Agustus 24, 2017

[Kabar Anggota] Menggelorakan Semangat Sastra dan Teater di Maumere

Pada 29 Oktober 2016, Divisi Sastra dan Budaya, Senat Mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Nusa Tenggara Timur, mengadakan even kesenian bertajuk “Menyimak Realitas Sosial lewat Seni Sastra dan Teater.” Acara ini diadakan berawal dari kesadaran, banyak mahasiswa STFK Ledalero aktif berpartisipasi dan mengapresiasi sastra dan teater.

Acara yang diadakan selama sehari penuh ini menghadirkan lokakarya teater “Olah Tubuh dan Gerak”, seminar sastra “Membaca Pramoedya”, peluncuran buku sastra, dan pentas teater.

Lokakarya teater “Olah Tubuh dan Gerak” menghadirkan seniman tari sekaligus dosen di Institut Seni Indonesia Yogyakarta, Iwan Dadijono, dan pegiat teater di Komunitas Teater Perempuan Biasa Kupang, Linda Tagie. Linda juga termasuk anggota Koalisi Seni Indonesia.

Pesertanya yang berjumlah 30 orang tak hanya mahasiswa STFK Ledalero saja, tapi juga guru kesenian dan anggota sanggar di wilayah Maumere. Di akhir lokakarya, Iwan mementaskan sebuah tarian yang terinspirasi “O Vos”, sebuah nyanyian ratapan pada prosesi Jumat Agung di Larantuka.

Dalam diskusi sastra “Membaca Pramoedya”, sosok Pramoedya Anantar Toer dan karya-karyanya dipilih sebagai model inspirasi, pembelajaran, dan refleksi. Realisme sosial dalam karya-karya Pram menjadi cerminan menarik untuk memandang kembali nilai-nilai kemanusiaan dan kebangsaan yang masa kini.

Diskusi itu menghadirkan Gusty Fahik dan Romo Inocentius Mansur, dengan moderator Peter Than. Dalam makalahnya, Membedah Wacana Kekuasaan Bersama Pramoedya Ananta Toer, Gusty Fahik mengambil inspirasi Arok Dedes karya Pram untuk membongkar konstelasi kekuasaan otoriter yang terkait dengan konstruksi pengetahuan, yang menjadi penyebab krisis multidimensional selama bertahun-tahun.

Sementara itu, Romo Inocentius Mansur dalam makalahnya berjudul Sastra sebagai Advocatus Diaboli menekankan keberpihakan sastra di realitas sosial. Romo Ino menyoroti sastra yang ideal di NTT, dalam menanggapi realitas masyarakat NTT dengan segala ketimpangan yang ada.

“Sastra NTT mesti selalu berdiri pada posisi orang-orang kalah, orang-orang yang tertindas. Singkat kata, sastra mesti selalu memiliki kepedulian sosial-politik. Dengan demikian, sastra NTT dapat diharapkan serentak diandalkan untuk menjadi sarana liberatif,” kata Romo Imo.

Selanjutnya, diluncurkan buku kumpulan puisi karya mahasiswa STFK Ledalero, yakni Mausoleum karya Erich Langobelen dan Minggu Pagi karya Ardi Suhardi. Mausoleum dibedah oleh Fr. Ino Koten. Menurut Ino, Mausoleum adalah karya yang mencoba mengeksplorasi pengalaman kesendirian, doa, pencarian diri, dan kerinduan akan cinta. Mausoleum juga berani merefleksikan tradisi-tradisi lokal Lamaholot─salah satu komunitas masyarakat yang ada di Kabupaten Flores Timur─dalam pembacaan yang kritis dan visioner.

Direktur Penerbit Carol Maumere (PCM), Hendrik P. Bezho, yang juga menjadi pembedah dalam peluncuran buku ini menyampaikan apresiasinya kepada para penulis muda yang berani berkarya dan mempublikasikan karya mereka, di tengah masyarakat dengan tradisi literasi yang begitu lemah.

Menurut ketua pelaksana kegiatan ini, Fr. Ge Mario, peluncuran buku bermaksud menularkan spirit berkarya kepada segenap mahasiswa STFK Ledalero dan para pemuda di Maumere.

Keseluruhan acara berpuncak di pentas teater yang melibatkan beberapa komunitas, seperti Komunitas Teater Perempuan Biasa Kupang, Teater Tanya Ritapiret, Teater Aletheia Ledalero, Komunitas KAHE, SMAS John Paul II, SMAK Bhaktyarsa Maumere, dan SMAK Frateran Maumere. Linda Tagie dari Teater Perempuan Biasa Kupang mementaskan monolog “Panggil Aku Perempuan”.

Ia mencoba menegaskan eksistensi perempuan dalam masyarakat patriarkal yang cenderung diskriminatif. Linda mengeksplorasi tubuhnya yang diikat dengan tali putih sebagai simbol kekangan dari perspektif patriarkal. Linda juga menggunakan properti kursi, kipas angin, gunting, dan kain merah yang digunakan untuk menyampaikan pesan emansipatif.

Gunting digunakan untuk memutuskan tali yang mengikat tubuhnya setelah menari sekitar tujuh menit dalam keadaan terikat. Kipas angin digunakan untuk membantu menerbangkan kain merah, yang salah satu ujungnya dililitkan di bahu. Linda menjelaskan bahwa gunting melambangkan laki-laki yang harus memberi sedikit kebebasan kepada perempuan untuk berkarya. Kain merah melambangkan keberanian yang harus dimiliki perempuan untuk memberi pengertian kepada laki-laki bahwa kebebasan tidak menjadikan perempuan liar dan susah diatur. Sedangkan kursi melambangkan perempuan juga berhak mendapat kedudukan yang sama dengan laki-laki.

Acara  “Menyimak Realitas Sosial lewat Seni Sastra dan Teater” ini digelar sebagai usaha menjawab pertanyaan-pertanyaan substansial yang dilematis, perihal kedudukan kesenian di tengah masyarakat dengan segala persoalannya. Acara ini diarahkan kepada peran sastra dan teater, sebagai media untuk menggambarkan, mengkritisi, dan merefleksikan realitas sosial, serta perubahan-perubahan di dalamnya. Selain itu, kegiatan ini juga dimaksudkan sebagai upaya merenungkan kembali spirit Sumpah Pemuda 88 tahun silam.

Penulis: Linda Tagie | Editor: Fandy Hutari

sumber foto: facebook Festival Ledalero

Related posts