Juni 29, 2017

Detail Anggota KSI


Suar Artspace

Pada 7 Maret lalu, Erudio School Of Art (ESOA) mengadakan acara pembukaan ruang baru di gedung mereka. Mereka memberinya nama Suar Art Space. Dalam pamfletnya, ruang ini berkomitmen untuk berfokus pada proses pembuatan karya seni, alih-alih hasil akhirnya. Mereka menggunakan istilah “memamerkan proses”. Memang terdengar aneh. Bagaimana cara memamerkan sebuah proses? Dan mengapa Suar Art Space mengambil peran ini?

“Mengakrabkan seni visual ke dalam hidup masyarakat, bukanlah perkara mudah. Kendalanya adalah rendahnya keterlibatan masyarakat luas dalam proses produksi karya seni,” tulis mereka dalam pengantarnya.

Keinginan untuk mendekatkan seni ke masyarakat memang telah menjadi keinginan banyak orang yang percaya bahwa seni mampu membantu tumbuhnya masyarakat yang saling menghargai, kreatif, inovatif, dan kompetitif di masa depan. Iswadi, seorang seniman teater di Lampung yang kini rutin melatih teater untuk anak muda, bahkan lebih detil menyebut bahwa seni mampu melatih kecerdasan majemuk (multiple intelligence) anak. Opininya tentu merujuk pada proses berkesenian di ranah seni teater. Ia melihat bahwa teater melatih kecerdasan emosional anak, sehingga anak jadi lebih percaya diri, lebih bijak dalam mengekspresikan emosi, dan lebih mengenal dirinya sendiri. Hasil yang kurang lebih sama dalam ranah seni yang lain. Hasil yang menjadi fokus, selain kecerdasan kognitif, sekolah-sekolah di Finlandia. Salah satu negara yang memiliki tingkat pendidikan paling maju di dunia.

Inilah alasannya ESOA (Erudio School Of Art) memutuskan untuk turut serta mendekatkan seni ke masyarakat yang lebih luas. Salah satunya dengan membuka Suar Art Space. Sebagai sebuah sekolah swasta dengan kurikulum seni dan desain berstandar internasional, ESOA ingin memperluas distribusi pengetahuannya hingga mampu dinikmati oleh publik umum. Tujuannya yang lebih spesifik adalah mengenalkan proses berkesenian kepada masyarakat. Harapannya, ketika masyarakat sudah mengenal proses produksi sebuah karya seni, maka tingkat apresiasi masyarakat atas seni akan meningkat. Kalau sudah begitu, maka masyarakat tak lagi menganggap seni sebatas hiburan, tetapi juga mulai menyadari peran seni sebagai media pembelajaran.

Maka dari itu, Suar Art Space kaya akan program berbentuk lokakarya dan diskusi. Lokakarya tidak hanya mengajarkan keterampilan membuat karya seni dan kerajinan tangan, tetapi juga mengajarkan cara membuat bahan-bahannya, seperti kertas, pewarna alam, dan lain-lain. “Lokakarya yang kami selenggarakan tidak hanya berupa satu sesi belajar, tapi merupakan serangkaian proses belajar dari awal berkarya hingga menjadi sebuah karya,” ujar mereka. Bukan hanya itu. Mereka juga merancang program diskusi untuk mengenalkan profesi lain dalam dunia seni agar masyarakat mulai mengenal ekosistem seni yang sebenarnya. Sehingga, masyarakat memahami bahwa profesi dalam kesenian tidak hanya seniman, namun juga kurator, manajer galeri, dan lain sebagainya. Program-program inilah yang kemudian mereka sebut sebagai kegiatan “memamerkan proses”. Sebagaimana yang mereka tulis dalam buku panduannya.

Suar Artspace is focused on art education. It is a place to showcase the whole process of art creation from the beginning to the end, and other art education activities,” tulis mereka.

Dengan kata lain, Suar Art Space ingin menjadi jembatan antara publik dan seni, secara keseluruhan. Baik seni sebagai media pembelajaran, ruang dialog, ataupun profesi. Ini tentu pekerjaan besar. Namun, tampaknya mereka punya komitmen kuat untuk menjalankan tugas ini.

“Suar Art Space sudah merancang program untuk satu tahun kedepan. Tunggu saja, “ ujar Ika Vantiani, konsultan program Suar Art Space tahun ini, saat ditanya terkait program Suar Art Space.

Kontak:

Jalan Lebak Bulus I No. 55, Cilandak Barat, Jakarta 12430
suar artspace
@suarartspace