Desember 14, 2017

Loading Event

« All Event

  • This event has passed.

Preview Pameran Seni Komik Teguh Santosa

24 Mei 2015

teguh santosa 3
Teguh Santosa (1942-2000), salah satu komikus terbaik Indonesia asal Jl. Anjasmoro 10 RT 7/RW 2, Kepanjen. (dok. Dhodi Syailendra)

 

Malang.

Masyarakat Malang Raya di bulan Mei 2015 dapat menyaksikan kembali komik karya Teguh Santosa (1942-2000), salah satu komikus terbaik Indonesia asal Jl. Anjasmoro 10 RT 7/RW 2, Kelurahan Kepanjen, Kecamatan Kepanjen, Kabupaten Malang. Preview Pameran Seni Komik Teguh Santosa akan diselenggarakan pada hari Minggu, 24 Mei 2015 pukul 10 pagi di Warung Juminten Jl, Kahuripan 18 Kota Malang. Selain kenduri budaya, juga diadakan selamatan penerbitan kembali komik Trilogi Sandhora karya Teguh Santosa di tahun 1969.

Dhany Valiandra, putra kedua pasangan komikus Teguh Santosa dan Sutjiati, mengatakan bahwa Preview Pameran Seni Komik Teguh Santosa merupakan langkah awal menuju Pameran Seni Komik Teguh Santosa, Restrospeksi 1965-2000 di Malang.” Setelah karya komik Bapak dipamerkan di Singapura dan Jakarta, kami keluarga besar komikus Teguh Santosa ingin menggelar pameran seni komik Teguh Santosa di Malang sebagai asal muasal Bapak. Untuk Sebuah Ijab yang Sah, karya seni komik Teguh Santosa akan bertemu dengan para murid, sahabat dan pembaca komik Teguh Santosa”.

Rumah komikus Teguh Santosa di Jl. Anjasmoro 10 RT 7 RW 2 Kepanjen, pada tahun 80-an, pernah menjadi sentra pasar komik Indonesia. Demikian penjelasan Dhany Valiandra yang kini menetap di Yogyakarta.  “Dalam preview Pameran Seni Komik Teguh Santosa  di Warung Juminten, Malang, 24 Mei 2015, kami akan menghadirkan meja kerja Teguh Santosa saat mengerjakan karya-karya komiknya.  Juga remastered  Trilogi Sandhora karya Teguh Santosa akan kami suguhkan.” 

“Waktu menggarap Sandhora, kan pakai model ibu dengan wignya (rambut palsu),” kata Dhani Valiandra, putra kedua Teguh Santosa (sisipan Iqra Majalah Tempo edisi 30 Agustus 2009). Ritual Teguh Santosa sebelum menggambar adalah menyeruput secangkir kopi kental di pagi hari, buatan istri tercinta, Sutjiati. Mereka saling mengenal ketika duduk di bangku sekolah menengah atas, lalu menikah dan dikaruniai empat anak.

sandhora-horz
Sandhora (1969) adalah komik karya Teguh Santosa yang paling popular, terinspirasi film Angelique. (dok. Dhodi Syailendra)

Sandhora adalah karya Teguh Santosa yang paling populer. Ini komik trilogi roman sejarah. Bagian pertama Sandhora, terbit pada 1969, terinspirasi film Angelique. Episode kedua berjudul Mat Roman (1971), dan episode penutupnya Mencari Mayat Mat Pelor (1974).

Menurut Seno Gumira Ajidarma, Teguh Santosa adalah komikus yang secara teknis paling sempurna diantara komikus seangkatannya. Teguh Santosa serius menggarap karya-karyanya dengan riset yang kaya. “Misalnya, dia bisa menggambarkan dengan tepat pistol dari masa Portugis,” kata wartawan yang memperoleh gelar doktor dengan disertasi tentang komik ini. “Atau bagaimana pengetahuannya tentang geopolitik memungkinkan dia menyisipkan gagasan tentang pembangunan terusan di Semenanjung Kra (daratan sempit yang menghubungkan Semenanjung Melayu dengan daratan Asia).”

Pendeknya kata Seno Gumira Ajidarma, Teguh Santosa”bukan komikus biasa”.  


 

Tentang Teguh Santosa

Komikus Teguh Santosa lahir di Malang, 1 Februari 1942. Dari ayahnya Soemarmo Adji dan ibunya Lasiyem, bakat seni menetes dalam darahnya. Kedua orang tuanya adalah pemilik grup kesenian ketoprak tobong “ Krido Sworo” pada waktu itu. Ayahnya pula yang berperan sebagai pelukis “tonil” panggung ketoprak, sedangkan ibunya adalah pemain ketoprak. Ia menamatkan pendidikannya di SD Kauman, SMP 2, SMA 4 Malang dan belajar melukis secara otodidak. Tahun 1966, ia hijrah ke Yogyakarta bergabung dengan Sanggar Bambu. Ia berguru pada Kentardjo, Soenarto PR dan sastrawan Kirdjomulyo pada waktu itu.

(dok. Dhodi Syailendra)
(dok. Dhodi Syailendra)

Sebelum jadi komikus, Teguh pernah bekerja sebagai illustrator di majalah mingguan. Rintisan karirnya telah dimulai sejak SMP kelas 2. Saat itu, ia banyak melihat karya illustrator di majalah “Terang Bulan” dan majalah luar negeri. Sejak itu pula, keinginannya menjadi illustrator makin kuat. Perkenalannya dengan orang-orang media mengantarkan karya ilustrasinya menghiasi majalah Gelora, Si Kuntjung, dan Post Minggu.

Dalam proses awalnya Teguh mengaku terpengaruh gaya ilustrasi Ekayana Siswoyo dan Nasjah Djamin, sampai akhirnya ia temukan gaya sendiri. Lebih dari seratus judul komik telah ia garap. Beberapa diantaranya, adalah naskah SH Mintardja, Kho Ping Ho, RA Kosasih, Arswendo Atmowiloto.

Di era 70-an, karya komik roman sejarahnya, Sandhora, telah menempatkan namanya dalam jajaran komikus papan atas di Indonesia. Website komikindonesia.com mencatat  86 judul karya komiknya. Mencari Mayat Mat Pelor, Mat Romeo, Tambusa, trilogi Badai dan Asmara di Teluk Tiram, Kraman, Sang Nagasasra, Kuil Loncatan Setan, The Godfather 1800, El Maut di Mata Dewa, Tragedi Dua Asmarawan, Satria Kilat Kejora, Istana Darah,  Gitanjali, Anyer Panarukan, Cokro Manggilingan, Suling Perak Naga Iblis, Gerombolan Barong Mataram, Pendekar Pilihan Dewa, Majapahit Membara adalah sebagian dari judul komik karya Teguh Santosa. Teguh pun terus bergerilya bersama teman-teman seperjuangannya Jan Mintaraga, Ganes TH, Djair, Wid NS, Hasmi, untuk terus memanjakan penggemarnya.

Tanpa disadari, lewat karya-karyanya Teguh telah memberi satu citra kuat terhadap komiknya saat itu. Pergulatan dengan komik yang ditekuninya telah menjadi bagian penelitian Marcel Boneff (peneliti komik  Indonesia dari Perancis), saat pertama ia melakukan penelitian di Indonesia tahun 1974.

Perjuangannya terasa dihargai dan mendapatkan tempat ketika penulisan Ensiklopedia Indonesia dimulai. Namanya tercantum di bab komik.

Perkenalannya dengan David Ross pelukis komik asal Canada tahun 1993 menyeretnya untuk hengkang bergabung dengan Marvel Comics (sindikasi komik terkemuka di AS dan komik Canada). Ia pun terlibat di  Gauntlet Comics, dapur pembuatan serial Conan, Spiderman, The Phunysher sebagai ‘ink-man’. Karya cemerlangnya pun mulai diperhitungkan oleh Marvel Comics. Ia dipercaya menggarap serial Conan, Alibaba dan Piranha.

teguh santosa 7
Abdul Malik, penulis, di depan rumah komikus Teguh Santosa di Jl. Anjasmoro 10 RT 7/RW 2, Kepanjen, Kabupaten Malang (dok. Abdul Malik)

Teguh telah mengabdikan seluruh hidupnya untuk komik. Barangkali ia adalah “Ruh” komik di jagad seni rupa kita. Di saat-saat terakhir hidupnya, ia masih setia dengan kertas dan pensil di tangannya. Mencoba bertahan untuk menyelesaikan karya komik sebuah harian yang tinggal beberapa episode lagi, hingga goresan terakhir, tak lagi mampu diselesaikan karena penyakit kanker ganas telah menyerang tangannya. Teguh hanya menanti ajal tiba, bak sebuah lakon komik ia sempat menggigau dalam ketidaksadaran”……keris itu harus dilempar ke lereng Tengger.”. Dini hari, 25 Oktober 2000, Teguh menghembuskan nafas terakhir dimakamkan dekat peristirahatan ibunya di lereng pegunungan Tengger, desa Nongkojajar. Dia tak hanya meninggalkan ribuan gambar cerita komik, tapi juga sebuah catatan gemilang tentang perjalanan sebuah generasi yang pernah muncul di negeri ini.

Salah satu karya Teguh Santosa tahun 1967, “Sebuah Tebusan Dosa” telah diterbitkan ulang oleh Penerbit Galang Press Yogyakarta tahun 2003. Dalam kata pengantar di komik tersebut, Seno Gumira Ajidarma menyajikan tulisan bertajuk “Sastra Film” dalam Komik Teguh Santosa. “Setiap media mempunyai cara berbahasa sendiri, dan dalam perbincangan bahasa komik, Teguh Santosa (1942-2000) telah menyeret kita kepada saling pengaruh yang berlangsung antara media komik dan media film. Dalam berbagai komiknya, Teguh menyatakan dengan jelas, bagaimana ia telah mengacu kepada media film. Dalam Kraman (1970/1971) misalnya, Teguh menyisipkan iklan dalam bentuk trailer (susunan adegan yang yang menjanjikan kisah seru) untuk apa yang kelak disebutnya ‘novel bergambar’ berjudul Mat Romeo. Nah, dalam iklan Mat Romeo yang merupakan logi ke dua dari Trilogi Sandhora itulah terbaca pernyataannya:”disadjikan setjara filmis dan kolosal”.

Pengaruh film memang sangat kuat dalam karya-karya Teguh sebagai pengunjung setia bioskop.“Seminggu hampir empat kali,” kata Dhani Valiandra.

Karya lain dari komik Teguh Santosa yang diterbitkan ulang adalah Mahabharata dan Bharatayudha oleh Penerbit Pluz+ tahun 2009. Kedua karya komik tersebut sebelumnya menjadi sisipan majalah anak-anak Ananda tahun 1984. Majalah Tempo dalam sisipan Iqra edisi 30 Agustus 2009 mengupas tuntas penerbitan ulang Mahabharata  dan Bharatayudha.

“Harta karun” itu tersimpan di sepotong majalah anak. Tak banyak yang mengira dalam majalah yang memuat cerita anak, berita artis cilik, informasi hiburan, dunia sains, dan kuis itu, diam-diam mengendap sebuah karya yang tetap lezat “disantap” seperempat abad kemudian.

Karya itu: komik Mahabharata dan Bharatayudha ciptaan Teguh Santosa pada 1984, sebuah komik wayang yang ia sebut sebagai puncak pencapaian seorang komikus. “Nang, lek jenenge kiai iku lek diakui yen wis lunga kaji. Aku lek wis nggarap wayang Mahabharata iku wis sah banget. (Nak, kiai itu diakui kalau sudah berhaji.Aku kalau sudah menggarap wayang Mahabharata, itu sudah sah sekali),” kata Teguh Santosa kepada Dhani suatu kali. Maksudnya: Mahabharata adalah puncak karya bagi komikus.”Istilahnya, ijab Bapak dengan dunia komik itu sudah sah kalau sudah bisa membuat komik wayang Mahabharata-Bharatayudha,” kata Dhani Valiandra.

Majalah anak itu adalah Ananda-terbitan kelompok Kartini. Terbit setiap Jumat, komik Teguh mengisi delapan halaman bonus majalah yang kini telah “almarhum” itu. Mahabharata dan Bharatayudha muncul selama 59 edisi sejak awal 1984.

Redaksi Ananda memperkenalkan Teguh Santosa kepada pembaca sebagai “Oom Teguh Santosa.”Sang Oom melukis dan menceritakan kembali berdasar cerita wayang yang “disarikan dari Sejarah Wayang Purwa karangan Hardjowirogo dan Mahabharata karya R.A.Kosasih.”

Penerbitan ulang komik Mahabharata dan Bharatayudha karya Teguh santosa menurut Seno Gumira Ajidarma merupakan peristiwa kebudayaan.” Ini bahkan bisa dilihat sebagai politik kebudayaan untuk melawan penerbit besar yang modalnya tak terbatas tapi justru yang bermental pemulung-menerbitkan komik dengan biaya semurah mungkin dan dengan kemungkinan mendapatkan untung sebesar-besarnya,” kata Seno, yang melihat selama ini terjadi pengabaian yang dia sebut kebutaan teoritis terhadap komik.

Dalam konteks itu, Seno berpendapat bahwa hasil penerbitan Mahabharata apakah akan laku atau tidak di pasar bukanlah hal yang penting. Yang utama, katanya adalah penerbitnya “berani tampil dan bernegosiasi dengan situasi.” (***)  (diolah dari berbagai sumber)


 

Konfirmasi kehadiran:

081 8464 254 /Dhany Valiandra.

0817 0521 476, pin bb:53c7166d, Titik Pusporini, HRD House of Juminten

Detil

Tanggal:
24 Mei 2015
Event Category:

Venue

Warung Juminten
Jalan Kahuripan 18
Malang,
+ Google Map