November 19, 2017

[Cultural Hotspots] Seuntai “Network” Pegiat Seni Muda Ruteng dalam Workshop Keaktoran “Saeh Go Lino”

Artikel ini dipublikasikan di situs matimnews.com. Untuk membaca artikel asli, silakan buka tautan berikut. 

Mata 30-an pegiat seni muda kota Ruteng dipaksa tidak berkedip ketika bahasa, alam, dan gerak, bisa berpadu serasi dengan alunan musik dan gerak dalam tarian “Sae Go Lino” tanggal 13/10 di Aula Asumta Paroki Katedral, kemarin.

Tarian yang sekali-sekali dalam koreonya tampak menunjukan ciri tradisional lalu sejurus kemudian berpindah menuju gerak yang kontemporer/modern itu adalah suguhan pembuka kegiatan Workhsop Keaktoran yang diadakan oleh Komunitas Sae Go Lino dan OMK Lumen Gratiae Katedral Ruteng bekerjasama dengan Koalisi Seni Indonesia (Koalisi Seni) yang berpusat di Jakarta.

Workshop yang berlangsung selama dua hari (13-14) ini menghadirkan Abdi Karya sebagai Pemateri. Dibantu Asistennya Askar Lacapili, Abdi yang merupakan seorang pegiat dan sustradara teater di Makasar terlihat dengan sabar membagikan ilmu dan membimbing peserta yang terlihat antusias mengikuti workshop. Ini jelas tidak biasa bagi seorang seperti Abdi yang saat ini sedang mengelola sebuah teater Lintas negara, 5ToMidnight International, dengan aktor-aktor dan sutradara-sutradara dari Singapura, Taiwan, Jepang dan Eropa,

Namun, Abdi dan Askar bisa saling mengisi membagikan pengetahuannya mengenai dasar-dasar teater, olah tubuh, olah rasa, manajemen pementasan hingga kegiatan produksi karya yang mendapatkaan momentum pengujiannya pada pada akhir kegiatan.

“Teater adalah sesuatu yang terus bergerak atau dinamis, dan karenanya setiap orang yang ingin terlibat pada dunia tersebut harus senantiasa belajar” jelas Abdi. “Teater adalah ilmu. Sebagai Ilmu dia harus dipelajari karena selalu berubah dari waktu ke waktu”.

Abdi juga mengingatkan pentingnya riset terhadap budaya atau cerita-cerita lokal sebelum memasukkannya dalam pementasan teater. Dalam pemahamannya Ini bisa jadi “jalan transfer budaya ke dalam kesenian”.

Adapun alasan pemilihan Ruteng sebagai tempat Workshop, menurut Linda Tagie yang mewakili Koalisi Seni adalah karena inilah kota yang belakangan ini mampu menunjukkan adanya geliat yang berarti di bidang seni dan sastra. “Perkembangan Kesenian di Ruteng cukup tinggi dan terdapat komunitas yang diisi oleh banyak seniman muda” katanya. Linda yang dikenal sebagai pemain teater monolog bersama Ragil Sukriwil, dll, di NTT, dan anggota aktif Komunitas Dusun Flobamora itu menambahkan bahwa Komunitas Sae Go Lino dan OMK Katedral Ruteng yang bermarkas di LG Corner adalah jaringan pertama KSI di Ruteng.

“Mereka yang pertama dan semoga membuka pintu bagi komunitas lainnya di Ruteng untuk membangun jaringan dengan Koalisi Seni,” tambahnya di hadapan anggota OMK St. Theofilus, Komunitas Sastra Hujan, OMK. St. Mikhael Kumba, Komunitas Sastera Saverian (Kosaveri), sanggar Molas Bali-Belo dan Ngaso Art Ruteng, yang juga menghadiri dan membuat workshop itu semakin bermakna.

“Kita sudah memasuki dunia jaringan dan seniman muda kota ini perlu mendapat tambahan pengetahuan seputar teater” kata Armin Bell melalui Messangger menjelaskan ikwal tujuan Workshop kepada Matimnews.com. Karena itu Sutradara Drama Musikal Ombeng (2016) sekaligus inisiator Workshop ini mengakui bahwa kesempatan kegiatan ini sesuatu yang istimewa karena dalam sekali jalan beberapa tujuannya langsung tergapai.

“Untuk kami yang di Ruteng yang jauh dari kemudahan akses dan fasilitas seperti di Indonesia bagian Barat, hanya dengan networking seperti ini bisa semakin maju” Menurut peraih penghargaan Cerpenis Terpuji pada Anugerai Sastra Litera 2017 itu, networking dalam kesenian adalah hal yang sangat penting sehingga semangat berkesenian di Indonesia tetap terjaga dan interaksi antarseniman dapat terjalin. “Karena itu kami berterimakasih kepada KSI yang telah memilih Sae Go Lino sebagai mitra dan Abdi Karya yang sudah mau berbagi disini”.

Ucapan terimakasih juga keluar dari hati terdalam Febri Djenadut sang Koreografer Tarian Sae Go Lino. Ia juga merasa beruntung bisa mengikuti kegiatan Workshop Keaktoran itu bersama Abdi Karya dan terus menaruh asa agar kegiatan-kegiatan workshop kesenian lainnya dapat terus dilaksanakan di Ruteng.

Mungkin inilah workshop kesenian pertama yang berlangsung di Ruteng. Mungkin karena itu pula ketika Workshop ditutup dengan pementasan bersama oleh semua komunitas itu atas lakon Peristiwa Kelahiran Yesus, serta Monolog Linda Tagie yang membakan isu-isu perempuan; Askar Lacapila yang menampilkan lakon teater “Lipa”’ dan Abdi Karya sendiri yang bertutur mengenai nasib seorang seniman tua di sebuah gedung pertunjukkan, sebagian besar peserta merasa waktu terasa terlalu cepat berakhir sementara rasa dan interaksi diantara mereka sudah terlanjur terjalin.

Armin Bell, Febri Djenadut, dan seluruh anggota komunitas yang hadir dalam Workshop itu memang tepat merasa beruntung dengan kehadiran Abdi Karya, Linda Tagie dan Askar Lacapila. Tetapi Kota itu, Ruteng, juga berutang terimakasih kepada pegiat-pegiat seni muda seperti mereka.

Karena, seperti merpati, dalam keterbatasannya mereka tetap berupaya terbang jauh, lebih jauh, lebih tinggi, dengan membangun jalinan relasi dan interaksi dengan seniman di luar Manggarai. Mereka membuktikan bisa membangun jaringan dan interaksi seperti inti sari tarian Sae Go Lino “bahasa alam, tari tradisi Manggarai, dan gerakan kontemporer yang jalin-menjalin, bersatu-padu-satu utuh dalam Tarian”

Dari Ruteng, seuntai jaringan antara Komunitas Kesenian itu kini telah terbentang memanjang menjangkau hingga pusat Republik di Jakarta (ED)

Related posts