Oktober 20, 2017

Memaknai Kembali “Komik Indie” oleh Raka Ibrahim

poster-horz2

Oleh: Raka Ibrahim

Dinding Bentara Budaya Jakarta tampak penuh dengan imaji. Mulai dari potongan gambar-gambar yang disusun serupa puzzle, corat-coret di atas kertas yang direbahkan di lantai, hingga mural besar penuh warna yang jadi pojok favorit selfie para pengunjung. Dari tanggal 8 Mei sampai 16 Mei, pameran Retrospektif Komik Indie: 10 Tahun Akademi Samali menyajikan potret perkembangan komik Indonesia lewat koleksi komik dari perpustakaan Akademi Samali – sebuah komunitas belajar seni visual dan naratif yang didirikan pada tahun 2005 di jalan Samali, Jakarta – dan dari sumbangan pribadi para seniman yang turut serta. Total 24 orang komikus turut serta. Mulai dari komikus veteran seperti Djair Warni, generasi penerusnya seperti Tita Larasati dan Aji Prasetyo, hingga komikus generasi baru seperti Toro Elmar.

Yang mencolok tentunya adalah pemilihan kata ‘indie’ sebagai imbuhan pameran ini. Narasi-atau lebih tepatnya, keluhan-yang umum diulang-ulang adalah bagaimana komik Indonesia seolah-olah menjadi tamu di negara sendiri. Kita merindukan masa-masa kejayaan komik di era pra-70’an, di mana Gundala Putra Petir, Wiro Sableng, Jaka Sambung, hingga Si Buta dari Gua Hantu merajai rak buku pembaca komik Indonesia. Jelang dekade 80’an hingga berpuluh-puluh tahun setelahnya, dunia komik Indonesia seperti redup dan kehilangan tajinya, kalah bersaing dengan influx komik asing. Apakah lantas, komik indie yang terkenal dengan penyebarannya lewat fotokopi menjadi siasat atas habisnya ruang bagi komik lokal di arus utama?

Rupanya, tidak sesederhana itu. Jejaring yang digunakan oleh komik Indonesia pada “masa jayanya” untuk menyebarkan karya tak sama dengan yang terpikir sekarang. “Kondisi yang sering disebut vakum itu cukup relatif apabila kita melihat detailnya,” terang Hikmat Darmawan, peneliti, co-kurator pameran, dan salah satu pendiri Akademi Samali. “Ini sebetulnya lebih berhubungan dengan perubahan infrastruktur penerbitan buku, termasuk komik, di Indonesia, yang mengalami pergeseran pada 1980-an.”

“Sejak 1950-an hingga 1980-an, praktis tak ada jaringan retail buku yang terpusat,” lanjutnya. “Distribusi bertumpu pada toko-toko buku kecil atau individual, atau (khususnya dalam kasus komik) melalui jalur distribusi agensi, yang kemudian tersebar ke taman-taman bacaan di seluruh indonesia. Taman bacaan itulah yang jadi tumpuan utama penjualan komik indonesia. Dalam kata lain, itulah pasar ‘mainstream’ komik Indonesia.”

Pada dekade 1980’an, kondisi ini berubah. “Infrastruktur penerbitan mengubah tumpuan distribusi bukunya,” ucap Hikmat. “Gramedia mulai membangun jaringan toko bukunya pada 1981, dan praktis selama 1980’an, jalur taman bacaan berguguran. Toko buku jadi tujuan utama pembeli buku, termasuk komik.”

Ketika jalur distribusi buku dikendalikan oleh toko buku retail yang terpusat, ruang bagi komik Indonesia perlahan-lahan tergerus. Selain pertimbangan komersil, persoalan mendasar seperti bagaimana penguasa dan akademisi pada masa itu memandang peran komik dalam masyarakat, turut serta dalam meminggirkannya. “Dalam kasus komik, ada masalah standardisasi yang menempatkan komik sebagai ‘bacaan anak,’” lanjut Hikmat. “Ini pandangan umum dari kaum pendidik yang diadopsi oleh toko buku, khususnya oleh grup Gramedia. Standar ‘bacaan baik’ juga biasa mengadopsi standar perpustakaan. Sampai 2000-an, di Indonesia khususnya, komik tidak masuk perpustakaan karena asumsinya tidak memenuhi standar ‘bacaan baik.’” Maka, gugurlah banyak komik lokal yang memang “mayoritas buat orang dewasa, macam komik silat.” Komik-komik ini gagal memenuhi standar komik sebagai ‘bacaan anak’ maupun ‘bacaan baik.’

djair warni-horz3
dari kiri ke kanan: karya Djair Warni, karya Aji Prasetyo, karya Toro Elmar

Pada saat bersamaan, ruang distribusi yang sebelumnya dimanfaatkan komik lokal mulai hilang. “Komik Indonesia pelan-pelan kehilangan pasar,” tutur Hikmat. “Taman-taman bacaan banyak yang gugur. Eksperimen penerbit membuat komik yang layak masuk toko buku jadi terlalu mahal. Harga jual pun jadi tak menarik buat pembeli. Maka, toko buku lebih suka menampung komik-komik terjemahan dari Eropa karena lebih mudah dan murah. Hingga di pertengahan akhir 1980-an, komik-komik Jepang pun masuk.” Pada saat itu, sebenarnya komik Indonesia masih ada yang bertahan di toko buku. Namun, yang berhasil lolos sensor dan kategorisasi ketat hanyalah komik bertemakan agama dan pendidikan.

Di tengah putusnya jalur distribusi komik lokal inilah, bibit-bibit gerakan komik indie mulai muncul. “Pada saat itu, moda produksi komik murah seperti komik Sorga Neraka, atau komik-komik Tumaritis dari Tatang S, misalnya, memenuhi kriteria ‘indie’, semata-mata karena main di jalur non-toko buku. Tapi, secara ideologis, mereka tidak menyatakan diri sebagai ’indie.’ Baru pada tahun 1993-1994, muncul moda produksi fotokopian, dan pernyataan tegas para komikusnya bahwa ‘ini komik indie.’”

Komik indie pun identik dengan komik fotokopian yang diinisiasi secara independen, dijual dengan harga murah meriah, dan disebarkan secara bebas. Co-kurator Mohammad Hadid, misalnya, mengisahkan dalam pengantar kuratorial tentang pengalamannya membeli komik fotokopian “di sebuah perempatan, yang bisa ditebus dengan harga dua ribu rupiah.” Komik indie, meminjam istilah Beng Rahadian selaku ketua Akademi Samali, menjadi “ruang di dalam imajinasi kita masing-masing yang tidak boleh dibiarkan kosong.”

Di tengah konteks terbatasnya ruang distribusi komik lokal di arus utama, komik indie menjadi opsi alternatif yang kemudian, juga diadopsi sebagai posisi ideologis. “Pada 1994 di Yogyakarta, beberapa komikus berlatar belakang ISI (Institut Seni Indonesia) mulai membuat komik fotokopi, dan menempatkannya sebagai sebuah bagian dari gerakan komik Indie,” terang Hikmat. “Athonk, dan para seniman di Core Comic dan Apotik Komik, misalnya, dengan tegas menyatakan komik-komik mereka sebagai komik indie. Sesudah 1998, di Bandung dan Jakarta juga tumbuh studio-studio komik ‘independen.’ Kata ‘komik Indie’ mulai banyak digunakan dengan sadar.” Namun, tak semua pelaku komik independen tersebut kukuh memegang posisi indie. “Di Bandung dan di Jakarta, sebagian pelaku ‘komik indie’ itu punya aspirasi ke mainstream,” tukas Hikmat. “Itu terlihat dari genre yang mereka tekuni dan gaya gambar serta tuturan komik-komik mereka.”

Setelah Reformasi pada tahun 1998, ranah komik lokal mengalami pergeseran secara perlahan-lahan. “Tahun 1998-2004/5, boleh dibilang adalah masa pengukuhan moda produksi dan distribusi yang bertumpu pada fotokopian, self-published, dan komunitas. Makin banyak acara-acara komunitas komik yang jadi pasar alternatif komik-komik fotokopian,” ujar Hikmat. Namun, pada saat bersamaan semakin banyak pula komikus yang menempatkan jalur komik indie sebagai titian tangga karir ke mainstream. Komikus pun mencari cara-cara alternatif untuk menghidupi diri, dengan bekerjasama membuat komik proyek untuk LSM, instansi pemerintah, dan perusahaan.

Pada pertengahan 2000’an dan setelahnya, muncul penerbit-penerbit kecil yang membuka diri untuk bekerjasama dengan komikus indie atau menerbitkan karya mereka untuk kemudian didistribusikan di toko buku arus utama. Akademi Samali, misalnya, bekerjasama dengan penerbit Cendana Art. Penerbit Curhat Anak Bangsa pun ikut berkibar dengan mengandalkan karya-karya graphic diary dari Tita Larasati dan komik karya Sheila Rooswita. Serial Lagak Jakarta karya komikus Benny & Mice, yang sejatinya sudah tenar sejak pertama terbit tahun 1997, juga terus konsisten menjadi bestseller. Sementara di bawah tanah, komik indie semakin kukuh memegang jalur indie. “Setelah pertengahan dekade 2000’an, komik fotokopi tidak lagi jadi tumpuan utama komik indie,” lanjut Hikmat. “Yang masih kukuh komik fotokopian, banyak yang masih atau makin kental menyatakan karakter ke-Indie-an mereka. Misalnya, kelompok The Daging Tumbuh yang jadi kolektif seni rupa dan mengembangkan ‘seni fotokopi’, atau perorangan macam Iwank (Kroncong Khaos).”

daging tumbuh-horz
Dari kiri ke kanan: karya Daging Tumbuh (DGTMB), karya Komikazer, karya Tita Larasati

Komik indie semakin dikukuhkan sebagai ranah tersendiri. “Kalau lihat misalnya lomba komik fotokopian yang diadakan oleh The Daging Tumbuh pada 2014, tampak bahwa ‘komik fotokopian’ rupanya makin dikokohkan identitasnya sebagai sebuah media khusus, wahana bagi eksplorasi artistik komik,” jelas Hikmat. “Definisi indie sejak semula memang beragam. Pada 1990-an sampai awal 2000-an definisi indie yang dominan adalah gerakan yang bertumpu pada komik fotokopian yang bisa dieksplorasi sebagai sebuah medium khas di dalam seni printing. Jadi, sudah ada bibit yang membatasi indie semata sebagai moda produksi dan distribusi alternatif ‘sebelum’ masuk ke mainstream.”

“Tapi, pada saat yang sama, perdebatan soal gaya juga makin rileks. Jadi, misalnya, komik bergaya manga tidak serta merta dianggap beraspirasi mainstream. Kalau memang komiknya itu sendiri edgy, tetap dianggap indie,” lanjut Hikmat.

Setelah pertengahan dekade 2000’an hingga sekarang, internet turut muncul sebagai alternatif baru bagi komikus lokal untuk mendistribusikan karyanya. Berkibarnya DeviantART dicatat Hikmat sebagai salah satu titik tolak yang penting bagi semakin dominannya internet dan produksi komik secara digital. Internet memberi peluang bagi munculnya generasi baru komikus, maupun memberi ruang alternatif bagi komikus indie untuk menyebarkan karyanya di luar medium fotokopi. Reza Mustar, yang berkarya dibawah nama pena Komikazer, termasuk salah satu generasi komik indie yang merasakan perubahan ini. “Medium fotokopi masih tetap menjadi tempat rilis alternatif dan masih mempunyai scene sendiri yang kuat, meskipun kuantitas seniman yang menggunakan medium tersebut tidak lagi sebanyak dulu,” terang Reza. “Internet di sini berperan sebagi media promosi bagi seniman-seniman yang menggunakan fotokopian sebagai mediumnya.”

Toro Elmar, seorang komikus muda, juga melihat bagaimana preferensi komikus di generasinya beralih dari medium fotokopi ke internet. “Saya rasa dengan munculnya era internet, orang pada bingung media mana yang dipakai, mana yang menguntungkan,” ujar Toro. “Karena saat era internet muncul, orang sudah jarang beli sesuatu yang bersifat cetak. Di angkatan saya dulu, kami sering sekali membuat sesuatu dalam bentuk cetak. Tapi mungkin sekarang, saya saja yang masih bikin dalam bentuk print.”

“Sebenarnya medium komik fotokopi tidak pernah ramai kalau saya rasa,” lanjutnya. “Itu bukan sesuatu yang pernah booming, tapi memang selalu konsisten muncul. Banyak juga yang sudah beralih ke internet, seperti instagram atau twitter sebagai medium karena lebih mudah, luas cakupannya, dan juga bebas ongkos produksi.”

“Internet sudah jelas menjadi ruang alternatif untuk komikus mempromosikan dan menjual karyanya,” ucap Reza. Hikmat pun melihat bahwa internet membuka peluang baru bagi komikus Indonesia, dan menjadi salah satu katalis pergeseran model bisnis para komikus. “Setelah 2011, makin banyak komikus yang membangun basis pembaca lewat media sosial,” terang Hikmat. “Selain itu, model bisnis ‘Intellectual Property (IP) Content’ semakin populer. Model bisnis ini tidak lagi membatasi komikus harus memulai karir dengan membuat komik, tapi malah lebih ke bisnis karakter dan merchandise serta alih media. Jadi film kartun, misalnya. Sekarang sih, fotokopian sudah tidak jadi pilihan utama. Internet dan self-publishing lebih jadi pilihan. Aspirasi ke mainstream, baik dari segi distribusi maupun content, juga makin kuat.”

Ketika semakin banyak komikus memanfaatkan media sosial dan Internet untuk membangun basis pembaca, bahkan industri penerbitan yang tadinya seperti sulit ditembus oleh komik indie semakin membuka diri. “Dari pengalaman pribadi saya, dari mulai menggunakan media sosial sebagai media penyebaran karya dari Komikazer pada akhir tahun 2013 sampai sekarang, hampir lebih dari 5 penerbit menawarkan untuk mencetak Komikazer,” ungkap Reza. “Jadi kesimpulan yang saya dapat, penerbit dan media hanya akan mengangkat sesuatu yang populis. Dulu, ketika saya aktif merilis komik menggunakan medium fotokopi, sedikit sekali yang menawarkan mencetaknya secara masif.”

“Sebetulnya, penerbit tidak terlalu risau apakah komik itu indie atau tidak,” jelas Hikmat. “Pertimbangan utama mereka adalah: apakah berpotensi laris atau nggak dalam pasar yang jadi cakupan distribusi/pemasarannya. Jadi, bisa saja scene komik indie di Indonesia (seperti juga di Jepang atau Amerika Serikat) jadi semacam medan pencarian bakat baru, atau produk baru.”

pengunjung-horz
Dari kiri ke kanan: karya (Alm) Didoth, karya Yudi Sutanto, karya Bijac

Persoalan yang tersisa, kalau begitu, adalah relasi komik indie dengan pemerintah. “Lebih baik dianggap sepadan saja dengan relasi antara seni dan pemerintah,” ucap Hikmat. “Ada watak berdikari yang kuat dari para komikus indie, sehingga banyak dari mereka yang tak terlalu berharap atau bahkan sangat skeptik terhadap pemerintah. Tapi, sebetulnya, pemerintah bisa berperan secara tak langsung. Misalnya lewat kebijakan yang membuka jalan bagi penciptaan pasar-pasar baru penerbitan lokal di luar Jakarta (dan luar Jawa). Seperti insentif pajak bagi kertas untuk penerbitan, dan sebagainya. Dalam praktik, ada juga model relasi komunitas dan pemerintah seperti kerjasama Akademi Samali dan Kemenparekraf selama 2012-2014, yang dijembatani ID Kreatif, untuk bikin kompetisi komik nasional dan serangkaian pelatihan komik.”

Reza dan Toro pun mengakui bahwa mendefinisikan relasi ideal antara komik indie dan pemerintah sangat sulit dilakukan. “Tidak ada yang ideal sih,” ujar Toro. “Kalau sudah online, sepertinya semua orang bisa melakukan apa saja.” Menjaga ruang bebas ini lantas menjadi persoalan yang penting. “Dukungan pemerintah yang saya rasakan sampai sekarang ini hanyalah sampai memberi kebebasan berkarya,” ungkap Reza. “Entah karena mereka memberi kelapangan dalam berkarya, atau karena mereka memang tidak pernah memantaunya.”

Sejarah siasat dan pergerakan yang direkam dalam retrospektif ini membuktikan bahwa gambar, kata dan cerita yang terangkum dalam komik akan selalu menemukan ruang. Dengan menyajikan karya dari komikus veteran hingga komikus kontemporer, pameran ini tak segan-segan untuk ikut membuktikan bahwa yang definisi ‘komik indie’ sekalipun tidak diam di tempat. Cerdiknya, mereka menyebut pergeseran ini sebagai (neo)fotokopi. “Komik indie memang telah selesai dalam wacana gerakan,” tulis Beng Rahadian. “Namun ia masih hidup sebagai spirit.”


Tulisan ini adalah liputan dari pameran Retrospektif Komik Indie: 10 Tahun Akademi Samali yang diselenggarakan di Bentara Budaya Jakarta, 8-16 Mei 2015.

Seniman yang berpartisipasi adalah: Bambang Toko, Aris Mybret, Yudis, Athonk, X-Go W, Alfa Robbi, Adimas Bayu, Aji Prasetyo, Komikazer, Iwank, Gandhi Eka, Moki, Djair Warni, Dodi Irwandi, Tita Larasati, Toro Elmar, Yudha Sandy, Kurnia Harta Winata, Milisi Komik, Bijak, PidiBaiq, Dagingtumbuh, Methal Pertiwi, dan almarhum Didoth.

Sumber foto: dok. Akademi Samali

Related posts