Desember 12, 2018

“Kami Generasi Melompati Fase!”

Anak muda pegiat seni di Lombok ingin mengembangkan kapasitas komunitasnya. Berjejaring dan penggunaan arsip diyakini dapat menjadi langkah awal. 

Sebanyak tujuh belas orang anak muda berkumpul sejak pagi hari di Kantor Camat Bangsal, Malimbu, Lombok Utara. Mereka adalah perwakilan komunitas seni yang tersebar di berbagai kota di Lombok; seperti Ideaksi,  Teater Putih, Excelsior Dance Project, Club Baca Perempuan, Dewan Anak Mataram, dll. Mereka datang untuk mengikuti Lokakarya Pengelolaan Gerakan dan Pengetahuan Kesenian yang diadakan pada 22-23 Februari 2016 oleh Koalisi Seni bekerjasama dengan Komunitas Pasir Putih, organisasi nirlaba yang bergiat di pengembangan seni dan studi sosial budaya. Kegiatan ini merupakan bagian dari program Cultural Hotspot yang sedang dijalankan.

Diskusi tentang seni dan isu sosial politik menjadi sesi pembuka di hari pertama. Aquino Hayunta, koordinator program Koalisi Seni Indonesia, bertindak sebagai fasilitator lokakarya. Isu seputar masalah sensor, kebebasan berekspresi, dan fungsi seniman di dalam dunia sosial dibicarakan oleh teman-teman Lombok. Aquino mempresentasikan kebebasan berekspresi dengan latar era Reformasi di Indonesia, yang juga dibandingkan dengan era Orde Baru.

Dalam prosesnya, peserta setuju dengan peran seni yang dapat menjadi medium komunikasi dalam mengkritisi masalah sosial yang ada. Menurut mereka, posisi seni secara umum dapat diterima oleh masyarakat. Mereka melihat bahwa situasi masyarakat hari ini yang cenderung mengarah ke tindakan intoleransi membuat kesenian menjadi salah satu alat untuk menanggapi situasi tersebut. Meskipun tentu, hal ini tergantung pada pilihan seniman, apakah masalah sosial tersebut akan ditindak sebagai karya, atau malah menjadi gerakan.

Di Lombok, pembagian peran dan gerakan anak muda masih berjalan sendiri-sendiri. Jejaring antar komunitas belum terbangun sebaik itu. “Komunikasi di internal komunitas juga belum maksimal. Kami butuh seseorang yang mampu berbicara dengan baik”, ujar salah satu peserta dari sisi kanan.

Hambatan berjejaring ini dikarenakan faktor jarak dan transportasi. Akibatnya, capaian wilayah kegiatan belum demikian luas, sehingga komunikasi hanya mengalir di lingkungan internal saja. Dialog di antara mereka pun hanya terjadi di masing-masing disiplin seni.

Grace Paramitha, pegiat isu anak muda dan juga pengajar komunikasi di London School of Public Relation (LSPR) menjadi pemateri di sesi kedua. Ia memberi panduan cara berkomunikasi dengan pemangku kepentingan maupun sponsor untuk membuka akses kerjasama dan peningkatan kapasitas komunitas seni. Para peserta pun diminta untuk mempresentasikan kegiatan komunitas masing-masing, di mana Grace akan mencoba mengenali permasalahan komunikasi tiap komunitas seni dalam mempresentasikan dirinya.

“Seniman biasanya punya masalah dalam berkomunikasi. Mereka memang mempunyai ‘kode komunikasi’ sendiri, yaitu melalui karya-karya mereka”, celetuknya dalam perjalanan menuju tempat acara.

Yoshi Fajar dan Pitra Ayu dari Indonesian Visual Art Archive (IVAA) di hari kedua menjelaskan bagaimana arsip dapat digunakan untuk melihat persoalan di masyarakat. Dari informasi yang terkandung dalam arsip, kita dapat memetakan situasi apa saja yang terjadi.

“Perspektif mengenai arsip harus diubah. Pada dasarnya, arsip mengalami perkembangan sesuai dengan gerak kebudayaan. Ia tidak hanya mendukung fungsi publikasi”, jelas Yoshi Fajar seolah membuat kesimpulan dasar tentang jejak pengarsipan di Lombok.

Sebagian besar praktik pengarsipan yang dilakukan teman-teman di Lombok adalah pendokumentasian karya dan kegiatan lain dalam bentuk foto, video, atau tulisan. Salah satu komunitas seni yang memanfaatkan arsip secara berbeda adalah Teater Sasentra dari Universitas Muhammadiyah Mataram yang telah menggunakan arsip sebagai referensi pementasan. Mereka berhasil membuat lakon adaptasi Anton Chekhov berjudul “Orang Kasar (The Bear)” dengan mencari naskah lakon beserta biografinya. Hal tersebut memperlihatkan fungsi arsip yang lain, yakni membantu proses penciptaan.

Berdasarkan pernyataan teman-teman di Lombok, masalah dasar mereka adalah minimnya pemahaman tentang pengetahuan dasar seni sekaligus teknik disiplin seni masing-masing. Mereka dihadapkan pada minimnya data sejarah lokal dan akses buku yang terbatas, ditambah tidak ada jaringan yang intens antara pelaku seni tua-muda.

“Kami menjadi generasi muda yang ‘melompati fase’, sehingga harus belajar sendiri,” ujar salah satu peserta. [TJA]

Related posts