Oktober 23, 2017

Memahami Seni dan Budaya Pontianak oleh Amira Ruzuar

pontianak
Sudut Kota Pontianak | Sumber foto: internet.

Oleh: Amira Ruzuar

Mencari komunitas seni budaya di Pontianak melalui mesin pencari daring menghasilkan berbaris tautan yang banyak didominasi oleh blog komunitas teater yang berdomisili di Pontianak. “Mungkin teater memang sedang atau merupakan bidang seni yang paling banyak digemari oleh masyarakat Pontianak,” benak saya sebelum berangkat ke Pontianak. Tebakan saya tak meleset. Saat dalam perjalanan menumpang taksi dari bandara menuju penginapan, tak sadar ternyata saya melewati Taman Budaya Kalimantan Barat, semacam episentrum pelbagai komunitas seni kota Pontianak. Di pagarnya berdiri poster besar pertunjukan teater tradisional bertajuk “Durjana” yang sayangnya dimulai tepat di malam kepulangan saya ke Jakarta, 31 Juli silam.

Benar saja, pada pelaksanaan FGD antara Koalisi Seni Indonesia dengan berbagai komunitas yang hadir pada waktu itu, teman-teman pegiat teater paling banyak memenuhi kerumunan peserta FGD. Namun tentunya keriuhan kesenian di Pontianak tidak hanya pada seni teaternya. Saya bertemu dengan berbagai komunitas lain di Pontianak yang berbagi berbagai cerita tentang kota Pontianak. Difasilitasi oleh Tribun Pontianak, dalam FGD para komunitas bercerita dan berdiskusi mulai dari upaya penghidupan kesenian Mendu, tata kebudayaan kota seribu parit, hingga ide kementerian terkait kesenian.

Kesempatan berbincang dengan berbagai komunitas di Pontianak tidak hanya terlaksana dalam FGD, namun juga dalam kunjungan komunitas hingga ngopi-ngopi di salah satu deretan warung kopi jalan Gajahmada. Dari diskusi dan perbincangan ini, sedikit demi sedikit tergambar dinamika seni budaya kota Pontianak yang sebelumnya asing bagi saya.

Birokrasi Seni

Keluhan. Mungkin kategori itu yang dapat menjadi benang merah cerita para komunitas, lebih tepatnya cerita mereka mengenai peran pemerintah. Salah satu tuturan Ary Black dari Komunitas Entertainer Kapuas, dirinya mengaku cukup kesulitan untuk mendapatkan dukungan pemerintah dalam kegiatan seni yang ia dan komunitasnya kerjakan. Bolak-balik berupaya untuk bertemu walikota Pontianak dan bergonta-ganti upaya memperkenalkan kerja komunitasnya, Komunitas Entertainer Kapuas akhirnya berhasil bertemu tatap muka dengan walikota Pontianak hingga mendapat dukungan untuk kegiatan mereka kendati keberhasilan itu tidak pula memudahkan upaya-upaya berikutnya.

Cerita lain dari datang dari Nenew yang pada kesempatan FGD memajang poster pertunjukan teater tradisional “Durjana” yang ia produksi bersama Teater JadiRaja sepanjang ia bercerita mengenai sikap pragmatis terhadap sikap pemerintah pada seni budaya. Seperti komunitas lainnya, Nenew ikut mengajukan proposal kepada pemerintah untuk mendapatkan pendanaan pada pertunjukannya ini. Sambil tersenyum ia mengaku bersyukur mendapatkan dukungan pendanaan dari dinas pariwisata sebesar Rp. 200.000 saja, jumlah yang hanya tergantikan dengan dengan delapan tiket pementasannya. Bagi dirinya dan komunitasnya, yang terpenting adalah bahwa komunitasnya terus berkegiatan seni. Meminta, khususnya pada pemerintah, adalah opsi kesekian.

Anton dari Forum Masyarakat Teater melihat bahwa cara pemerintah melihat kegiatan seni masih sebatas sebagai event, dan hal ini berbanding lurus dengan dukungan yang sifatnya berbasis event yang tidak berkelanjutan. Selain itu, Anton juga melihat pentingnya dukungan dari pemerintah untuk mendorong partisipasi, tidak hanya pada pekerja seni namun juga masyarakat luas. Bukan hanya dukungan finansial, harapannya dukungan juga hadir untuk membangun dan menghidupkan dinamika berkegiatan seni. Kebutuhan akan workshop dan resourcing adalah hal yang diamini oleh seluruh komunitas yang hadir pada FGD.

Kritik berikutnya hadir ditujukan kepada Dewan Kesenian Kota Pontianak yang diharapkan dapat menjadi perwakilan pekerja seni untuk membangun dinamika kegiatan seni namun malah bertindak sebagai event organizer sehingga tidak bekerja secara efektif. Birokrasi yang rumit menjadi penyimpulan yang diamini hampir semua komunitas yang saya temui di Pontianak. Fasilitas yang harusnya dapat diakses oleh semua orang menjadi sulit diakses karena hadangan kerumitan birokrasi.

Seni dan Lingkungan

Lingkungan dan pembangunan juga menjadi perhatian. Dapat disimpulkan, komunitas di kota Pontianak melihat bahwa pembangunan cenderung memprioritaskan kemajuan ekonomi ketimbang kemajuan kebudayaan secara keseluruhan. Perihal konservasi lingkungan misalnya, cenderung diabaikan. Dalam kultur masyarakat Kalimantan Barat, rupanya konservasi lingkungan sangat terkait dengan perkembangan seni budaya karena lingkungan menjadi elemen terpenting dalam pembentukan seni budaya satu komunitas masyarakat. Masyarakat adat Dayak, misalnya, yang kebudayaannya merupakan hasil interaksi manusia Dayak dengan hutannya. Dengan makin tergusurnya lahan hutan, tergusur pula kebudayaan mereka hingga lambat laun mengalami kehilangan adat.

Masuk ke daerah perkotaan, saya belajar tentang sejarah interaksi masyarakat kota yang dijuluki Kota Seribu Parit ini dengan sungai-sungai dan parit-paritnya. Kebiasaan ini rupanya sudah tidak diikuti lagi oleh masyarakatnya. Sejarah kota Pontianak begitu menarik, sebagaimana Haris, Saufian, dan Annisa dari Komunitas Wisata Sejarah tunjukkan kepada saya dalam wisata sejarah singkat pada hari terakhir saya di Pontianak. Sayangnya pada hari itu saya tidak dapat menjelajahi Kota Seribu Parit dengan sampan, padahal saya sudah tergiur dengan cerita Haris di hari sebelumnya tentang satu perjalanan mereka yang seharian menaiki sampan. Parit, sungai, dan anak sungai di kota Pontianak merupakan jalur yang memfasilitasi masyarakat untuk saling berinteraksi satu sama lain seperti berkunjung ke rumah kerabat hingga berjualan keliling. Seperti yang banyak didengar dari kota-kota lain di Indonesia, Haris bercerita bahwa Pontianak juga mengalami kaget pembangunan gedung-gedung, hingga tak jarang harus merelakan bangunan sejarah dirubuhkan demi memenuhi kebutuhan konsumeristis.

Berbicara mengenai pembangunan gedung, Taman Budaya Kalimantan Barat konon akan mengalami renovasi bahkan relokasi. Mbah Dinan, seorang tokoh musik Kalbar sekaligus Ketua Forum Musik Kalbar, memberikan tanggapan negatif terhadap upaya ini. Karena baginya yang lebih krusial adalah aksesibilitas masyarakat terhadap gedung kesenian, bukan sekadar memiliki gedung kesenian yang megah kendati banyak yang menilai Taman Budaya belum dapat dinyatakan layak. Mbah Dinan menyayangkan kecenderungan pemerintah untuk mudah mengucurkan dana pada infrastruktur kesenian ketimbang kegiatan seninya sendiri. Terlebih, relokasi Taman Budaya dari Jalan Ahmad Yani yang notabene merupakan jalan utama tempat gedung-gedung pemerintahan dan gedung-gedung penting lainnya bermukim menjadi semacam pencerabutan seni budaya dari kehidupan kota Pontianak secara simbolis. Puji Rahayu, seorang perupa, juga memberikan komentarnya mengenai Taman Budaya yang tidak difungsikan sebagai galeri seni rupa.

Generation Gap dalam Seni Kalimantan Barat

Partisipasi anak muda dalam seni budaya di Pontianak terbilang ambivalen. Generasi yang lebih tua melihat bahwa anak muda kurang peduli terhadap seni, namun generasi yang lebih muda justru mengaku sedang mengupayakan perkembangan seni budaya Kalimantan Barat dengan berforum dan menjalin hubungan dengan generasi tua. Apa yang dikatakan oleh generasi tua sepertinya memang ada benarnya, khususnya terhadap seni tradisional dimana anak muda lebih banyak menggandrungi kesenian kontemporer seperti segerombolan anak muda yang saya temui di FGD banyak hadir dari kalangan visual art seperti Liputan Pontianak Art atau LIPArt, komunitas teater mahasiswa, dan komunitas film Masyarakat Film Kalbar.

Komunitas seni yang saya temui di luar FGD, Kertas dan Fiction Land Dance Community, disesaki anak-anak muda yang bergerak di seni hiburan seperti bernyanyi, musik, hingga cover dance K-Pop. Rosadi, seorang penulis puisi dan syair yang hadir dalam FGD waktu itu mengaku bahwa kesenian syair khas Melayu Kalimantan Barat belum terjangkau oleh generasi digital. Kesenian tradisional khas Kalimantan Barat lainnya, teater tradisional Mendu, bahkan divonis hampir punah, menurut pengakuan Vivi dari Forum Lingkar Pena Kalbar yang pernah mendokumentasikan Mendu. Pasalnya, pelaku teater tradisional Mendu terdiri dari generasi tua yang banyak sudah berada di usia senja, selain daripada tidak adanya lembaga yang menaungi seni teater yang juga hidup di Riau ini. Vivi berharap adanya upaya untuk mengoper tongkat estafet Mendu melihat sedang gandrungnya anak muda khususnya pelajar Pontianak terhadap seni teater.

Di Pontianak, teater mahasiswa rupanya kalah pamor dengan teater-teater pelajar, terbukti dengan ramainya partisipasi perhelatan festival teater pelajar yang dapat berlangsung hingga satu bulan lamanya. Forum Masyarakat Teater menyampaikan berita ini dengan suka cita, menunjukkan bahwa anak muda Pontianak siap mengambil tongkat estafet keberlangsungan seni di daerahnya. Harapannya, dengan euforia seperti ini penetrasi kesenian tradisional atau kesenian daerah terhadap anak muda menjadi lebih mudah. Konon hal ini juga dapat menjadi siasat untuk mendapat lirikan pemerintah, seperti yang disebut oleh Ary Black dari Komunitas Entertainer Kapuas dan Panca dari Fiction Land Dance Community yang sedang berupaya untuk mempopulerkan kesenian tradisional kepada anggota komunitasnya seperti mementaskan tarian tradisional dan mengaransemen ulang lagu-lagu daerah Kalimantan Barat.

Upaya generasi muda untuk menjemput tongkat estafet dari generasi tua juga dilakukan oleh teman-teman dari Teater IAIN Pontianak terhadap teater tradisional Mendu, kendati masih mengalami “generation gap” yang menyulitkan mereka untuk berkomunikasi antar generasi. Namun setidaknya, hal ini menunjukkan bahwa semua orang memiliki rasa kepemilikan terhadap kesenian Kalimantan Barat, tradisional hingga kontemporer.

Masyarakat Seni

Melalui cerita komunitas seni budaya di Pontianak, sepertinya kesadaran masyarakat akan seni terbilang cukup hidup, utamanya seni sebagai hiburan. Pelaku dan penikmat musik, teater, tari, film, hingga seni visual berinteraksi dengan akrab dalam kegiatan-kegiatan baik yang dilaksanakan oleh komunitas seni secara swadaya maupun dalam perhelatan rutin yang diselenggarkaan pemerintah seperti Titik Kulminasi. Dengan iklim kesenian seperti ini, sebagian komunitas melihat potensi untuk menggunakan seni sebagai alat advokasi. LPSAIR hadir dalam FGD lalu dan bercerita tentang kegiatannya mengadvokasi pentingnya tata kota melalui seni visual yang menjadi medium seniman kota Pontianak bercerita tentang kotanya kepada masyarakat. Kembali lagi, seni budaya bergantung pada perkembangan lingkungan.

Hasan dari LAKPESDAM NU Pontianak melihat pembangunan kota Pontianak tidak berbasis seni budaya dan kearifan lokak Pontianak. Hal ini menjadi alasan mengapa lebih banyak yang memilih untuk terus mengunjungi mall untuk mendapat hiburan ketimbang Taman Budaya, misalnya, karena arah pembangunannya memaksa masyarakat untuk lebih memilih menonton film di studio bioskop yang dingin ketimbang menonton pertunjukan di Taman Budaya sambil mengipas karena kepanasan.

Berteriak di atas panggung tentang kerumitan birokrasi, lingkungan, hingga Tuhan adalah bak rutinitas bagi seniman. Kenyataan pahit yang banyak komunitas seni di Pontianak telan adalah dukungan pemerintah pada mereka nyaris tidak ada. Namun bagi mereka tidak apa-apa, karena di balik kenyataan ini ada hal yang lebih penting untuk dilakukan yaitu untuk berhenti bergerak sendiri-sendiri dan berjejaring untuk saling membantu untuk berkembang. Upaya ini terlihat sudah hadir, khususnya melalui inisiatif anak muda yang tak hanya berjejaring dengan generasi yang sama namun lintas generasi, merangkul mereka yang sudah lebih dulu bergerak, atas kesadaran bahwa seni adalah milik mereka semua. Mungkin dalam tahun-tahun dekat mendatang dinamika seni budaya kota Pontianak menjadi lebih hidup, hingga riuh dan bersanding dengan keriuhan seni budaya kota-kota lainnya di Indonesia.


Tulisan ini merupakan laporan perjalanan Koalisi Seni Indonesia di Pontianak dalam program Cultural Hotspot. Cultural Hotspot adalah sinergi budaya antar pegiat seni, budaya, dan isu-isu sosial lainnya di sebuah kawasan tertentu. Dalam hal ini adalah kawasan-kawasan di luar Jawa, terutama Indonesia Tengah dan Timur, yaitu Pontianak, Mataram, Palu, Kupang, dan Makassar. Sinergi yang dimaksud bisa berupa kegiatan yang melibatkan sebanyak mungkin pihak atau berupa sebuah lokasi yang dipakai bersama sebagai wadah pertukaran pengetahuan tentang seni dan budaya. Harapannya, dengan begini, pertumbuhan seni budaya di luar Jawa semakin menggembirakan. Program ini akan berjalan selama dua tahun, bekerjasama dengan CKU Denmark.

 

Related posts