Juni 27, 2017

Festival Teater Pelajar di Lampung Minim Dukungan Pemerintah

IMG_0658

Festival Teater Pelajar di Lampung yang diadakan oleh Teater Satu sudah menginjak kali ke enam pada 2014, namun dukungan pemerintah masih minim. Bukan hanya dari segi pendanaan, tapi juga dari segi infrastruktur. Kondisi Teater Budaya Lampung yang biasanya digunakan untuk pagelaran festival, buruk dan kurang terawat. Di beberapa sudut gedung, plafon sudah rusak dan cat dinding gedung mulai lusuh. Dalam kondisi seperti ini, sebenarnya Taman Budaya Lampung sudah tak layak pakai. Tapi, Teater Satu tak punya banyak pilihan.

Menurut dosen program studi Arsitektur Universitas Lampung, Shubiyudha-dalam sebuah artikel di lampungheritage.com[1]– membangun gedung kesenian memang sedikit rumit. Ruang sirkulasi artis dan pengunjung harus diperhatikan agar tidak mengganggu selama pertunjukan berlangsung. Selain itu, tata suara pun harus bagus. Ruang pertunjukkan wajib mengadopsi sistem kedap suara. Jadi, suara yang di dalam tidak bocor ke luar, begitu juga sebaliknya.

Bukan hanya itu. Menurut Yudha, jika berbicara kondisi ideal, sebenarnya pembangunan gedung kesenian tidak melulu tentang media apresiasi seni. Jika merujuk pada gedung kesenian di luar negeri, sebuah gedung kesenian biasanya dilengkapi dengan ruang workshop, tempat lelang, mal, kafe, hingga tempat penjualan aksesori. Sehingga, sebuah gedung kesenian bisa menjadi pusat kegiatan seni masyarakat seutuhnya. Ini yang tidak dimiliki oleh Taman Budaya Lampung.

“Memang masalah klasik soal anggaran. Tapi, kita terus berusaha merawat dan memperbaiki. Tapi, kalau untuk APBD ya berat,” ungkap Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Lampung, Gatot Hudi Utomo, dalam sebuah artikel berita yang dimuat di lampost.co[2]. Ini artinya pihak dinas harus mengusahakan dana dari pemerintah pusat. Untungnya, kabar baik muncul: revitalisasi Taman Budaya rencananya akan dilakukan pada 2015 dengan menggunakan dana APBN yang disalurkan melalui Dirjen Kebudayaan. Sayang, besaran dana yang dikucurkan masih belum diketahui pasti jumlahnya.

Menariknya, meskipun tidak didukung oleh infrastruktur yang memadai, Festival Teater Pelajar-sejak tahun 2009 lebih dikenal dengan Student On The Stage-tetap berjalan meriah. November 2014 lalu, penonton muda yang memadati Taman Budaya Lampung berjumlah ratusan tiap harinya. Selain itu, jumlah peserta festival pun meningkat. Terhitung ada 15 teater sekolah dari berbagai SMA yang ada di Bandar Lampung, Metro, Pesawaran, Pagelaran, Bengkulu, Palembang, dan Solo, Jawa Tengah, ikut serta dalam festival ini.

Jika menengok sedikit ke belakang, ada sebab peminat festival ini begitu besar. Festival ini terbentuk secara organik. Teater Satu sudah menginisiasinya sejak empat belas tahun lalu. Berawal dari program sederhana bernama Forum Teater Halaman, Teater Satu merangkul dengan ramah teater-teater sekolah di Bandar Lampung untuk belajar teater bersama. Teater Satu pun memfasilitasi pementasan mereka dan mengajarkan manajemen keuangan produksi lewat program Arisan Teater Sekolah, sehingga teater-teater sekolah memiliki kemampuan swasembada dana. Ini artinya kedekatan personal antara Teater Satu dan teater-teater sekolah di Bandar Lampung sudah terjalin sangat lama. Hingga kemudian, ketika Festival Student On The Stage mulai aktif di tahun 2009, pelajar sekolah tahu peran mereka: ikut serta, mengapresiasi, lalu belajar darinya.

“Ada banyak hikmah yang didapat dari event ini: pelajar memiliki pengalaman yang sangat signifikan bagi perkembangan kepribadian mereka—dari soal meningkatnya wawasan artistik, bekerja dalam tim, peningkatan kapasitas intelektual, dan lain sebagainya. Lebih dari sekadar teori-teori tentang kesenian seperti yang selama ini biasa mereka dapatkan di dalam kelas, Festival Teater Pelajar Nasional ini juga memberikan pengetahuan yang paling penting, yaitu pengalaman berpraktik,” tulis Ari Pahala Hutabarat, seorang pengamat teater asal Kemiling, dalam artikelnya berjudul Usaha Menyelamatkan Peradaban di Lampung Post edisi 16 November 2014.

Kalau sudah begini, pemerintah seharusnya lebih peduli: jalankan revitalisasi Taman Budaya di tahun 2015. Beri kesempatan bagi para pelajar untuk mengembangkan diri lebih jauh, hingga menjadi manusia yang beradab. Toh, bukankah itu yang dicita-citakan dalam undang-undang?

Sumber:

[1] http://www.lampungheritage.com/khaslampung/seni/153-rumitnya-standar-untuk-gedung-kesenian

[2] http://lampost.co/berita/disbudpar-tunggu-apbn-perbaiki-taman-budaya

Related posts