September 22, 2018

Duduk Melingkar di Lombok Utara

Pada 22-26 September 2017 lalu telah diselenggarakan Lingkar Seni Wallacea II di Lombok Utara. Apakah Lingkar Seni Wallacea II dan mengapa ia ada? Berikut tulisan Muhammad Sibawaihi dari Komunitas Pasirputih tentangnya.

Lingkar Seni Wallacea adalah sebuah platform bersama untuk menguatkan kerja jaringan serta pertukaran gagasan-gagasan kesenian dan kebudayaan Wilayah Timur Indonesia. Selain bertujuan sebagai kerja penguatan jaringan dan pertukaran gagasan, Lingkar Seni Wallacea bertujuan untuk meluaskan gagasan kreatif ke ranah sosial-kemasyarakatan, melibatkan masyarakat dalam gagasan kreatif dalam rangka merespon isu-isu terkini yang terjadi di Wilayah Timur Indonesia.

Setelah sebelumnya berkumpul dan kemudian terbentuk di Gorontalo di akhir tahun 2015, tujuan utama dari adanya Lingkar Seni Wallacea belum tergambar dengan jelas. Hal ini terlihat dari belum terdifinisikan dengan baik apa itu Lingkar Seni Wallacea, program kerjanya, lingkup kegiatannya dan seperti apa Lingkar Seni Wallacea sebagai sebuah wadah mengakomodir gagasan-gagasan kreatif dari berbagai tempat di Lingkar Wallacea.

Oleh karenanya, sesuai dengan kesepakatan bersama, maka para penggagas Lingkar Seni Wallacea ingin kembali berkumpul merencanakan dengan matang konsep kreatif yang ingin dibangun dan dikembangkan oleh Lingkar Seni Wallacea. Selain itu, para penggagas sepakat untuk membicarakan lingkup kerja Lingkar Seni Wallacea.

Maka, diputuskanlah Lombok sebagai tuan rumah pertemuan Lingkar Seni Wallacea II. Dalam hal ini, ditunjuklah Pasirputih sebagai organisator pertemuan tersebut. Kemudian, Pasirputih menggandeng berbagai pihak untuk mensukseskan pertemuan para seniman Lingkar Wallacea yang terdiri dari seniman dari: Pulau Sulawesi, Nusa Tenggara Timur, Kepulauan Maluku dan Nusa Tenggara Barat.

Adapun pertemuan  tersebut dilaksanakan pada 22-26 September 2017 di Kampung Ekowisata Kerujuk, Desa Pemenang Barat, Kecamatan Pemenang, Kabupaten Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat.

Konsep kegiatan Lingkar Seni Wallacea II adalah kemah seni. Diadakan di alam terbuka seperti amanah Lingkar Seni Wallacea I, yaitu agar kegiatan benar-benar berdampak kepada masyarakat sekitar.

Kegiatan yang dilakasanakan pada pertemuan Lingkar Seni Wallacea II antara lain: Simposium Lingkar Seni Wallacea, Pentas Lingkar Seni Wallacea, Be-Young Art Camp: Diskusi, workshop dan berbagai kegiatan lainnya.

Sedangkan acara utama Lingkar Seni Wallacea adalah Simposium Lingkar Seni Wallacea, yang menghadirkan pembicara-pembicara utama dari seniman-seniman yang ada di Lingkar Wallacea antara lain: Rudi Fofid (Maluku), Fadriah Syuaeb (Ternater), Mario F Lawi (NTT) Lani Koroh (NTT), Zulkili Junaedi (Gorontalo), Anwar Jimpe Rahman (Makassar), Shinta Febriani (Makassar), Muhammad Sibawaihi (Lombok), Kiki Sulistyo (Lombok). Selain itu, dalam simposium, Pasirputih juga mengajak beberapa pembicara dari luar Lingkar Wallacea seperti: Manshur Zikri (Forum Lenteng-Jakarta), Ila Syarifuddin (Jatiwangi Art Factory-Jawa Barat), dan Koalisi Seni Indonesia (Jakarta).

Persoalan yang coba dibicarakan di simposium Lingkar Seni Wallacea meliputi: kerja jaringan di Lingkar Wallacea, perkembangan seni kontemporer di Lingkar Wallacea, pembangunan dan pengembangan kesenian Lingkar Wallacea dan pemetaan serta pengarsipan seni Lingkar Wallacea. Dalam dialog-dialog kecil seniman selama proses simposium muncul juga beragam isu seperti isu desentralisasi, isu gender, isu lingkungan, pemabahasan UU Pemajuan Kebudayaan dan berbagai isu-isu seputar kesenian di Indonesia.

Sebagai sebuah pertemuan lanjutan dari pertemuan Lingkar Seni Wallacea I, Lingkar Seni Wallacea II cukup menarik untuk ditelaah melihat perkembangan seni di kawasan Lingkar Wallacea. Bagi banyak peserta, meski pertemuan Lingkar Seni Wallacea II diadakan dengan konsep yang sederhana, namun esensi dari apa yang diharapkan oleh para penggagas sudah tercapai. Apalagi untuk Lingkar Seni Wallacea II ini, muncul lebih banyak seniman dari Lingkar Wallacea. Hal ini menandakan bertambah pula jaringan kerja di Lingkar Wallacea.

Selain itu, pertemuan Lingkar Seni Wallacea juga merangkum beberapa rekomendasi yang selanjutnya akan dibahas panjang lebar di Lingkar Seni Wallacea III yang disepakati akan dilaksanakan di Maluku.

Terselenggaranya dengan baik Lingkar Seni Wallacea II, tidak terlepas dari peran serta dukungan dari Koalisi Seni Indonesia, yang sudah membantu kegiatan ini baik secara moril maupun materil. Secara khusus di sini, kami ingin sampaikan terimakasih yang sedalam-dalamnya kepada Koalisi Seni Indonesia. 

Related posts