Agustus 24, 2017

Berkarya Tanpa Meminta – Tribun Pontianak, 31 Juli 2015

Cuplikan berita tentang diskusi Koalisi Seni di Pontianak yang diliput oleh Tribun Pontianak
Cuplikan berita tentang diskusi Koalisi Seni di Pontianak yang diliput oleh Tribun Pontianak

Tak kurang dari 20 seniman menggelar diskusi bersama Koalisi Seni Indonesia (KSI). Sejumlah persoalan dibedah, di antaranya keberpihakan pemerintah yang masih minim.

Para seniman dari berbagai komunitas dan forum yang ada di Kota Pontianak berkumpul bersama KSI di Meeting Room Tribun Pontianak, Kamis (30/7) siang. Diskusi ringan yang digagas KSI ini menurut Public Engagement Specialist dan Koordinator Program, Aquino Hayunta, sebagai langkah untuk memetakan perkembangan kesenian yang ada pada setiap daerah di Indonesia.

“Kami ingin mengenal lebih jauh perkembangan seni dan budaya Pontianak,” ujar Aquino dalam presentasinya. Dikatakan Aquino, diskusi direncanakan sebagai ajang bertukar pikiran dengan para penggerak sektor seni dan budaya di kota Pontianak untuk menceritakan perkembangan seni, budaya, tata kota, lingkungan dan aspek sosial lainnya di Pontianak dan sekitarnya. Serta problematika yang dihadapi para seniman dalam menjalankan kegiatan seninya.

“KSI ingin mengembangkan kesenian Indonesia dengan mendorong terwujudnya infrastruktur berkelanjutan yang berperan maksimal menjaga identitas keragaman untuk meningkatkan kualitas hidup manusia Indonesia sebagai bagian yang penting dalam dinamika perkembangan masyarakat global saat ini,” tambah pria berambut putih ini.

Diceritakan, KSI yang dibentuk pada 2012 merupakan sebuah perkumpulan yang anggotanya terdiri dari individu maupun organisasi yang berkecimpung di sektor seni dan budaya. Saat ini, KSI beranggotakan sekitar 110 entitas dari berbagai daerah di Indonesia.

“KSI dibentuk berdasarkan kebutuhan sejumlah pelaku dan komunitas seni akan kehadiran organisasi payung yang menaungi dan diharapkan mampu berperan sebagai fasilitator dan dinamisator bagi para pelaku seni dan budaya,” tambahnya.

Lanjutnya, KSI akan melakukan advokasi kebijakan publik dalam bidang kesenian, mendorong secara aktif terwujudnya infrastruktur yang berkelanjutan, menggalang dan mengelola sumber daya dari berbagai pihak serta membangun kesadaran dan dukungan publik atas kepentingan kesenian.

“Sejak 2013, KSI aktif memberikan usulan kebijakan terhadap pemerintah, adanya insentif keringanan pajak bagi korporasi yang mensponsori kegiatan kesenian melalui dana promosi, memastikan negara berpihak pada sektor seni budaya dan menjamin hak kebudayaan pada RUU kebudayaan,” tukasnya.

Selepas menyampaikan presentasinya, Aquino Hayunta, memberikan kesempatan bagi para pelaku seni budaya untuk saling mengemukakan pandangannya dalam berkreasi dan berkarya, termasuk aral yang menjegal selama ini.

Perwakilan Perupa Kalbar, Puji Rahayu, mengungkapkan bahwa selama ini Perupa Kalbar yang merupakan wadah untuk menumbuhkan, menjaga, dan mengembangkan nilai seni rupa yang berhubungan dengan kreatifitas, perkembangan zaman dan budaya Bumi Enggang Kalimantan Barat memiliki suatu hambatan.

“Selama ini, kondisi yang dialami oleh para perupa di Kalbar, tidak adanya ruang tersendiri bagi para perupa untuk memamerkan hasil karya seni rupa,” ujarnya.

Kondisi ini jelas menimbulkan persoalan bagi para perupa. Ia berharap kedatangan KSI dapat memberikan advokasi untuk lebih intens dalam memecahkan permasalahan yang ada di Kalbar.

“Semuanya mengeluh dan berjalan sendiri. Saya kira ini tidak bagus untuk perkembangan seni rupa ke depannya. Kami ingin menyatukan, saya minta ada kelanjutan dan tidak hanya habis di sini,” harapnya.

Pelaku seni lainnya, Ali, mengatakan bahwa kebudayaan merupakan pendidikan. Kebudayaan akan berkembang mengikuti kotanya. Perkembangan kota, membuat potensi kebudayaan untuk hilang semakin besar.

“Di atas panggung semua kita bicarakan, termasuk Tuhan. Bohong kalau saya tidak pernah teriak-teriak tentang sawit, koruptor, dan fenomena lainnya. Tapi, pelaku seni pada kemana saat saya bicara,” ungkapnya.

Ali mengatakan bahwa budaya tetap akan hilang dimakan zaman. Seiring perkembangan budaya baru, maka akan menggantikan budaya lama. Satu yang ditekankan adalah bagi seniman untuk terus berkarya dan tak berharap kepada pemerintah.

“Jadi jangankan bilang pertahankan budaya, itu hal yang tidak mudah. Kita hargai apa yang sudah ada saat ini, tetap berkarya tanpa berasa kepada pemerintah, kita berikan (karya) saja tanpa meminta,” tukasnya.

Ketua Forum Musik Kalbar (Borneo Music Kalbar), Ferdinan atau akrab disapa Mbah Dinan mengatakan bahwa selama ini kebijakan-kebijakan yang berkaitan dengan kesenian dan kebudayaan, dalam pelaksanaannya selalu dihambat kekuatan politik.

“Itu kan dewan yang menghambat, karena mereka hanya mau mengucurkan dana untuk infrastruktur dan lainnya. Jadi selama ini kami tetap berkarya, jangan berharap kepada pemerintah,” ujarnya.

Untuk seni dan Budaya, dikatakan Mbah Dinan harusnya tak terlepas dari dukungan dari fraksi-fraksi DPR dan pemerintah. “Seni perlu dukungan. Permasalahannya bahwa pemerintah mempunyai fasilitas publik yang dijadikan ruangan seni tapi dengan peraturan yang njlimet dan menyusahkan bagi para pelaku seni, termasuk proposal pendanaan juga susah,” terangnya. Persoalan-persoalan tersebut yang terkadang membuat para seniman harus memutar otak. Pendanaan sangat diperlukan dalam menyelenggarakan pentas. Namun, keterbatasan selama ini tak membuat para seniman patah semangat.

“Budaya hanya ada di angan-angan kita, sebaiknya kesenian bergerak sendiri. Kami berharap Tribun Pontianak bisa memfasilitasi untuk bertemu dengan pemerintah, itupun kalau seandainya pemerintah mau mendengar,” pungkasnya.

Sebelumnya, Tim Koalisi Seni Indonesia (KSI) diterima oleh Pemimpin Redaksi Harian Tribun Pontianak, Ahmad Suroso. Di penghujung diskusi yang memakan 2,5 jam ini, Suroso berharap diskusi yang dilakukan oleh berbagai pelaku seni dan budaya ini mempunyai dampak yang besar bagi kebudayaan, khususnya Pontianak.

“Kami sangat mengapresiasi diskusi yang digagas KSI ini. Mudah-mudahan ada alternatif solusi untuk berbagai persoalan yang diutarakan. Khusus kesenian dan kebudayaan Pontianak semoga bisa eksis lagi ke depan,” tutup Suroso.

Adapun yang hadir dalam diskusi ini di antaranya Perupa Kalbar, Forum Musik Kalbar, Komunitas Anak Indonesia, Kain Conteng Community, Lakpesdam NU Pontianak, Masyarakat Film Kalbar, Lipart, dan lainnya.

(rizky prabowo rahino)

Related posts