November 19, 2017

[Bekal Seni] Objektivitas vs Mediokrasi oleh Hikmat Darmawan

oleh: Hikmat Darmawan

Artikel ini adalah cuplikan #bekalseni berjudul “Objektivitas vs Mediokrasi” oleh Hikmat Darmawan. Untuk membaca keseluruhan tulisan, silakan buka tautan ini. 

Apakah objektivitas adalah ilusi atau fiksi?

Ya, objektivitas adalah sebuah ilusi, atau sebuah fiksi. Tepatnya, sebuah mitos. Saya memang mengenali adanya relasi kekuasaan dalam lahirnya sebuah “objektivitas”. Sebermula, adalah ketidakpuasan terhadap premis-premis logika Aristotelian tentang “kebenaran” dan “penalaran rasional”: para filsuf Nitszchean macam Derrida dan, terutama, Foucault; maupun yang non-Nitszchean macam Kuhn dan Popper, mereka mengenali relasi ini. Mereka bahkan menyorotkan pandangan mereka terutama pada bidang yang secara tradisional dianggap lebih ajeg dengan standar objektivitas daripada segala aktivitas dan produk kultural, yakni pada sains (atau “ilmu pasti”).

Terutama Foucault yang menyegelkan keraguan itu dengan tesisnya, Knowledge/Power (bahwa pengetahuan adalah hasil relasi kekuasaan). Nah, kalau ilmu saja diragukan objektivitasnya, apa lagi karya seni? Apa lagi komik –yang untuk sekian lama tak diakui dalam ranah ilmu maupun sistem seni yang resmi?

Tapi objektivitas juga adalah nyata. Tepatnya, objektivitas mengambil unsur kenyataan, dan memiliki efek yang nyata. (Dan apakah “kenyataan”? Saya berpendapat bahwa “kenyataan” adalah sesuatu yang telah diobjektivasi, sebuah konstruksi sosial yang telah ‘menjadi’ atau telah jadi kesepakatan umum. Ini, khususnya, yang berhubungan dengan “kenyataan sosial-kultural”.)

Ambil bidang sastra sebagai contoh. Unsur pertama dan utama dari sastra adalah, jelas, bahasa. Dan bahasa memiliki hukum-hukum yang ajeg. Lepas dari perdebatan dari manakah hukum-hukum bahasa itu berasal, hukum bahasa (yakni, perbendaharaan kosa kata dan gramatika) adalah sesuatu yang telah menjadi sistem yang ajeg. Walau ada perubahan yang bersifat evolusioner dalam gramatika sebuah bahasa, sistem bahasa itu sendiri bekerja sebagai sebuah kenyataan. Walau “kenyataan” itu sendiri bisa kita gugat sebagai “tak lebih dari sebuah kesepakatan”, tapi jangan lupa bahwa kesepakatan (bahasa) itu telah mengikat para penggunanya. Jangan lupa pula bahwa dalam sebuah perubahan evolusioner, selalu ada unsur-unsur yang konsisten dan tak berubah.

Nah, maka bisa kita pahami bahwa sebuah karya sastra yang dinilai “baik” atau “bagus” menurut para kritikus harus telah lolos dari saringan ini: bahwa ia telah berbahasa dengan “benar”. Bahkan jika suatu karya yang sengaja menyelewengkan tata bahasa, penyelewengan itu tak mungkin terjadi tanpa terlebih dahulu menerima tata bahasa yang benar. Sajak-sajak Amiri Baraka, misalnya, yang mengambil bahasa lisan slang kaum negro Amerika; atau karya Irvine Welsh (Trainspotting) yang banyak mengambil bahasa jalanan Inggris. Baik Baraka maupun Welsh (a) lebih dulu memahami unsur-unsur gramatika apa saja yang akan mereka selewengkan, dan (b) menggabungkan penyelewengan-penyelewengan itu dengan unsur-unsur dasariah gramatika yang benar/berlaku.

Dengan demikian, bisa dibedakan antara karya yang menyeleweng dari gramatika karena pertimbangan estetis, dengan karya yang menyeleweng karena memang sejak awal tak memahami gramatika dari bahasa yang hendak ia gunakan (misalnya, surat seorang anak balita atau seorang yang tak terbiasa menulis). Yang belakangan (menyeleweng karena tak memahami) tak bisa disebut sebagai karya sastra yang “baik”. 

Saya kira, peluang pertama untuk objektivitas penilaian sebuah karya seni ada pada pemahaman akan “sistem bahasa” atau “sistem kode” yang mendasari suatu karya, termasuk yang mendasari subversi karya tersebut terhadap “sistem kode” itu sendiri.

(Persoalan menjadi agak rumit dalam menilai komik: sistem kode apakah yang hendak kita gunakan –sistem kode bahasa, sistem kode seni rupa, ataukah dunia komik memiliki sistem kodenya sendiri?)

Selengkapnya klik tautan berikut: [Bekal Seni] Objektivitas vs Mediokrasi oleh Hikmat Darmawan

Hikmat Darmawan dikenal sebagai pakar komik dan pengamat budaya pop, dan telah menulis berbagai esai dan buku dalam bidang ini. 

Related posts