Juni 26, 2017

Kisah Buku-Buku yang Berlayar oleh Oming Putri

DSC_7643

Oleh: Oming Putri

Buku, pada umumnya, tak akur dengan air. Basah sedikit, kertas akan mengerut, tinta-tinta akan meluruh, sampul buku pun rusak. Tapi kenyataan ini tak mengurungkan niat Nirwan Ahmad Arsuka, Ridwan Alimuddin, dan Kamaruddin Aziz untuk melayarkan ratusan hingga ribuan buku. Motivasi mereka satu: anak-anak di pesisir dapat mengakses buku-buku yang selama ini sulit mereka dapatkan. “Kami ingin membawa pengalaman membaca yang baru untuk anak-anak,” tukas Ridwan.

Buku-buku ini diangkut oleh Perahu Pustaka Pattingaloang. “Pattingaloang” diambil dari nama belakang Karaeng Pattingaloang, seorang cendekiawan dan diplomat asal Makassar pada abad ke-17. Sejarah menuliskan Karaeng sebagai seorang ilmuwan yang sangat disegani. Bahkan, ia disebut sebagai Galileo of Macassar. Pada masanya, Karaeng memiliki keingintahuan yang sangat besar atas pengetahuan dunia. Untuk mempermudah dirinya mempelajari pengetahuan dari negara lain, ia menguasai banyak bahasa asing, diantaranya adalah bahasa Latin, Yunani, Italia, Perancis, Belanda, Portugis, Denmark, Arab, dan beberapa bahasa lainnya. Ia menguasainya secara otodidak. Ia pun dijuluki pula sebagai “Mahasarjana Tanpa Gelar”. Tampaknya, semangat Karaeng inilah yang ingin disebarluaskan.

Pelayaran pertama buku-buku ini terjadi di bulan Juni. Sekitar 200 buku yang sebagian besar adalah hasil sumbangan Maman Suherman, seorang sastrawan Makassar, berlayar dari Polewali, Mandar ke Makassar. Menurut cerita Ridwan, perjalanan pertama mereka tak semulus yang dibayangkan. Ujian untuk ketangguhan pelaut dan perahu pengangkut, bahkan sudah hadir sejak buku-buku ini menyentuh lautan. “Kami diterpa hujan deras waktu pelayaran kemarin. Sebagian buku basah, tapi untungnya bisa kami selamatkan,” ujar Ridwan, yang juga bertugas sebagai nakhoda perahu. Buku-buku aman.

Buku-buku itu memang tak sepatutnya khawatir. Perahu yang membawanya adalah perahu yang tahan banting dan berkapasitas besar. Ia mampu memuat hingga 5000 buku dan tujuh orang penumpang. Jenisnya adalah perahu Bago’ asal Mandar. Ridwan lah yang memilih perahu ini sebagai pengangkut buku. “Perahu ini dipilih karena selain jenis perahu ini adalah perahu tradisional dan sudah punah, juga karena lambungnya besar, kalau masuk sungai lebih aman, dan tidak khawatir kandas,” lanjut Ridwan yang telah meneliti kemaritiman tradisional selama kurang lebih 17 tahun.

Rencananya, buku-buku ini akan berlayar di sepanjang Selat Makassar sampai ke Kalimantan Timur. Selama perjalanannya, buku-buku ini akan disimpan dalam tempat penyimpanan yang tahan air hingga aman. Nantinya, buku-buku ini tidak akan berlayar sendirian. Mereka akan ditemani pula oleh penulis-penulis relawan yang bersedia ikut dalam Perahu Pustaka, menyebarkan ilmu pengetahuan, termasuk pengetahuan navigasi maritim tradisional. Ketika sampai di pulau tertentu, buku-buku ini akan singgah sebentar. Mereka akan dipinjamkan kepada anak-anak yang berniat untuk membawa mereka pulang. Mereka akan dijemput kembali, satu minggu atau dua minggu kemudian, oleh Perahu Pustaka Pattingaloang. “Anak-anak sangat suportif. Buku-buku cerita yang dibawa oleh Perahu Pustaka terbukti mampu menstimulasi anak-anak. Mereka mampu membacanya sampai habis,” ungkap Nirwan menceritakan respon anak-anak Mandar, tempat Perahu Pustaka pertama kali dibuat.

Jenis buku yang diajak berlayar memang termasuk buku-buku ringan, seperti buku anak, majalah, sampai novel yang mudah dicerna. Buku-buku ini dipilih untuk meningkatkan gairah membaca anak-anak pesisir. “Waktu kami tanya lebih suka mana buku yang dibawa Perahu Pustaka atau buku-buku pelajaran, mereka langsung memilih buku-buku dari Perahu Pustaka,” cerita Erni Aladjai, salah satu penulis relawan yang ikut berlayar. Ini artinya anak-anak menyambut gembira kehadiran buku-buku itu. Bahkan, sampai sebegitu gembiranya, mereka rela membantu relawan Perahu Pustaka mempersiapkan pelayaran.

“Ada sekitar dua puluh anak yang membantu. Anak laki-lakinya membantu mendorong perahu ke laut, sementara anak perempuannya membantu mengangkut buku-buku ke atas kapal. Anak-anak yang tidak kebagian pekerjaan, menangis. Kita akhirnya bersiasat untuk membagi beban kerjanya. Tiap anak cukup membawa 5 buku agar yang lain kebagian kerja,” ungkap Erni. Namun, yang paling mengharukan adalah ketika Perahu Pustaka pamit untuk berlayar. “Anak-anak teriak ‘jangan lupakan daku ya’,” tambah Erni sambil tertawa haru, mengingat kisah itu.

***

Pada Februari 2014 lalu, Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) melansir data Toko Buku Gramedia. Jaringan toko buku terbesar di Indonesia itu menunjukkan angka penjualan buku anak selama 2012 dan 2013. Selama itu, buku anak menduduki tempat tertinggi di antara jenis buku lainnya. Buku anak menjadi buku terlaris, meski buku-buku itu hampir tak pernah terpajang di rak khusus buku terlaris di bagian depan toko buku.

Pada 2012, buku anak terjual hingga 10,97 juta eksemplar dengan hampir 7.000 judul, dan pada 2013 turun sedikit sampai 10,95 juta eksemplar dengan 4.700 judul. Angka ini jauh melampaui jenis buku lain, misalnya buku religi, yang terjual 3,7 juta eksemplar dan menduduki peringkat kedua, sastra atau fiksi 3,6 juta, buku sekolah 3,5 juta, dan buku lainnya di bawah 2 juta eksemplar. Pada 1990-an hingga awal 2000, buku religi masih menempati ranking pertama.

IKAPI menduga ledakan pembelian buku anak ini terjadi seiring tumbuhnya kelas menengah baru yang memberi perhatian pada pendidikan anak dan kebiasaan membaca anak. Sayangnya, akses terhadap buku ini kurang merata, termasuk di daerah pesisir kepulauan Makassar. Buku-buku yang beredar di sana kebanyakan adalah buku-buku pelajaran. Sementara, toko buku yang menjual beragam aneka jenis buku hanya ada di tengah kota.

Hal ini sangat disayangkan jika mengingat bahwa hak baca dan hak mendapatkan buku adalah hak setiap anak. Minat baca anak-anak sebenarnya sangat tinggi. Permasalahannya, mereka tak mampu mengakses buku yang sesuai dengan minat mereka. Mereka hanya menemui buku-buku pelajaran, karena itulah buku-buku yang dianggap paling baik untuk mereka. Sementara, akses kepada buku-buku lain tak dilancarkan. Akses terhadap komik, misalnya, karena komik dianggap sebagai “racun” yang mampu merusak masa depan anak. Padahal, penulis-penulis besar juga menggandrungi komik. Eka Kurniawan, kabarnya adalah penggemar komik Pendekar Mabuk. Sementara, Seno Gumira Ajidarma adalah penggemar komik Tintin. Bahkan, orang-orang Jepang mengawali bacaan dari komik.

Inilah mengapa keputusan para relawan Perahu Pustaka untuk mengantarkan buku-buku bacaan alternatif kepada anak-anak pesisir, menjadi keputusan yang sangat tepat. Dengan meningkatkan gairah membaca anak-anak, program Perahu Pustaka ini berpotensi meningkatkan pula gairah menulis. Siapa tahu, dua atau tiga tahun kemudian, anak-anak inilah yang akan menulis kisah dari Indonesia bagian Timur sebagai hasil dari membaca buku-buku Perahu Pustaka. Siapa tahu, dua atau tiga tahun lagi, buku-buku hasil tulisan anak-anak itulah yang akan berlayar mengitari kepulauan di Indonesia. Dan siapa tahu, dua atau tiga tahun lagi, penulis anak-anak merajai penjualan buku di toko-toko buku seperti yang terjadi di tahun 2014*.

Siapa yang tahu?


*Pada tahun 2014 lalu, Kecil-Kecil Punya Karya (KKPK) yang diterbitkan DAR! Mizan, salah satu lini penerbitan Grup Mizan, mencatat penjualannya di Toko Buku Gramedia. Sekitar 15 persen dari seluruh penjualan toko buku itu, ternyata dipegang oleh buku-buku KKPK. Ini artinya, dalam sehari, bisa sepuluh sampai lima belas anak yang mencari buku KKPK: buku-buku yang ditulis oleh penulis cilik.

Related posts