Oktober 18, 2018

Komunitas Seni di Lombok Membuat Situs Teman Seni Lombok

Pada Februari 2016 di Lombok, dilaksanakan program Cultural Hotspots yang diinisiasi Koalisi Seni Indonesia. Tujuannya, untuk meningkatkan kerja dan pengelolaan komunitas. Kegiatan tersebut dihadiri sejumlah komunitas yang ada di Lombok, seperti komunitas seni, lingkungan, advokasi, dan lainnya.

Hasil dari pertemuan itu, mereka sepakat membuat sebuah forum yang bernama Teman Seni Lombok. Dari sana, mereka mulai mencoba mencari cara untuk mengumpulkan kembali komunitas-komunitas yang terlibat, dan melanjutkan forum tersebut.

Forum Teman Seni merupakan forum yang mewadahi sejumlah komunitas-komunitas, dengan tujuan pergerakan kesenian yang berbasis komunitas bisa dikelola dengan baik, dan terakses sebagai ruang berbagi ilmu.

Pada 25 hingga 30 November 2016, diadakan lokakarya manajemen dan pengelolaan arsip, publikasi, dokumentasi, distribusi, hingga pembuatan dan pengelolaan situs di Laboratorium SFNlabs, Lombok Barat. Dalam acara ini, Teman Seni dan Koalisi Seni Indonesia mengundang semua komunitas yang ada di Lombok, untuk ikut terlibat.

Hari pertama, pada 25 November 2016, dilakukan penguatan manajemen dalam komunitas. Komunitas yang hadir, antara lain SFNlabs (Gunung Sari, Lombok Barat), Baloq Dangga (Kekait, Lombok Barat), Pasirputih (Pemenang, Lombok Utara), Lembaga Seni Menduli Selayar (Benyer, Lombok Timur), Teater Putih (Mataram), Akar Pohon Mataram (Mataram), Erkaem (Montong, Lombok Barat), Teater Ekstrakulikuler (Mataram), dan Sanggar Seni Panca Pesona (Lombok Utara).

Materi manajemen disampaikan oleh Idaman Andarmosoko. Pesertanya sekitar 20 orang, mewakili komunitas masing-masing. Idaman membongkar pemikiran peserta terhadap aktivitas kesenian yang sudah dilakukan. Ada empat hal utama dalam manajemen komunitas, yakni perencanaan, pelaksanaan, kendali, dan umpan balik.

Dalam kesempatan itu, para peserta menyampaikan berbagai pandangan dari internal komunitas, yang selama ini mereka rasakan, seperti komunitas yang ekslusif, berjaraknya karya dengan warga, tidak konsisten, minimnya fasilitas, hingga honor menjadi persoalan penting yang dihadapi komunitas di Lombok. Sedangkan dari eksternal, kurangnya dukungan dari pemerintah menjadi masalah tersendiri.

Di sesi kedua, Lusia Neti Cahyani mengisahkan soal Teater Garasi. Lusi menceritakan soal pengelolaan Teater Garasi, salah satunya bekerja sama dengan berbagai instansi. Dalam hal pengelolaan pendanaan, Lusi mengatakan bukan hanya dari rekanan, tapi juga “patungan” semua anggota. Mereka juga membuat kelas teater.

Pada 26 November 2016, Idaman kembali berbicara mengenai dokumentasi, arsip, dan data. Ia membedah secara mendalam masalah-masalah tadi. Lalu, pada 29 November 2016 diadakan materi pengelolaan blog dan situs, yang dibawakan oleh Sugeng Wibowo. Sugeng menegaskan, yang menjadi kendala setiap komunitas yang memiliki blog atau situs adalah kontennya. Para peserta diharapkan memuat profil dan data komunitasnya untuk dijadikan konten.

Pada 30 November 2016, peserta diharapkan membuat blog atau situs bagi yang belum memilikinya. Konten blog atau situs yang sudah jadi dan lengkap, kemudian dimasukkan ke situs Teman Seni Lombok. Setiap konten berbentuk blog akan diisi oleh komunitas masing-masing, memuat berita atau informasi komunitas.

Situs Teman Seni Lombok memuat semua aktivitas terbaru komunitas. Di sini pembaca akan menemukan segala aktivitas kesenian dan intensitas komunitas tadi. Keberadaan situs Teman Seni Lombok dapat dijadikan semacam media kesenian di Lombok, menjadi media distribusi pengetahuan, dan mampu diakses oleh siapapun. Situs Teman Seni Lombok bisa diakses di www.temansenilombok.com.

Penulis: Ahmad Dhoom | Editor: Fandy Hutari

Related posts