Oktober 23, 2017

Cutie and The Boxer: Potret Haru Kehidupan Sepasang Seniman

1cutie
Sumber foto: cutieandtheboxer.co.uk.

Oleh: Oming Putri dan Amira Ruzuar

Jati diri seniman sering digambarkan lemah dan tak berdaya. Ira, pendiri Erudio School Of Art, pernah mengeluhkan cara media massa menggambarkan kehidupan seniman lewat serial komedi “Tetangga Masa’ Gitu”. “Adi, seorang suami yang berprofesi seniman dalam serial itu, dikisahkan selalu meminta uang saku kepada istrinya dan sering menganggur di rumah. Ia juga digambarkan ceroboh dan malas berolahraga,” ujar Ira dalam sambutannya di acara Forum Guru Seni tahun lalu.

Padahal, kehidupan seniman tak melulu begitu. Kenyataannya, banyak seniman yang bekerja keras dan profesional dalam menghidupi karirnya sebagai seniman. Mereka tekun bereksperimen dan menantang gagasan umum, hingga menciptakan karya-karya yang baru dan segar. Beberapa seniman juga serius melakukan penelitian dan perancangan program untuk pemberdayaan masyarakat. Suatu proses berkesenian yang seringkali tak masuk dalam terminologi “bekerja” di masyarakat kita.

“Kalau dengar kata ‘seniman’, masyarakat masih mengira kalau profesi itu sebatas tukang gambar di taman kota. Padahal, tidak. Tantangan profesi ini juga banyak. Kalau ingin jadi seniman yang bagus, mereka juga harus bekerja keras untuk mencapainya,” lanjut Ira.

Cutie and The Boxer kemudian menjadi salah satu film dokumenter yang menggambarkan kehidupan keras para seniman. Latar belakangnya memang bukan di Indonesia, melainkan di New York. Namun, meskipun begitu, situasi nyata yang dihadapi oleh tokoh utama di dalamnya dapat membantu kita untuk memahami kompleksitas kehidupan para seniman pada umumnya. Termasuk juga beragam bentuk konsekuensi yang harus dihadapi oleh seniman terkait dedikasinya pada kesenian.

You see… We are the ones suffering most from art…” – Ushio Shinohara

Ushio Shinohara dan Noriko Shinohara adalah sepasang seniman rupa. Mereka telah hidup bersama selama kurang lebih 40 tahun. Diantara mereka berdua, Ushio-lah yang memiliki sejarah kesenimanan paling panjang. Ushio telah aktif berkesenian sejak 1960. Sedangkan, Noriko memulainya di tahun 1972. Jika mengingat selisih umur mereka yang mencapai 21 tahun, maka hal ini wajar. Namun, meskipun begitu, potensi keduanya sebagai seniman sama besarnya. Buktinya, berbagai pencapaian telah mereka raih selama berkesenian di New York.

Selama di New York, Ushio dan Noriko mendapat banyak pengakuan terkait profesi mereka sebagai seniman. Pada 2007, Ushio memperoleh penghargaan The Mainichi Art Prize. Pada 2012, Samuel Dorsky Museum of Art di Amerika menghelat pameran pertama karya-karya Ushio yang diciptakan di luar Jepang. Insitusi-institusi ternama pun mengoleksi karyanya. Beberapa diantaranya, seperti Museum Guggenheim Soho, National Museum of Modern Art, Leo Castelli Gallery, dan Hara Museum of Contemporary Art.

Nama Ushio memang dikenal banyak orang. Ia dikenal sebagai penganut avant garde garis keras dan salah satu pendiri kelompok Neo-Dadaism Organizers pada 1960 di Jepang. Bersama dengan seniman lainnya, seperti Akasegawa Genpei, Arakawa Shusaku, dan Yoshimura Masunobu, Ushio diingat sebagai seniman dengan tingkat eksperimentasi tinggi. Hingga pada 1969, ia pindah ke Amerika Serikat dengan dana beasiswa dari lembaga donor The John D. Rockefeller III. Semenjak itu, Ushio menetap di New York dan berkesenian di kota itu.

Noriko pun sama. Pindah ke Amerika pada 1972, Noriko memperkenalkan karyanya ke publik untuk pertama kalinya di Whitney Counterweight, sebuah pameran kelompok yang diselenggarakan pada tahun yang sama dengan Whitney Biennial. Pameran tunggalnya yang pertama adalah di tahun 1986. Semenjak itu, karirnya naik. The International Print Center New York mengikutsertakan karyanya dalam pameran New Prints pada 2003. Setahun setelahnya, Davis Museum di Boston mulai mengoleksi karyanya. Ia juga ambil bagian dalam pameran kelompok yang diinisiasi oleh perkumpulan orang Jepang di New York pada 2007.

2cutie

Jika dilihat dari pencapaian mereka berdua, Ushio dan Noriko bukan seniman sembarangan. Sayangnya, pencapaian-pencapaian ini tak mampu membayar uang sewa apartemen mereka. Tingkat penjualan karya Ushio masih rendah. Akibatnya, kehidupan mereka tetap miskin. Banyak pemilik galeri maupun peminat seni yang mengaku menyukai karya Ushio, pada akhirnya menolak untuk membeli karyanya. “That’s a wonderful image but not my taste,” alasan mereka.

Jadilah mereka sibuk mengupayakan agar karya-karya Ushio terjual. Berbagai kompromi dan negosiasi terjadi disini. Salah satunya adalah ketika kurator Museum Guggenheim, Alexandra Munroe, lebih tertarik dengan karya-karya Ushio yang bernilai historis daripada karya-karya barunya. Pada titik ini, Ushio mempertanyakan kembali derajat estetikanya. Apalagi ketika Munroe berhasil merekomendasikan karya historis Ushio ke Museum Guggenheim, alih-alih karya barunya. Ushio terlihat depresi dan kehilangan kepercayaan dirinya. Benar apa kata Munroe tentang hal ini: “… whether you are Pollock or Philip Seymour Hoffman, there’s a lot of suffering involved in being an artist.” Satu kondisi yang juga terjadi di Indonesia.

Seniman Indonesia, termasuk yang sudah memiliki nama besar, juga masih terus berhadapan dengan banyak tantangan terkait dengan finansial. Berbagai kompromi dan negosiasi dilakukan agar kebutuhan untuk berkarya seni masih dapat terpenuhi. Ini terjadi di beberapa seniman yang juga mengelola komunitas seni. Agung Kurniawan dan Yustina Neni, misalnya. Mereka membuka bisnis Kedai Kebun Restaurant untuk membantu hidupnya Kedai Kebun Forum (KKF), komunitas seni yang telah ada sejak 1996.

“Sumber dana KKF paling banyak berasal dari restorannya. Jadi, kalau ditanya bagaimana caranya KKF bisa hidup sampai lebih dari 17 tahun, ya itu karena dana dari restoran,” ujar Agung saat presentasi terkait komunitasnya di IFI, Yogyakarta, dalam acara Forum Manajemen Seni Rupa yang diadakan oleh Rumah Seni Cemeti pada 2012 lalu. Ini baru satu, belum lagi seniman lainnya di seluruh penjuru Indonesia.

Pada akhirnya, film Cutie and The Boxer bisa menjadi salah satu pembanding dari serial komedi “Tetangga Masa’ Gitu” yang dianggap keliru mempresentasikan profesi seniman. Bahwa dalam profesi seniman, ada harga diri yang dipertaruhkan, juga dedikasi yang diuji. Ini jelas bukan profesi yang remeh, hingga kemudian menjadi seniman tak sekedar menggambar di taman kota. Satu hal yang penting untuk dipahami oleh masyarakat dan mereka yang ingin terjun ke dunia ini.

Related posts