November 19, 2017

[Bekal Seni] Mengulas Film oleh Hikmat Darmawan

oleh Hikmat Darmawan

Dalam kesenian, satu-satunya sumber informasi yang bebas hanyalah kritik. Lainnya itu iklan.
(Pauline Kael, dikutip oleh JB. Kristanto, dalam “Apa Sih Maunya Resensi Film Itu? Kritikus Film: Paria Superstar”, Nonton Film Nonton Indonesia, Penerbit Kompas, 2004.)

 

Seperti film Indonesia, tulisan-tulisan tentang film di Indonesia juga tak berkembang jauh secara estetis. Malah, tampak gejala kemunduran.

Rata-rata ulasan film di media massa kita masih merupakan anak dari sebuah tradisi kasip penilaian “bagus-jelek” atas cerita film, ditambah penilaian serbasedikit atas unsur filmis lainnya seperti: keindahan gambar, seni peran, dan kadang musik latarnya.

Dalam sepuluh tahun terakhir, tampak bahkan struktur ulasan film di media massa pun itu-itu saja: (a) ulasan dibuka dengan deskripsi cuplikan adegan yang dianggap paling menarik oleh pengulas; (b) lalu diuraikan sinopsis cerita dan info-info yang dianggap penting tentang film itu, seperti siapa pembuat dan para bintangnya; (c) lalu penilaian serba sedikit tentang beberapa unsur seperti cerita, gambar, seni peran, dan lainnya; (d) dan akhirnya, keputusan akhir bahwa film itu “bagus” atau “jelek” (paling sering, pengulas cari aman dengan varian kategori tengah-tengah: “lumayan”) yang bernada menyaran apakah penonton perlu menontonnya atau tidak.

Adanya kebutuhan untuk tak membosankan, juga perbedaan besar atau kecil ruang yang tersedia untuk ulasan film dalam setiap media, membuat banyak variasi dari struktur ulasan di atas. Misalnya, ada yang mengacak urutan poin di atas. Atau, jika ruang yang tersedia sangat kecil, struktur itu diciutkan menjadi hanya mengandung poin b, c, d, atau b dan d saja.

Masalah utama tradisi ulasan film macam ini adalah pada kategori “bagus” dan “jelek” itu. Pertama, kategori itu lebih condong pada selera si pengulas. Kalau kebetulan si pengulas memang berselera tinggi, maka kategori itu jadi bermanfaat. Kalau (dan ini yang sering terjadi belakangan) kebetulan selera si pengulas kurang terasah karena, misalnya, ia penulis belum berpengalaman yang disuruh menulis bidang “hiburan” yang dianggap “ringan” –nah, pembaca bisa dirugikan.

Kedua, “baik” atau “buruk” itu cenderung pada pemaknaan “menghibur” atau “tidak menghibur”. Jika ini yang jadi patokan, manfaat dan potensi film direduksi belaka oleh sang pengulas. Sebab, makna “menghibur” atau “tidak menghibur” lebih sering didefinisikan oleh kelaziman dalam industri hiburan mainstream. Agar “menghibur”, misalnya, film harus disederhanakan; tak boleh membuat penonton berpikir; kalau bisa, banyak menyentuh tombol-tombol emosi paling dasar (ngeri, tegang, senang, gembira) dengan formula-formula yang sudah baku. Kata “menghibur” jadi tunggal makna.

Sering juga, industri hiburan mainstream memaknai kata “hiburan” sebagai “eskapisme”. Logikanya begini: orang menonton film ingin melupakan kenyataan hidup yang susah. Dengan mematok sifat “menghibur” (dalam pengertian mainstream) sebagai tolok ukur keberhasilan sebuah film, sang pengulas cenderung memenangkan film-film eskapis di atas jenis film lain. Potensi film untuk “menghibur” akal budi penonton, dengan mengajak penonton memikirkan sebuah masalah hidup, misalnya, cenderung direduksi.

Namun, secara paradoksal, kecenderungan pada film eskapis dibarengi pada pemujaan terhadap gaya realisme. Sederhananya, film adalah make-believe (atau, meminjam terjemahan yang baik dari Eric Sasono: “reka-percaya”); dan jurus yang dianggap paling ampuh untuk mencapai efek reka-percaya ini adalah realisme. [bersambung]

Selengkapnya klik tautan berikut: [Bekal Seni] Mengulas Film oleh Hikmat Darmawan

Related posts