Desember 12, 2019

Cara Musik Menghadirkan Perdamaian

Jakarta – Beragamnya Indonesia membuat tiap agama maupun kepercayaan memiliki cara sendiri dalam bermusik, yang melambangkan spiritualitas masing-masing. Namun karena sifatnya yang universal, musik juga dapat menjadi sarana untuk melampaui sekat-sekat identitas. Mendengarkan musik dari kelompok lain memungkinkan kita memahami pandangan dunia mereka, sedangkan penciptaan musik bersama-sama dapat berujung pada terciptanya pemahaman baru.

“Musik adalah anugerah luar biasa, karena ia inklusif dan memungkinkan kita memahami satu sama lain,” ujar Glenn Fredly dalam diskusi bertajuk “Musik Lintas Iman” pada Senin, 20 Mei 2019.

Diselenggarakan oleh Kami Musik Indonesia (KAMI) dan Koalisi Seni Indonesia, diskusi ini mengulas kaitan seni musik dan religiusitas manusia Indonesia dalam dua tema diskusi berbeda. Diskusi bertajuk “Musik sebagai Ekspresi Iman” menghadirkan narasumber Dewa Budjana (musisi beragama Hindu), Barry Likumahuwa (Kristen), serta Odelia Sabrina Taslim (Buddha). Sedangkan diskusi mengenai “Musik sebagai Piranti Perdamaian” menampilkan pembicara Nyak Ina “Ubiet” Raseuki (etnomusikolog dan praktisi musik), Franki Raden (komponis dan etnomusikolog), Akhmad Sahal (akademisi dan warga Nahdlatul Ulama), serta Wahyudi Akmaliah (peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia). Musisi Glenn Fredly selaku penggagas KAMI bertindak sebagai moderator dalam kedua diskusi tersebut.

Sebagai bentuk ekspresi iman, musik memiliki kekuatan nyata untuk menjelaskan inti ajaran agama melalui medium yang menyentuh perasaan. Odelia Taslim menjelaskan bahwa ia menggunakan musik untuk menyampaikan ajaran Dharma dari Buddha. “Ada kalanya pendengar mungkin tidak menangkap pesan yang disampaikan dengan baik. Tapi hal ini wajar, karena aku sendiri juga masih dapat salah menangkap dan terus mempelajari ajaran Buddha,” ucapnya.

Dewa Budjana berpendapat pesan dalam musik religi tidak dapat dipandang sebagai sesuatu yang kaku. Menurutnya, musik Hindu instrumental ciptaannya dapat dinikmati sebagai world music karena dimensi spiritualitas yang memang universal dan tidak dibatasi oleh pemahaman agama. “Karena sifat universal ini, kita dapat menekankan keberagaman melalui proyek musik lintas iman. Dari sisi konten, kita juga dapat menemukan titik temu. Sebagai contoh, di Hindu ada ajaran untuk hidup selaras dengan alam. Agama lain juga punya ajaran yang menekankan pentingnya menjaga lingkungan,” tutur Budjana.

Sementara itu, Barry Likumahuwa menjelaskan tantangan dalam menemukan genre musik rohani dengan ciri khas Indonesia. Hal ini ia refleksikan dari memandang industri musik gereja di Indonesia yang telah berkembang pesat dan memiliki banyak pendengar, namun belum memiliki kekhasan. Selain itu, “Banyak generasi tua di gereja sudah terbiasa mendengar musik rohani yang lebih sederhana. Ketika gue membuat aransemen yang lebih kompleks sebagai bentuk ekspresi iman, ada yang berkomentar musiknya terlalu ‘duniawi’ dan nggak masuk,” katanya.

Optimisme akan potensi musik sebagai wahana keimanan yang menyejukkan menjadi semakin relevan pada diskusi berikutnya. Menurut Akhmad Sahal, penyebaran Islam di Indonesia oleh Wali Sanga menggunakan berbagai elemen budaya lokal, termasuk musik, sebagai jembatan antara masyarakat nusantara dengan agama yang pada masa itu baru dikenalkan. “Di mata para Wali, Islam merupakan tamu, bukan hakim. Berbagai budaya dan agama lain sudah ada di Indonesia jauh sebelum Islam datang. Langkah yang waktu itu mereka ambil adalah menempatkan Islam sebagai sufisme yang penuh keindahan, salah satunya dengan berkesenian. Dengan ini, Islam dapat dianut oleh masyarakat Indonesia tanpa proses kekerasan,” ujar salah satu penggagas Konferensi Musik Islam ini.

Senada dengan Sahal, Wahyudi menjelaskan dimensi kosmopolitan dari agama Islam di Indonesia yang mengakulturasikan praktik keagamaan dari wilayah lain. Meski praktik ini begitu penting pada masa awal penyebaran Islam di nusantara, ia menekankan bahwa kosmopolitanisme Islam tetap merupakan fitur yang ada hingga kini. Ia mengatakan, “Penyanyi Maher Zain [dari Swedia] pada awalnya menyampaikan nilai ajaran Islam dalam konteks negara sekuler tempat ia tinggal. Meski demikian, ia kini banyak didengarkan di Indonesia setelah dibawakan oleh Sabyan. Teman-teman musisi dapat berimajinasi menggunakan pendekatan kosmopolitan ini.”

Kosmopolit merupakan salah satu sifat kebudayaan Indonesia, yang merupakan hasil akulturasi berbagai suku-bangsa. Namun Ubiet selaku etnomusikolog berpendapat hingga saat ini, belum ada musik yang dapat disebut “musik Indonesia”. “Kita perlu membangun institusi yang kuat serta berusaha untuk membuat musik baru. Selain menyelenggarakan konferensi dan residensi, kita juga bisa ajak musisi untuk tinggal di komunitas dan menciptakan dialog yang organik. Dari sini, kita bahkan bisa menemukan cara baru yang unik untuk membuat musik,” tuturnya berpendapat.

Salah satu upaya menemukan cara baru untuk membuat musik ini adalah kiprah Franki Raden mencetuskan Indonesian Music Orchestra, yang menggabungkan berbagai alat musik tradisional dari seluruh nusantara. “Saat ini, hanya bahasa yang mampu membuat semua masyarakat merasa sebagai orang Indonesia. Sementara itu, proses pencarian identitas musik di Indonesia belum selesai. Orkestra ini bisa menjadi platform awal untuk berkreasi dan menemukan identitas tersebut,” ucapnya. (Eduard Lazarus)

Related posts