Juni 26, 2017

Cultural Hotspots Gelar Lokakarya Jurnalistik Isu Gender dan Kemanusiaan

Cultural Hotspots kembali mengadakan kegiatan di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur. Kali ini, difokuskan pada lokakarya pelatihan jurnalistik dengan perspektif kemanusiaan dan gender, yang menghadirkan seorang aktivis dan jurnalis lepas Febriana Firdaus sebagai pemateri. Lokakarya kali ini bekerja sama dengan komunitas sastra Dusun Flobamora. Lokakarya ini berlangsung selama dua hari, pada 18 dan 19 November 2016, di Pantai Lasiana dan Taman Ziarah Oebelo.

Di hari pertama, Febriana memulai lokakarya dengan membagikan pengalaman menulisnya. Menurut Febriana, terjun langsung ke lapangan dan bertemu banyak orang adalah teknik belajar paling baik. Peserta, yang terdiri dari 33 orang, dibagi ke dalam 11 kelompok.

Lalu, mereka diperintahkan memilih secara spesifik isu kemanusiaan atau gender, dan menentukan ketua kelompok, sekretaris, serta kriteria narasumber. Kemudian, peserta dibubarkan untuk mencari dan menemukan narasumber. Mereka diperintahkan membuat berita, dengan tenggat waktu tengah malam. Berita yang sudah dibuat itu lalu dievaluasi di lokakarya hari kedua.

Peserta sangat antusias terjun ke lapangan. Salah satu kelompok yang memilih isu pekerja anak di Kupang, langsung menuju ke Jalan Eltari. Di sana, anak-anak banyak yang berjualan koran. Sedangkan kelompok yang memilih isu perdagangan manusia dan gender, langsung menuju ke depan rumah dinas Gubernur NTT. Di sana, kebetulan sedang ada aksi seribu lilin dan sejuta doa untuk korban bom Samarinda. Selain itu, ada pula aksi 53 peti jenazah korban human trafficking di NTT.

Di hari kedua, lokakarya dibagi menjadi tiga sesi. Sesi pertama dilakukan evaluasi berita. Sesi kedua, debat dengan topik kemanusiaan dan gender. Peserta dibagi dalam dua kelompok, yaitu kelompok pro dan kontra. Debat pun dilaksanakan dalam dua sesi, dengan syarat yang berbicara pada debat sesi kedua adalah peserta yang tak berbicara di debat sesi pertama.

Teknik ini dipakai Febriana untuk memicu keaktifan peserta dalam membahas isu yang didebatkan, sehingga semua perserta memiliki kesempatan untuk menyampaikan pendapat. Topik di debat sesi pertama soal hukuman mati. Sedangkan di debat sesi kedua soal ateis. Selain itu, di sesi ketiga lokakarya hari kedua ialah diskusi terbuka dengan topik lesbian, gay, biseksual, transgender (LGBT).

Lokakarya ini diharapkan bisa membawa pengaruh positif bagi pemuda di Kupang, yang merupakan generasi penerus dalam menyuarakan ketidakadilan di kota ini. Apalagi isu yang diangkat menyoal kemanusiaan dan gender, sebuah isu yang tak pernah habis disuarakan di negeri ini.

Tak hanya belajar menulis, peserta juga belajar berdiskusi mengenai isu-isu yang sedang hangat di Indonesia, terutama di Kupang. Peserta ada yang mengaku kesulitan mendapat berita, dan tak tertarik menjadi jurnalis. Namun, beberapa yang lainnya merasa tertantang dan semangat menjadi pekerja media.

Penulis: Linda Tagie | Editor: Fandy Hutari

sumber foto: facebook Linda Tagie dan Febriana Firdaus

Related posts