Oktober 20, 2017

Lab Teater dan Kota yang Megap-Megap oleh Raka Ibrahim

DSC_7982
Bambang Prihadi

Oleh: Raka Ibrahim

Bagaimana cara seni menyikapi ruang tempat ia hidup? Tawaran jawaban untuk pertanyaan ini menyeruak dari pinggir Kali Pesanggrahan, Jakarta. Tepatnya di Hutan Kota Pesanggrahan, Sangga Buana. Siapa sangka, hutan seluas kurang lebih 120 hektar ini menjadi ruang berkesenian baru bagi Lab Teater. Berikut cerita Bambang Prihadi, sutradara dan pimpinan Lab Teater, tentang kesibukan kelompok teater itu dalam setahun terakhir menggali persoalan yang muncul di ruang baru mereka, dan bekerjasama dengan warga dan tokoh masyarakat untuk memetakan solusi atas permasalahan di sekitar mereka.

***

Lab Teater sudah berumur hampir 10 tahun. Seperti namanya, komunitas teater ini kerap melakukan eksprerimen-eksperimen kreatif melalui penelitian, observasi, diskusi dan workshop dengan melibatkan beragam sumber daya dari berbagai latar belakang. Tema-tema yang digarap Lab Teater adalah dinamika yang terjadi dalam masyarakat masa kini, terutama kaum urban. Mereka suka melakukan hal-hal yang baru.

Maka, ketika Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) meminta mereka untuk mengikuti program riset bertema Kota yang Tenggelam pada 2014, Lab Teater tak menolak. Menurut mereka, seperti yang tertulis di situs teaterdankota.org, program ini adalah upaya aktivis kesenian untuk mencari pemecahan dari persoalan krusial yang dialami oleh penduduk Jakarta. Sebagai seniman teater, mereka ingin turut urun rembug, tidak hanya bersimpati. Seperti tutur Bambang, mereka sadar bahwa, “teater yang utuh dengan tubuh aktor-aktornya semestinya tidak berhenti sebagai performing art di jalan-jalan dengan membawa kalimat-kalimat yang menohok pihak tertentu.”

Dari sinilah kemudian perkenalan mereka dengan Hutan Kota Sangga Buana dimulai. Berawal dari niat untuk mempelajari cara memelihara sungai, Lab Teater berkenalan dengan Chaerudin, atau yang akrab disapa Babeh Idin. Reputasi baik Babeh Idin dalam merestorasi Sungai Pesanggrahan, sungai yang melintasi Hutan Kota Sangga Buana, menjadi motif mereka untuk terlibat lebih dalam di kegiatan komunitas Sangga Buana. Pada Oktober 2014, mereka pun memindah markas mereka dari Ciputat ke hutan kota itu dan tinggal di sebuah rumah yang telah ada sejak 1997.

“Saat kami masuk, kebetulan anggota komunitas tani di sini sudah berkurang. Sementara tanah sebesar ini mau tidak mau membutuhkan orang untuk menjaga dan memeliharanya. Termasuk berkegiatan di sini dan memanfaatkan lahan,” tutur Bambang menjelaskan alasan mereka betah tinggal di hutan itu hingga detik ini, bahkan setelah program Kota yang Tenggelam telah usai.

Seiring berjalannya waktu, prinsip hidup Babeh Idin pun kemudian menular pada Lab Teater. Bukan saja yang terkait dengan pemeliharaan hutan, seperti pentingnya sungai dan mendaur ulang sampah. Tetapi juga yang terkait dengan pemanfaatan ruang untuk berkesenian. Babeh Idin memiliki latar belakang di dunia seni Lenong. Ini mengapa ia paham tentang praktek seni seniman. “Ngapain sih kamu bikin-bikin pertunjukan di gedung, di tempat-tempat yang eksklusif, yang tertutup. Kan di sini juga teater, di sini juga bisa dijadiin tempat pertunjukan,” ucap Babeh Idin, seperti yang dikisahkan Bambang. Praktek berkesenian Lab Teater pun berkembang.

“Dalam setahun ini, tentu yang jadi prioritas adalah bagaimana kita benar-benar hadir di sini. Hadir itu dalam pengertian bukan hanya fisik dan menjadikan tempat ini sebagai tempat latihan, tetapi juga memahami apa yang ada di sini dan menjadikannya bagian dari titik tolak dalam membuat karya. Mulai dari hubungan dengan komunitas tani di sini, dan bagaimana bersinergi dengan masyarakat sekitar,” tutur Bambang. Ia pun menambahkan,“turunannya, misalnya bagaimana kami mengolah tubuh. Dari segi keaktoran, kami bilang ke teman-teman untuk jangan berpikir panggung sebagaimana umumnya. Berpikirlah di sini. Makanya, teman-teman latihan di ladang, ada yang di lumpur, ada yang di pohon durian. Kita merespon apa yang dilakukan oleh masyarakat di sini. Pada saat yang bersamaan, kita juga mengambil peran. Misalnya saat acara Hari Bumi, atau acara kemasyarakatan lain, kita menjadi bagian dari masyarakat.” Ini artinya Lab Teater rutin berpartisipasi dalam acara kumpul warga, pengajian, nongkrong dengan warga, hingga mengikuti kegiatan silat lokal. Mereka ingin menginternalisasi diri mereka ke dalam ruang tempat mereka tinggal sebaik mungkin. Bukan sekedar beramah-tamah dan menjaga hubungan baik.

Kini, mereka ikut menghadapi persoalan besar terkait pengelolaan hutan. Siapa yang akan menjadi penerus Babeh Idin saat jawara itu tak lagi ada? Babeh Idin sudah menginjak kepala enam dan tentunya membutuhkan generasi penerus. Lab Teater sadar sepenuhnya bahwa pola kerja kolektif yang melibatkan seluruh warga bisa menjadi jalan keluar. Karena dengan begitu, rasa kepemilikan atas Hutan Kota Sangga Buana tidak lagi dimiliki oleh individu tetapi masyarakat luas. Konservasi pun bisa dilakukan bersama-sama.

“Memang kita punya tugas ini,” pungkas Bambang. “Ini yang sedang kita jalankan.” Kata kunci dari kedua kalimat tersebut, sejatinya, adalah “kita”.

Related posts