Oktober 18, 2018

Kesadaran Merekam dan Ensiklopedia Terbuka untuk Data Kebudayaan oleh Annayu Maharani

oleh: Annayu Maharani

Penelitian “Keberlangsungan Lembaga Seni Indonesia” oleh Koalisi Seni Indonesia (2015) memperlihatkan bahwa 43% komunitas seni (responden) melakukan dokumentasi dan pengarsipan. Meski belum menyasar pada kepentingan umum, dalam wawancara ditemukan bahwa dokumentasi dan pengarsipan dilakukan untuk memenuhi kebutuhan internal komunitas.[1] Dari sini kita dapat menyimpulkan bahwa terjadi manajemen pengetahuan di dalam tubuh komunitas, yaitu berbentuk penciptaan data beserta penyimpanannya.

Saya menyetujui bahwa jumlah tersebut belum merepresentasikan inisiatif-inisiatif dokumentasi dan pengarsipan oleh pelaku individu maupun lembaga lain, di luar cakupan area penelitian. Terlebih lagi, tantangan mendata di dalam geografis Indonesia yang luas dengan gerak sejarah masing-masing wilayah yang berbeda.

Pada Juli 2017 di daerah Cultural Hotspot – Kupang diadakan dua lokakarya bertema pendataan, yaitu lokakarya Ensiklopedia Visual (3/7) dan WikiLatih (20/7). Masing-masing menyasar pada penciptaan arsip visual dan teks dengan benang merah narasi lokal. Lokakarya pertama diampu oleh Heri Budiman, seniman visual asal Pekanbaru, sedangkan lokakarya kedua diampu oleh Wikimedia Indonesia. Dua lokakarya ini bekerja sama dengan Komunitas Dusun Flobamora dan diselenggarakan di SMP St. Yoseph Kupang.

Heri Budiman dalam lokakarya Ensiklopedia Visual menekankan pentingnya kesadaran merekam di era digital. Kegiatan mengarsip pada dasarnya bisa dilakukan dengan mudah oleh siapa saja, asal dengan praktik merekam yang teratur dan tertata.

Sambil memperlihatkan sebuah video berjudul “Save Rimbang Baling”, ia bercerita tentang dokumentasi foto dan video buatannya di Rimbang Baling, Pekanbaru. Heri Budiman sendiri menggunakan arsip foto dan video sebagai medium kampanye melawan perusahaan sawit dan tambang yang telah lama mengincar kawasan hutan lindung tersebut.

Para peserta diajak berlatih merekam dengan memanfaatkan kamera handphone masing-masing. Aplikasi merekam dan mengedit video cukup banyak tersedia dan dapat diunduh secara gratis. Mereka kemudian dilatih kemampuan teknis seperti mengambil gambar, mulai dari penentuan angle, gerak kamera, gerak objek, dll.

Objek apa saja yang dapat direkam? Para peserta memilih objek dokumentasinya, antara lain Pabrik Es Minerva, Tari Bidu Hodi Hakdaur, Meriam Peninggalan Perang Dunia II di Kelurahan Kelapa Lima, dll. Heri Budiman mengarahkan peserta bahwa objek dokumentasi setidaknya mengacu pada UU Pemajuan Kebudayaan No.5 /2017, antara lain tradisi lisan, manuskrip, adat-istiadat, pengetahuan tradisional, teknologi tradisional, seni, bahasa, dan permainan tradisional.

Seri selanjutnya, yaitu Lokakarya WikiLatih yang lebih banyak diikuti oleh pegiat literasi dan media. Rachmat Wahidi dan Raymond Sutanto mewakili Wikimedia Indonesia dan berperan sebagai mentor.

Data terakhir menunjukan bahwa jumlah artikel Wikipedia berbahasa Indonesia adalah 406.437 artikel dengan pengguna 889.887 orang, sedangkan statistik Wikipedia seluruh bahasa adalah 38,83 juta artikel dengan pengguna 60,65 juta orang.[2] Jumlah tersebut mungkin tidak seberapa jika dibanding dengan jumlah pengguna aktif Facebook di Indonesia yang mencapai 65 juta orang.[3] Sampai saat ini, tim Wikimedia Indonesia masih berusaha mendorong masyarakat agar saling memberi informasi secara sukarela dengan menuliskannya di Wikipedia demi pertukaran pengetahuan.

Sebagian peserta ternyata tidak tahu bahwa siapa pun bisa menjadi Wikipediawan, sebuah istilah bagi orang yang menulis dan menyunting artikel Wikipedia. Ada aturan khusus untuk berkontribusi di Wiki, seperti kaidah referensi pranala (untuk artikel teks penuh) dan lisensi Creative Commons (untuk arsip visual). 

Saya mengamati bahwa ada dampak yang akan muncul ketika sebuah komunitas seni berakhir bubar. ‘This site can’t be reached’—atau dengan kata lain, platform digital milik komunitas yang bersangkutan tidak lagi bisa diakses internet karena masalah kepengurusan. Sebagian ada yang masih mengaktifkan domainnya meski tidak ada konten baru, sebagian tidak bisa diakses sama sekali. Ini menyebabkan tabungan pengetahuan yang sudah dikumpulkan suatu komunitas seni lantas menguap, sama halnya dengan eksistensi komunitas itu sendiri.

Menulis pada Wikipedia setidaknya dapat mengurangi resiko permasalahan di atas. Sebagai ensiklopedia terbuka di mana memungkinkan interaksi antar pengguna, artikel Wikipedia tidak akan musnah. Semakin banyak diisi dan disunting, semakin kiwari isinya dan semakin panjang umur artikelnya. Mengarsip mensyaratkan kondisi penyimpanan. Maka, online storage atas Wikipedia bisa jadi pilihan bagi mereka yang ingin gratis dengan jenis data tunggal deskriptif.

“Memang pernah ditemukan di mana referensi di sebuah artikel Wiki bersumber pada situs yang sudah mati. Penyunting biasanya dapat memulihkan masalah ini dengan mengakses pranala tersebut melalui Internet Archive.org dengan menggunakan fitur “Way Back Machine“. Internet Archive adalah situs yang mengarsipkan berbagai situs di dunia. Setidaknya, pranala referensi tersebut dapat terbaca kembali”, jelas Rachmat kepada saya.

Hasil lokakarya Ensiklopedia Visual akan menjadi arsip pribadi peserta lokakarya yang didukung penyebarannya oleh Koalisi Seni. Sedangkan artikel hasil WikiLatih, tinggal google saja tokoh dan objek seni budaya di Kupang!

 

Catatan kaki

[1] Penelitian bisa diunduh gratis di https://independent.academia.edu/KoalisiSeniIndonesia.

[2] D​iambil dari http://id.wikipedia.org/wiki/Wikipedia:Statistik, statistik terakhir diperbaharui pada 10 Februari 2017.​

[3] Diambil dari http://bit.ly/1UkTD69

Related posts