Juli 23, 2018

Makassar Biennale 2017: Dalam Secara Narasi, Luas dalam Partisipasi

Oleh: Agung Gemilang

Tiga televisi berjejer teratur. Di tiap-tiapnya ditampilkan potongan video manusia, laut, pesisir, dan lingkungan sekitarnya. Belakang televisi terdapat dinding yang dipenuhi lukisan-lukisan tentang laut, perahu, jaring, dan berbagai ilustrasi tentang narasi kehidupan nelayan.  Karya tersebut adalah presentasi dari Pasir Putih Pemenang berjudul “Montase Air” yang ditampilkan dalam gelaran Makassar Biennale (MB) 2017.

Langit begitu cerah (10/11) ketika saya tiba di pelataran menara Pinisi Universitas Negeri Makassar, tempat MB 2017 dilaksanakan. MB 2017 mengusung tema Maritim dan dihelat pada tanggal 8-28 November.

Bagi Direktur Event MB 2017, Anwar Rachman, maritim tak harus selalu dilihat sebagai hamparan pesisir dan laut, tapi sebagai konsep yang lebih luas dari hal itu.

 “Maritim harus dilihat sebagai sebuah ekosistem ataupun kata benda. Tapi ada sesuatu yang hidup dalam konsep tersebut semisal hutan, sungai, dan yang lain sebagai elemen-elemen pendukung,” tutur Jimpe, begitu Anwar biasa dipanggil.

Keseriusan MB untuk menjadikan maritim sebagai tema dapat dilihat dari keyakinan mereka menjadikan maritim sebagai tema abadi dalam konsep artistik dan narasi. Maka dari itu, selanjutnya perhelatan MB akan tetap membahas maritim dengan lebih sempit, seperti kuliner atau narasi yang lain.

Permulaan yang Baik

Nurabdiansyah menutup mata dan terdiam. Ia mencoba mengingat momen-momen ketika pertama kali meyakinkan diri dan kawan-kawan yang lain untuk membentuk Yayasan Makassar Biennale (YMB).

Semua bermula setelah MB 2015 selesai digelar. Sejak itu pembicaraan mulai intens membahas pembentukan YMB. Puncaknya, pada bulan Maret 2017 secara sah YMB terbentuk.

“Semua karena keinginan kerja yang terorganisasi dan sistematis. Ini juga menjadi konsekuensi memikul pagelaran bernama Biennale,” ungkap Nurabdiansyah ketika menjelaskan alasan mereka membentuk YMB.

Sejak saat itu YMB mempersiapkan diri; menyusun anggota, membincangkan kegiatan ke depannya, dan menjahit kembali jaringan-jaringan yang telah ada pada MB 2015.

Setelah mengorganisasi kembali anggota dan persiapan pembentukan yayasan telah selesai, tantangan selanjutnya  adalah menghimpun seniman yang akan diajak untuk MB 2017.

“Awalnya mengamati, terus menghubungi mereka satu persatu, setelah itu kami mengajak mereka ngobrol dan mendiskusi tentang karya mereka,” ucap Jimpe ketika menceritakan cara mereka menghimpun seniman-seniman yang ikut MB 2017.

Pada MB kali ini, ada 20 seniman yang ikut berpartisipasi. Ada yang dari Banda Aceh, Bekasi, Bulumkumba, Gianyar, Lombok, Makassar, Raja Ampat , Pangkep, Polewali-Mandar, Taipei, dan Ternate. Karya-karya yang dipertunjukkan pun beragam; mulai dari seni rupa, kerajinan tangan, intalasi, video hingga visual performance.

Dalam formasi 20 seniman, MB 2017 tak hanya menampilkan karya seniman individu. Tahun ini karya sejumlah kolektif seni dan hasil kerja, semacam kelompok kerajinan masyarakat, juga ditampilkan.

Jimpe juga mengatakan bahwa tak semua seniman diterima begitu saja. Syarat tetap diberlakukan dalam proses kurasi MB 2017.

Yah, kadang ada perbedaan artistik, ekspresi dan terutama gagasan yang membuat kami menolak untuk mengikutkan di MB 2017,” tegas Jimpe.

Secara kuantitas jumlah seniman dalam MB 2017 terbilang sedikit dari Biennale kota lain. Dalam pagelaran Biennale Jogja 2017, terdapat 39 karya yang ditampilkan dengan 27 karya dari Indonesia dan 12 karya dari luar negeri. Sedangkan untuk Jakarta Biennale 2017 terdapat 51 seniman yang menampilkan karya.

Hal ini tak menjadikan MB 2017 sebagai Biennale yang tertinggal secara artistik dan kemeriahan. Memilih menampilkan 20 seniman bukanlah pekerjaan mudah. Semua telah diukur sesuai kemampuan yang bisa dikerjakan oleh penyelenggara MB 2017 yang masih terbilang muda usia.

Serupa dengan tema artistik yang diambil, hal ini dapat dilihat sebagai konsekuensi dari sejarah panjang Makassar dalam narasi Maritim.

“Makassar harus berjuang mendefinisikan dirinya, merumuskan karakternya agar tak menjadi sekadar pengekor dari Biennale yang sudah ada.” kata kurator MB 2017, Nirwan Ahmad Arsuka, seperti dikutip dalam laman makassarbiennale.org.

Upaya Meluaskan Partisipasi

Usaha memajukan kerja-kerja kebudayaan bukanlah hal mudah. Semua disetel sesuai kondisi dan beberapa syarat lain. Begitu pun dengan pendanaan yang harus dioptimalkan.

Pada MB 2017 pendanaan didapatkan dari berbagai lini. Dari instansi pemerintah yang mendukung hingga pencarian dana yang bersifat kreatif dari penyelenggara. Dalam pagelaran kali ini, Badan Ekonomi Kreatif (BEKRAF) menjadi sponsor utama dalam pendanaan.

Dalam suatu konferensi pers di Jakarta, seperti dikutip dalam laman Makassar Biennale, BEKRAF mendukung hadirnya Biennale sebagai kesadaran pemerintah untuk mengangkat seni budaya kontemporer Indonesia di pentas dunia.

Nurabdiansyah juga menjelaskan bahwa ketertarikan BEKRAF dalam mendukung Makassar Biennale disebabkan karena tiga Biennale akan berlangsung yaitu; Jogja, Jakarta, dan Makassar hampir secara bersamaan. Hal ini dilihat berkaf sangat strategis dan efektif dalam memudahkan para turis dan tamu internasional berkunjung ke Indonesia.

Selain Bekraf bantuan diberikan pula pemerintah Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Tak hanya berbentuk dana, pemerintah Bulukumba juga mendukung dan memberikan izin proses residensi seniman MB 2017 di Bulukumba.

“Hal ini menarik dan untuk pertama kalinya pemerintah daerah memberi bantuan sekaligus menganggap kerja-kerja kesenian penting untuk didukung,” ujar lelaki yang kerap disapa Abi.

Sebagai Biennale termuda di Indonesia, Makassar Biennale mencoba belajar dari tahun 2015. Pelajaran utama adalah proses penyelenggaraan acara yang harus bisa menarik partisipasi masyarakat secara luas.

Hal ini ditampakkan dalam menjaring orang-orang dan instansi yang terlibat MB 2017. Selain dukungan dari BEKRAF, MB 2017 mendapat pula dukungan Fakultas Seni Desain Universitas Negeri Makassar dalam melaksanakan kegiatan.

MB 2017 juga membuka kesempatan magang dan volunteer untuk menjadi panitia pelaksana kegiatan. Berbagai macam profesi dan beragamnya mahasiswa dengan jurusan berbeda menjadikan formasi panitia pelaksana MB 2017 menjadi menarik.

Selain berbagai dukungan yang didapatkan, beberapa program partners juga dijalin, salah satunya dengan Koalisi Seni Indonesia (KSI). Bersama KSI, MB 2017 melaksanakan program Cultural Hotspots: Temu Seniman Perempuan selama 2 hari, tertanggal 15-16 November 2017.

Pada program ini para seniman perempuan yang terdiri dari beberapa kota di Indonesia bercerita tentang perkembangan seni rupa yang terjadi di kota mereka masing-masing. Mereka menceritakan pula berbagai kendala yang kerap didapatkan seniman dalam kerja-kerjanya. Prpgram ini menunjukkan bahwa MB 2017 merangkul seluruh seniman dari berbagai kalangan, termasuk seniman-seniman perempuan.***

sumber foto: instagram @makassarbiennale

Related posts