November 19, 2017

[Bekal Seni] Ilusi Bernegara oleh Hikmat Darmawan

oleh: Hikmat Darmawan

Artikel ini adalah cuplikan #bekalseni berjudul “Ilusi Bernegara” oleh Hikmat Darmawan. Untuk membaca keseluruhan tulisan, silakan buka tautan ini.

Dalam banyak hal, Indonesia lebih mirip dengan Amerika daripada yang kita duga. Indonesia dan Amerika sama-sama menganut konsep melting pot dalam menghadapi kenyataan keragaman masing-masing. Indonesia bilang, Bhineka Tunggal Ika; Amerika bilang, E Pluribus Unum; yang jebulnya, keduanya berarti sama: “Berbeda-beda, tapi satu juga”. Dalam hal budaya pop dan penyebaran media, Indonesia adalah konsumen produksi Amerika yang loyal.

Nah, saat ini, Indonesia pun sedang mengalami problem tersendiri dalam hal kenegaraan.  Bedanya, jika Amerika dibingungkan oleh posisi adikuasanya, Indonesia dibingungkan oleh posisi pariahnya (posisi sebagai papan bawah) di dunia global saat ini.

Dengan kata lain, Indonesia sedang mengalami masalah “ilusi bernegara”, namun dalam bentuk yang berbeda dari yang sedang dialami oleh Amerika. Indonesia sedang menghadapi kemungkinan menjadi “negara gagal”, di mana negara tak berfungsi semestinya dan tunduk belaka pada pergesekan kepentingan di dalam mau pun di luar negeri.

Salah satu indikatornya adalah adanya anarkisme ekonomi-politik-budaya, seperti yang ditunjukkan oleh penelitian Alison J. Murray di perkampungan Kampung Melayu, Manggarai, dan Bangka dalam “Pedagang Jalanan dan Pelacur Jakarta: Sebuah Kajian Antropologi Sosial” (LP3ES, 1994). Anarkisme jenis ini tidak berbentuk vandalisme atau perusakan seperti yang sering kita bayangkan lekat pada kata “anarkisme”. Anarkisme yang diungkapkan Murray dalam penelitiannya selama lebih dari 9 tahun itu adalah bentuk-bentuk penciptaan aturan hidup sendiri di kampung-kampung Jakarta, yang berbeda dari yang ditentukan oleh negara. Di zaman Orde Baru, banyak aturan dan nilai serta tatanan sosial yang diatasnamakan Pancasila.

Tapi dalam kenyataan, rakyat jelata tak dapat memenuhi ideal-ideal itu, dan menciptakan tatanan sendiri. Misalnya, bagaimana orang di kampung Jakarta menangani maling (“lu boleh maling di tempat lain, tapi kalau lu maling di kampung ini akan digebuki.”). Salah satu yang diulas banyak oleh Murray adalah bagaimana rakyat jelata bergantung sepenuhnya pada ekonomi informal, yang dimusuhi oleh negara (dengan selalu dikejar-kejar Tibum, misalnya). Masalahnya, negara sendiri tak sanggup menjangkau dan mengayomi hingga pelosok-pelosok tempat hidup rakyat kebanyakan. Belakangan, bentuk anarkisme serupa –dalam bentuk tatanan ekonomi informal yang dibuat sendiri– juga diterapkan oleh kelompok underground dan Punk di Bandung, Jogjakarta, dan Jakarta. [bersambung]

Selengkapnya klik tautan berikut: [Bekal Seni] Ilusi Bernegara oleh Hikmat Darmawan

Related posts