, Teruntuk Lingkar Luar Jawa

Cultural Hotspots telah berjalan sejak 2015. Misi utamanya, membangun jaringan dan pengetahuan kesenian di lingkar luar Jawa.

Sejak  2015, Koalisi Seni Indonesia menjalankan program Cultural Hotspots. Koordinator Program Koalisi Seni Indonesia, Aquino Hayunta, mengatakan program ini akan berlangsung hingga 2017. Tujuannya untuk membangun jaringan dan pengetahuan kesenian antarpegiat seni.

Saat ini, ada lima kota yang difokuskan, yakni Palu, Makassar, Kupang, Mataram, dan Pekanbaru. Lima kota yang dipilih diharapkan bisa menjadi agen distribusi dan produksi pengetahuan untuk daerah sekitar.

Harapannya, sirkulasi pengetahuan kesenian yang sebelumnya hanya terpusat di Jawa, bisa mulai terjadi di luar Jawa. Wujud pertukarannya bisa dalam berbagai bentuk, seperti lokakarya, diskusi, atau forum terbuka. Dengan demikian, daerah-daerah yang sudah dipilih bisa menjadi titik pertukaran pengetahuan, baik antarpegiat seni maupun pegiat seni dengan instansi lain, seperti media, akademisi, atau pemerintah daerah.

Pertukaran pengetahuannya bisa beraneka ragam, sesuai kebutuhan daerah masing-masing. Semisal di Palu. Pada Maret 2016 lalu, di sana diadakan serangkaian kegiatan dalam dua hari, seperti lokakarya teknik menulis artikel untuk wiki dan situs online. Selain itu, diadakan seminar selama setengah hari menyoal demokrasi, internet, dan gerakan anak muda.

Tema-tema kegiatan tadi dipilih sendiri oleh kawan-kawan di Palu. Begitu pula dengan lokakarya soal pengarsipan yang diadakan di Mataram pada Februari 2016.

“Yang paling memahami kebutuhan daerahnya adalah teman-teman pegiat seni yang tinggal di daerah itu. Jadi, tema lokakarya ditentukan oleh teman-teman sendiri,” kata Aquino saat diwawancarai di kantor Koalisi Seni Indonesia.

Koalisi Seni Indonesia sendiri bekerjasama dengan beberapa lembaga, seperti Alinea TV, Penabulu, dan Pabrikultur. Program tadi juga saling bersinergi dengan program lain, seperti temu seniman perempuan yang sudah diadakan pada Mei 2016 di Mataram, dan lokakarya “Melek Anggaran Seni” yang diadakan di Palu dan Makassar pada 31 Mei lalu. Tak menutup kemungkinan, program Cultural Hotspots akan terkait dengan program-program lainnya.

Tujuan akhirnya, satu hal penting yang ingin didorong program ini adalah pengelolaan pengetahuan oleh pegiat seni, meliputi pendokumentasian dan pengarsipan karya mereka.

“Sejauh ini belum banyak lembaga arsip yang mendata karya para penggiat seni. Salah satu yang terbaik adalah (usaha) Indonesian Visual Art Archive (IVAA) yang ada di Yogyakarta dan Jaringan Arsip Budaya Nusantara (JABN). Semoga program Cultural Hotspots ini bisa mendorong aktivitas dokumentasi para seniman,” kata Aquino. [HNA].

Related posts