Juli 16, 2019

Melintasi Sekat Kota, Merekati Warga

Seni dapat menjembatani keragaman Jakarta, tapi hal itu tidak mungkin terjadi apabila kegiatan seni terpusat di satu daerah saja. Roadshow Art on the Spot adalah usaha untuk membuka ruang-ruang baru.

berita-RAOS-program-02_id-1600x1063

Seni tidaklah terbatas di galeri, tidak juga melulu terwujud sebagai pameran. Praktik berkesenian sejatinya lebih luas lagi, terwujud dalam berbagai bentuk dan dilakoni oleh bermacam-macam kalangan. Jakarta Biennale tidak menutup mata terhadap kemungkinan-kemungkinan ini. Sudah menjadi tradisi dalam penyelenggaraan Jakarta Biennale untuk merangkul khalayak ramai dan menjamah ruang-ruang yang mereka huni.

Titik mulanya adalah Jakarta Biennale XIII 2009: ARENA. Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, Jakarta Biennale kala itu memanfaatkan ruang publik sebagai lokasi karya dan proyek seni rupa, mendampingi pameran yang berlangsung di galeri. Pola serupa kembali dilaksanakan pada penyelenggaraan berikutnya dan diperluas cakupannya pada Jakarta Biennale 2013: SIASAT. Ruang-ruang publik tidak lagi sekadar menjadi ruang singgah dan menetap karya, tapi turut melibatkan warga melalui kegiatan komunitas-komunitas setempat di berbagai wilayah Jakarta.

Tahun ini, sebagai lanjutan dari perwujudan komitmen terhadap publik, Jakarta Biennale 2015 mengadakan Roadshow Art on the Spot (RAOS) dari akhir Agustus sampai Oktober. Program ini merupakan hasil kolaborasi Jakarta Biennale dengan Koalisi Seni Indonesia—lembaga yang menaungi dan merawat jaringan berbagai pegiat dan komunitas seni—dan Jakarta 32oC—organisasi penyelenggara festival dua tahunan karya seni visual mahasiswa se-Jakarta.

Mengusung tema Hidup Itu Seni, RAOS akan menyambangi dua puluh lokasi di ibukota. Di masing-masing lokasi tersebut, tim Jakarta Biennale 2015 mengajak sejumlah seniman untuk mengadakan kegiatan bersama warga atau komunitas setempat. Kegiatannya bervariasi, bisa kelas atau lokakarya, bisa juga merespons lingkungan sekitar dengan karya seni. Individu dan kolektif seniman yang berpartisipasi dalam RAOS adalah seniman The Popo, Ika Vantiani, dan Jeany; fotografer Anton Ismael; ilustrator Lala Bohang dan Jayu Julie; seniman video Gelar Agryano; komikus Reza Mustar alias Komikazer; seniman kertas dan pesulap Kiswinar; kelompok grafiti Gardu House; dan kelompok performans PADJAK.

“Tema Hidup Itu Seni kami pilih karena kami melihat hidup dan seni sebagai dua hal yang tak terpisahkan. Kita sering lupa bahwa banyak hal yang kita lakukan atau temui sehari-hari sebenarnya memuat unsur seni. Waktu sekolah dulu, kita kan suka menggambari buku catatan dan meja. Waktu masih kecil, gambar-gambarin meja. Pas sudah gede, bikin grafiti. Sama saja ‘kan,” jelas Eko Harsoselanto, koordinator program RAOS.

“Itu baru satu contoh, dan masih banyak lainnya. Bisa jadi kita yang selama ini terlalu kaku, terlalu sempit dalam melihat seni,” tambahnya. “Buat saya seni itu katarsis, main-main, siasat, strategi menghadapi dunia yang terus berubah. Seni bukan hanya soal pameran di galeri. Seni itu lebih fleksibel, lebih dekat dari yang kita kira. Seni adalah pandangan hidup.”

Persinggahan pertama RAOS berlangsung pada 19 Agustus di kawasan Tanah Merah, Plumpang, Jakarta Utara. Tim Jakarta Biennale 2015 mengundang Hari Prast, komikus, untuk mengadakan lokakarya menggambar bersama Sanggar Anak Harapan dan anak-anak setempat. Persinggahan berikutnya adalah daerah Utan Kayu, Jakarta Timur, bersama Jeany pada 23 Agustus. RAOS juga berencana mengadakan kegiatan di daerah Muara Angke, Marunda, Penjaringan, beserta beberapa perguruan tinggi dan taman kota.

Membaca nama-nama tempat yang disasar RAOS sekilas bisa mengundang pertanyaan. Pasalnya, daerah seperti Plumpang dan Muara Angke bukanlah daerah yang dikenal akrab dengan kegiatan seni. Ini bukannya tanpa sebab. “Jakarta terlalu beragam isinya, juga tersekat-sekat oleh bentuk kotanya. Seni dapat menjembatani itu semua, tapi itu takkan bisa terjadi kalau kegiatan seni terpusat pada satu tempat saja. Kita harus berinisiatif mendatangi, membuka ruang-ruang baru,” ujar Eko. “Selain itu ada keinginan juga untuk menepis anggapan kebanyakan orang, kalau warga dari kelas ekonomi bawah tidak punya selera seni, tidak punya kemampuan seni. Jangan salah. Coba lihat lukisan di bak truk, misalnya. Itu seni, itu butuh kemampuan tersendiri. Orang yang mengaku seniman saja belum tentu bisa berkarya seperti itu.”

Kabar teranyar program Roadshow Art on the Spot dapat disimak di website Jakarta Biennale dan terus disiarkan via akun Twitter @jakartabiennale. (AJP)

Related posts