Juni 27, 2017

Digitalisasi Wayang Kontemporer oleh Annayu Maharani

Slamet Gundono dalam “Cebolang Minggat” – Koleksi ANTARA

Penulis: Annayu Maharani | Editor: Fandy Hutari

Beberapa studi yang membahas perkembangan wayang di Jawa  ternyata mempunyai penjelasan berlainan tentang elemen-elemen pertunjukan di dalamnya. Salah satunya adalah elemen dalang.

Clara van Groenendael di bukunya, The Dalang Behind the Wayang: The Role of the Surakarta dan The Yogyakarta Dalang in Indonesian-Javanese Society (1985) menyebutkan, dalang merupakan orang-orang terlatih dari sekolah seni formal, sehingga wayang sebagai peristiwa ritual perlahan hilang. Di buku Phenomenology of a Puppet Theater: Contemplations on the Art of Javanese Wayan Kulit (2005), Jan Mrazek lebih menekankan sosok dalang sebagai pencipta ide dan bentuk-bentuk estetik yang ada saat ini.

Sedangkan Matthew Isaac Cohen dalam Contemporary Wayang in Global Context di Asean Theater Journal (2007) menulis, sejak dulu sudah ada inovasi di wayang Jawa dan Bali, yang berbeda hanya ekosistemnya. Dalang sudah punya konsep pemirsa lebih beragam dengan praktik kolaborasi interdisiplin.

Bertolak dari sana, Miguel Escobar dari Kajian Teater, National University of Singapore, menjadikan permasalahan ini sebagai latar belakang penelitian disertasinya tentang wayang kontemporer di Jawa. Miguel melakukan pendekatan baru dalam menjawab definisi wayang kontemporer dengan memanfaatkan teknologi digital demi menemukan struktur formal sebuah pertunjukan.

Inilah yang menjadi kekuatan penelitiannya, karena selangkah lebih objektif atas bias interpretasi dari studi-studi sebelumnya dan lebih mudah dipahami atas penggambaran pola-pola tertentu dari pakem wayang itu sendiri.

Penggunakan analisis digital menekankan kehadiran arsip. Meski begitu, Miguel tetap menonton wayang secara langsung sekaligus merekamnya agar sedapat mungkin menghasilkan interpretasi yang saling melengkapi, melalui memori atas pengalamannya dan reproduksi repertoar dari arsip video. Ia juga mewawancarai beberapa dalang tentang hal-hal apa saja yang melekat pada wayang, baik saat pertunjukan langsung maupun dari video.

Disertasi Miguel memakan waktu enam tahun, dari 2008 hingga 2014. Ia berhasil merekam 24 pertunjukan wayang kontemporer, terutama di Yogyakarta dan Solo.

“Awalnya, saya hanya menemukan satu hingga dua artikel saja di situs dan jurnal online tentang wayang kontemporer. Karena rekaman yang diunggah di Youtube maupun yang dimiliki dalangnya sendiri mempunyai kualitas yang buruk,” kata Miguel.

 

Pengembangan Platform Digital

Tafsiran elemen-elemen pertunjukan kerap dihubungkan dengan pengalaman riil dan kualitas memori yang menubuh (embodied memory). Dua hal ini merupakan hal esensial dari sebuah pertunjukan, karena tubuh individu menjadi medium transfer repertoar.​ Oleh karena itu, dalam mengkaji seni pertunjukan, perlu pemisahan tegas untuk mendapatkan akar pengetahuan masing-masing dari teori dan praktik.

Wayang kontemporer dijelaskan Miguel melalui kombinasi diagram dan teks berbentuk esai. Tujuannya agar elemen pertunjukan dapat dijelaskan secara sistematis dan komparatif. Dan di waktu bersamaan juga subjektif nan fleksibel. Sebenarnya, kombinasi ini tidak mudah, karena pengkategorian membuat penjelasan menjadi tersegmentasi dan tantangannya, narasi yang harus merekatkan itu semua berdasarkan pengalaman dan referensi.

“Beberapa pertunjukan direkam dan diterjemahkan ke Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris. Saya membuat metadata (informasi terstruktur) yang dikembangkan dari catatan dan wawancara dengan para dalang, ketika saya sedang menonton langsung maupun dari video. Muncul variabel yang seragam dari para dalang sebagai interpretasinya, antara lain boneka wayang, cerita, bahasa, musik, dan ruang,” kata Miguel.

Variabel-variabel ini menjadi pertimbangan utama para dalang ketika berpikir untuk mencari inovasi baru. Dengan kata lain, variabel ini menjadi bekal dalam bereksperimen merancang sesuatu yang kontemporer.

“Dan juga menjadi pintu masuk untuk dianalisis lebih jauh dengan bantuan software, ujar Miguel.

Disertasinya sendiri berbentuk digital interface yang memakai PhP, Python, dan JavaScript. Atas usahanya itu, Miguel mendapatkan penghargaan Wang Gungwu Medan and Prize untuk disertasi terbaik di bidang Humaniora dan Ilmu Sosial. ​

 

Pola-pola Persamaan dan Perbedaan

Pertunjukan “Cebolang Minggat” (2009) menceritakan seorang pemuda yang mengembara meninggalkan keluarganya untuk menemukan jati diri. Pengembaraannya sarat pengalaman moral, pemuasan berahi, hingga pengalaman spiritual. Di titik jenuh, Cebolang bertemu Gatoloco, si buruk rupa bertutur elok.

Slamet Gundono, sang dalang, duduk di tengah panggung. Di dekat kakinya terdapat nasi tumpeng berhias kondom. Goro-goro– lelucon-masuk dalam celetukannya.

Diagram Ceboleng Minggat memperlihatkan inovasi terjadi hampir di semua elemen pertunjukan (dilihat dari titik sudut yang berada di lingkaran tengah dan terluar)

 

Lewat analisa software, elemen pertunjukan “Cebolang Minggat” digambarkan mempunyai inovasi tertinggi pada cerita dan ruang. Pertunjukan wayang ini dilakukan tanpa kelir (layar untuk menangkap bayangan wayang) dengan jenis panggung bingkai (prosceni um arch), di samping eksplorasi cerita tentang anak muda yang sarat dengan konteks hari ini.

Elemen lain juga mengalami pembaruan. Sang dalang, Slamet Gundono dan Elizabeth Inandak, kerap masuk dalam adegan untuk memerankan sejumlah tokoh maupun membacakan fragmen dalam Bahasa Indonesia, Jawa, dan Prancis. Kombinasi ini disebut Miguel sebagai intermedial puppets, yang memunculkan interaksi berbeda, dilihat dari peran ganda sang dalang dan kombinasi wayang kulit dan golek.

Boneka wayang di “Wayang Mitologi” masih konvensional, namun di sisi lain dipadankan dengan musik eksperimental dan cerita modern.

 

Sementara pada “Wayang Mitologi” (2012) ciptaan Ki Catur Kuncoro, cerita dan musik merupakan elemen pertunjukan yang paling inovatif. Legenda Gunung Merapi menjadi premis utama pertunjukan ini.

Para Dewa menghalangi rencana Empu Rama dan Empu Permadi dalam menciptakan keris tersakti di dunia dengan mengubah persemayaman mereka menjadi sebuah gunung berapi. Dewa dalam pertunjukan ini ditampilkan sebagai kisah parade atas politikus korup, dan di saat yang bersamaan sang narator mengajak untuk peduli terhadap isu pemanasan global.

Elemen menonjol lainnya, tentu saja adalah musik yang menjadi ciri khas wayang Ki Catur Kuncoro, di mana dirinya terkenal dengan proyek Wayang Hiphop. Ia menegaskan bahwa musik wayang tidak terbatas pada gamelan saja, namun juga dapat diiringi dengan musik elektronik, eksperimental, dan hiphop. Pengalaman serupa dapat kita temui dalam “Wayang Raden Saleh” (Ananto Wicaksono) dan “Bungkusan Hati di dalam Kulkas” (Eko Nugroho).

“Pola seperti ini dapat dipakai untuk menganalisis data wayang kontemporer yang lebih banyak,” kata Miguel.

Dari kumpulan 24 pola, Miguel mengungkapkan bahwa secara garis besar  tidak ada pola dominan yang benar-benar berubah di wayang kontemporer.

“Inovasi terjadi rata pada masing-masing elemen pertunjukan. Beberapa dalang misalnya fokus memperbarui artistik, namun seringkali cerita mereka bernuansa tradisional,” ujar Miguel.

Misalnya, pertunjukan Aneng Kiswantoro berjudul “Sumpah Pralaya” yang memakai banyak perangkat teknologi dalam menceritakan epik tentang perang dan takdir.

“Arsip pertunjukan tidak bisa disebut ‘menonton pertunjukan’. Namun, saya setuju perlu dilakukan pengarsipan teater sebagai usaha dari pelestarian budaya. Rekaman-rekaman pertunjukan (Indonesia) banyak ditemukan di media social, namun sebagian besar kualitasnya buruk. Kita harus membuat standar data sebagai bagian dari manajemen arsip. Selanjutnya, lebih banyak orang mengkaji seni lewat analisis digital,” katanya.

Pola segi lima wayang kontemporer hasil analisis digital Miguel adalah penerapan dari disiplin Humaniora Digital (Digital Humanities), untuk membaca sejarah seni melalui algoritma data. Kalkulasi matematika dipakai dalam bidang kebudayaan yang cenderung kualitatif dan subjektif, untuk membaca fenomena dengan pola yang persistence (teguh).

Seperti yang dilakukan oleh Miguel, mengumpulkan sampel kecil wayang kontemporer di Jawa dan menyusunnya dalam kategori elemen pertunjukan dalam menemukan karakteristik tiap-tiap pertunjukan.

————

* Penulis berterima kasih kepada Lalitia Apsari dan Idaman Andarmosoko untuk penjelasan lebih jauh seputar Digital Humanities.

** Kunjungi disertasi interaktif Miguel Escobar di laman http://cwa-web.org/dissertation/wayang-dis/#

 

Referensi

Manovich, Lev. 2015. “Data Science and Digital Art History”. https://journals.ub.uni-heidelberg.de/index.php/dah/article/download/21631/15404.

Rusydi, Ibnu. 2009. “Pentas Cebolang Minggat”.

https://m.tempo.co/read/news/2009/02/23/113161540/pentas-cebolang-minggat.

Varela, Miguel Escobar. 2014. “Wayang Kontemporer: Innovations in Javanese Wayang Kulit”. Singapore: National University of Singapore.

Related posts