Juni 27, 2017

Jejak Maesenas dalam Seni Indonesia oleh Anastha Eka

oleh: Anastha Eka

Mana mungkin kita bisa berpentas kalau tidak ada uang,” begitu tanggapan W.S. Rendra mengenai dana sponsor yang diterimanya dari pengusaha-pengusaha Indonesia. Pernyataan yang dikutip dari artikel surat kabar Berita Buana tanggal 12 September 1989 itu menggambarkan pentingnya sokongan dana untuk menghidupi kesenian. Namun, hasil penjualan karya atau pementasan seni semata seringkali tak dapat mencukupinya sehingga kedermawanan para maesenas menjadi amat penting.

Perkembangan seni budaya di Indonesia tak bisa dipisahkan dari peran para maesenas, atau patron kesenian. Tak hanya mengoleksi benda-benda seni, seorang maesenas juga berperan sebagai pengayom dan pelindung bagi seniman. Kedermawanan seorang maesenas diwujudkan dalam bentuk finansial, moral, fasilitas, bahkan waktu dan tenaganya demi menjaga kelangsungan kegiatan penciptaan seni.

Jauh sebelum kemerdekaan Indonesia, maesenas seni di negeri ini identik dengan raja-raja dan kaum bangsawan penguasa suatu daerah. Seorang raja sebagai sosok pemimpin memang berkewajiban menjaga keberlangsungan hidup segenap rakyatnya, termasuk para seniman. Maka, sudah selayaknya para raja menjalankan peran sebagai patron kesenian.

Seni bagi kalangan priyayi dan golongan kaya pada umumnya juga dipandang sebagi simbol prestise, menunjukkan sebuah gaya hidup yang berbudi halus dan luhur. Menjaga keberlangsungan kegiatan seni berarti menjaga kedudukan mereka sebagai panutan hidup yang layak bagi rakyatnya.

Pada awal abad ke-19, keraton-keraton di Cirebon telah melakukan praktik patronase yang kini mungkin telah punah di negeri ini. Dalam buku Wayang Wong Priangan, Iyus Rusliana memaparkan bagaimana terhormatnya para seniman pelaku wayang wong atau wayang topeng Cirebon. Para seniman rakyat pelaku wayang topeng diangkat menjadi abdi dalem dan diberi tanah garapan. Para dalangnya diberi gelar kebangsawanan – ada yang diberi gelar Ngabehi, bahkan gelar Ki atau Kyai.

Wayang topeng Cirebon pernah menjadi pertunjukan seni yang sangat dicintai oleh keraton-keraton Cirebon sehingga senimannya mendapat penghormatan yang tinggi. Tidak hanya dipentaskan di dalam tembok istana, pihak keraton juga mendorong pengembangan wayang topeng Cirebon untuk dipentaskan di desa-desa. Segala dukungan ini memungkinkan para seniman untuk menyebarkan seni topeng Cirebon ke daerah Priangan seperti Sumedang, Garut, Bandung, dan Tasikmalaya.

Karena mengandung nilai yang tinggi, seni budaya juga menjadi jalan diplomasi pihak penguasa untuk memenangkan simpati pihak-pihak tertentu. R.A.A. Martanegara, seorang Bupati Kabupaten Bandung (1893 – 1918) yang berasal dari Sumedang – juga dikenal sebagai maesenas dan sastrawan Sunda – melakukannya untuk membina hubungan baik dengan elite birokrasi dan bangsawan asli Bandung. R.A.A. Martanegara memanfaatkan sebagian ruang dalam kompleks kabupaten sebagai tempat pementasan tari, karawitan, dan sandiwara. Para elite birokrasi dan bangsawan pribumi diundang untuk menikmati pertunjukan seni secara rutin di tempat yang disebut Bale Kabudayaan Priangan (Balai Kebudayaan Priangan) ini.

Meski terkadang bermuatan politis, tak dapat dipungkiri bahwa perhatian dan pembinaan oleh para penguasa sangat berpengaruh pada kemajuan seni budaya. Seorang Raja Klungkung pada abad ke-17, Dewa Agung Jambe, adalah seorang patron bagi para seniman, terutama para pelukis, yang pada masa itu berpusat di Desa Kamasan. Dewa Agung Jambe menugaskan seorang sangging (maestro) bernama I Gede Mersadi dari Kamasan untuk membuat lukisan wayang dengan tokoh Mahapatih Modara.

Keberhasilan I Gede Mersadi mengekspresikan tokoh dalam lukisan itu membuat sang raja mengirimnya ke kerajaan-kerajaan bawahan Klungkung, seperti Gianyar, Karangasem, Mengwi, Badung, dan Bangli untuk menghias pura dan istana raja. Dukungan Dewa Agung Jambe tersebut menjadi puncak perkembangan seni lukis wayang Kamasan.

Sejarah juga telah lama mencatat patronase raja-raja Jawa, terutama keraton Yogyakarta dan Surakarta. Nama-nama seperti Mpu Sedah, Mpu Panuluh, dan Ronggowarsito, telah lahir dari pengayoman yang diberikan raja-raja tersebut. Raja Mangkunegara V dari Surakarta bahkan pernah mengirim empat penari kerajaan dalam misi kesenian tradisional . Di sana kesenian tradisional dipamerkan sebagai identitas bangsa, menyadarkan para Orientalis akan peradaban Timur yang halus dan tinggi.

Pesatnya industrialisasi yang terjadi pada abad ke-19 dan 20 memperluas peran patronase ke luar tembok istana. Kaum pengusaha sebagai pemilik modal muncul sebagai patron-patron kesenian di luar lingkungan kerajaan. Sebagian besar pengusaha yang menaruh perhatian pada seni dan budaya ini berasal dari kaum Tionghoa. Oei Tiong Hoam, saudagar gula dan candu dari Semarang, adalah salah satu pengusaha yang menaruh perhatian besar terhadap kegiatan seni budaya di Jawa Tengah.

Selain Oei Tiong Ham, tercatat juga nama Gan Kam, seorang pengusaha dari Solo sebagai maesenas seni pertunjukan wayang wong di Jawa Tengah. Gan Kam datang menawarkan bantuan pengembangan seni wayang wong kepada Mangkunegara V sebagai patron seni saat itu, yang tengah mengalami kesulitan keuangan akibat gagalnya panen kopi dan meruginya pabrik tebu milik keraton. Kesulitan keuangan mengakibatkan berkurangnya banyak kegiatan seni di lingkungan istana.

Gan Kam menawarkan solusi untuk mengembangkan seni wayang wong di luar istana. Wayang wong yang awalnya dipentaskan sebagai ritual keraton, dikemas dalam bentuk yang lebih sederhana sesuai kebutuhan khalayak umum. Para perempuan pun mulai mengambil peran dalam pementasan. Hasilnya, wayang wong yang hampir punah dapat dihidupkan kembali, bahkan dikembangkan menjadi pertunjukan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Kemerdekaan Indonesia kembali membawa perubahan dalam tata masyarakat yang pada akhirnya mempengaruhi patronase seni. Kekuasaan raja-raja dan kaum bangsawan semakin mengecil akibat perubahan bentuk negara menjadi republik. Untungnya, Soekarno sebagai presiden pertama Indonesia menyadari betul kewajibannya sebagai pemimpin, yaitu memastikan keberlangsungan segala sendi yang menopang kehidupan bangsa, termasuk kesenian.

Sejak muda, Soekarno memang telah menaruh perhatian yang besar terhadap seni dan budaya. Sebuah pameran karya seni dari hasil kolaborasi seniman Jepang dan Indonesia pernah digagasnya pada 1942, diikuti dengan didirikannya lembaga kebudayaan Keimin Bunka Sidosho. Soekarno melanjutkan peran sebagai maesenas utama seniman Indonesia saat menjadi presiden.

Kala itu, koleksi lukisan dan patungnya menghiasi Istana Negara, menjadikannya bak galeri seni. Saat menjamu tamu-tamu negara, Soekarno mengajak para tamu menikmati keindahan karya seni Nusantara. Soekarno juga kerap mengundang para seniman ke istana atau langsung bertandang ke studio mereka untuk berdialog tentang perkembangan seni. Belum ada pemimpin Indonesia lain yang dapat menyamai besarnya peran Soekarno sebagai maesenas seni.

Lagipula, peran maesenas modern kini tidak lagi dijalankan oleh sosok pemimpin sebagai individu. Penelitian PIRAC pada 2009-mengutip Umar Kayam-bahwa peran ini untuk sementara diambil oleh pemerintah umum dan yayasan-yayasan, badan-badan swasta yang memiliki fasilitas dan alokasi dana untuk pengembangan seni. Pergeseran peran ini membuka jalan bagi munculnya maesenas-maesenas baru dengan beragam apresiasi dan potensi pengembangan seni.

Di sisi lain, muncul ketidakpastian akan kehadiran peran maesenas yang dapat merisaukan para seniman. Tanpa pengayom-pengayom kesenian ini, para seniman akan terpaksa berdiri di kaki sendiri. Mereka akan terpaksa berhadapan dengan masalah pendapatan dan kelangsungan hidup, yang pada akhirnya menghambat kegiatan penciptaan dan pengembangan seni. ***


Sumber bacaan:

Agus Dermawan T., “Bung Karno Super Patronis”, dalam Bukit-Bukit Perhatian: Dari Seniman Politik, Seniman Palsu Sampai Kosmologi Bung Karno, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2004.

Cok Hendro, Pameran Biennale Berakhir Tanpa Akhir, Berita Buana, 12 September 1989.

Djuli Djatiprambudi, Melunasi Gagasan Bung Karno, Jawa Pos, 21 Agustus 2016.

Edi Sedyawati, Pertumbuhan Seni Pertunjukan, Sinar Harapan, Jakarta, 1981.

I Wayan Mudana, Transformasi Seni Lukis Wayang Kamasan pada Era Postmodern di Klungkung Bali, Disertasi Doktor pada PPS Universitas Udayana, tidak diterbitkan, Denpasar, 2015.

Iyus Rusliana, Wayang Wong Priangan, Kiblat, Jakarta, 2002.

Nina Herlina, Bupati R.A.A. Martanegara: Studi Kasus Elite Birokrasi Pribumi di Kabupaten Bandung (1893-1918), Tesis pada FPS Universitas Gajah Mada, tidak diterbitkan, Yogyakarta, 1990.

PIRAC, Filantropi dan Mobilisasi Sumber Daya untuk Pengembangan Seni Budaya, PIRAC, Jakarta, 2009.

Sumarsam, Dualisms in the Formative and Transformational Processes of Javanese Performing Arts, dalam Freer Sackler Research: Performing Indonesia, http://www.asia.si.edu/research/performing-indonesia/article-sumarsam.php.

 

 

 

 

 

Related posts