April 29, 2017

Membicarakan Seni Media Baru, Kuratorial, dan Seni Pertunjukan di Lokakarya Teman Seni Lombok

Penulis: M. Azhari Wathani | Editor: Fandy Hutari

Teman Seni Lombok mengadakan lokakarya untuk yang ketiga kalinya. Mereka menggandeng Koalisi Seni Indonesia dan sejumlah pegiat seni yang aktif juga dalam kampanye literasi, yakni Komunitas Rabulangit. Acara yang berlangsung selama tiga hari, 17 hingga 19 Februari 2017 itu, diadakan di sekretariat Rabulangit, Sekarteja, Selong, Lombok Timur.

Lokakarya ini dibagi tiga sesi, dengan menghadirkan tiga pemateri, yakni pegiat seni media dari Forum Lenteng, Mahardika Yudha; seniman yang aktif di sejumlah komunitas, salah satunya Serrum, MG Pringgotono; dan Syamsul Fajri Nurawat, atau yang akrab disapa Jabo.

Seni Media Baru

Di hari pertama, pemateri Mahardika Yudha menjelaskan wacana seni media, yang masih belum terlalu lama tersebar di Indonesia. Menurut Diki, sapaan akrab Mahardhika Yudha, literatur yang ditulis akademisi Indonesia mengkaji seni media terbilang jarang. Pameran terkait bentuk seni itu juga baru ramai dibicarakan pada awal 2000-an.

“Perkembangan teknologi dari tahun ke tahun semakin pesat. Oleh karenanya, pengakurasian antara perkembangan seni dan teknologi juga harus kemudian dikembangkan. Sehingga seni mampu beradaptasi dan menjadi relevan, juga up to date,” kata Diki.

Lebih lanjut, Diki mengatakan, seni media baru merupakan kombinasi antara teknologi, seni, dan medium, sehingga membentuk formulasi seni gaya baru yang disajikan dengan konsep yang lebih modern dan praktis. Ruang karya yang cukup luas, kata Diki, seolah bisa terbuka dan mudah diakses. Proses kreatif pun bisa dilakukan oleh siapapun. Misalnya saja, permainan yang memungkinkan karakter dalam permainan itu, bisa dikreasikan sedemikian rupa.

“Pemanfaatan teknologi juga menjadi keuntungan tersendiri bagi para seniman, karena berkarya dengan memanfaatkan teknologi cenderung lebih mudah,” kata Diki.

Di Indonesia, menurut Diki, seni media memiliki keunikan, seolah menjadi identitas yang tak dimiliki oleh seni media di tempat lain. Misalnya saja, antena dari wajan bekas atau tutup panci yang bisa berfungsi sebagai alat untuk meningkatkan daya serap sinyal internet. Diki mengatakan, dari segi praktik memang sudah banyak di Indonesia, tapi wacananya baru muncul dan marak dibicarakan 18 tahun terakhir.

Pembicaraan seputar seni media baru, lanjut Diki, juga diwarnai dengan berbagai dialog mengenai perkembangan teknologi dari masa ke masa. Diki juga menjelaskan munculnya aneka gaya berkarya, hingga fenomena sosial yang menyangkut perkembangan teknologi.

“Para seniman harus juga mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, termasuk perkembangan teknologi,” katanya.

Wacana seni media baru juga belum begitu marak di Lombok. Oleh karena itu, para peserta diskusi diminta untuk ikut mewacanakan, serta mencoba memulai berkarya menggunakan seni media baru. Diki pun menyampaikan kesiapannya untuk membuka ruang-ruang dialogis, membahas berbagai hal terkait seni media baru, secara langsung ataupun via dunia maya.

Kuratorial dan Simulasi Pameran

Di hari kedua, lokakarya membahas seputar kuratorial, pameran, simulasi kurasi, dan diskusi penyelenggaraan pameran. MG Pringgotono, seniman asal Jakarta yang aktif di beberapa komunitas seni, salah satunya Serrum, didapuk menjadi pemateri. Ia memiliki pengalaman yang cukup banyak tentang penyelenggaraan pameran dan kuratorial. Ia juga salah satu seniman yang menangani Jakarta Biennale.

Pringgotono menyampaikan beberapa pengalaman menarik yang ia pernah lakukan di dunia seni. Misalnya, pengalaman Serrum yang menjadi salah satu pusat perkumpulan seni di Jakarta, dan memberi ruang saling berbagi bagi para seniman. Tak hanya itu, menurut Pringgotono, Serrum juga menyelenggarakan beberapa program yang tak kalah menarik, yaitu Pasar Ilmu, Ekstra Kurilab, Praktis, dan lain-lain.

Selanjutnya, pembahasan diskusi menyinggung seputar kegiatan kuratorial. Pembahasan itu menyinggung seputar peran kurator bagi seniman, bentuk-bentuk kegiatan kurasi, teknik kurasi, fungsi kurasi, penyampaian pernyataan para kurator, serta pembahasan keterkaitan kuratorial dan pameran.

Setelah itu, Pringgotono mengulas seputar kegiatan pameran. Pringgotono menuturkan teknis penyelenggaraan pameran, yang terdiri dari pra-pameran, pameran, dan pasca-pameran.

Pra-pameran membahas seputar persiapan yang dilakukan sebelum penyelenggaraan pameran, seperti persiapan administrasi, perencanaan, brief, seleksi seniman, dan relasi. Selanjutnya, diselenggarakan pameran sesuai perencanaan dengan berbagai teknis yang ada. Terakhir, pasca-pameran yang rangkaian kegiatannya tak bisa lepas dari hubungan antara seniman, kurator, dan penikmat seni.

Setelah cukup memaparkan materi mengenai proses kuratorial, Pringgotono kemudian mengajak peserta untuk praktik sebagai seorang kurator. Para seniman dipersilakan untuk menunjuk karya yang mereka miliki, dan memaparkan hal-hal yang terkait dengan karya mereka, seperti konsep, teknis, latar belakang, nilai yang disampaikan, dan beberapa hal lain seputar karya mereka.

Simulasi terus berlangsung. Para seniman bukan hanya “berevolusi” menjadi kurator, mereka juga tiba-tiba berubah menjadi para pemilik galeri seni, bos kaya, kurator internasional, bahkan mendirikan yayasan.

Tentu saja simulasi-simulasi tersebut berlangsung seru. Sesi yang berlangsung panjang, hingga 12 jam itu, tentu sangat berharga, terutama bagi para seniman di Lombok.

Seni Pertunjukan di Lombok

Di hari ketiga, materi tentang pergerakan seni pertunjukan di Lombok disampaikan Syamsul Fajri Nurawat, yang akrab disapa Jabo. Di awal diskusi, Jabo menceritakan sejarah perkembangan seni pertunjukan dari 1928 hingga sekarang. Jabo mengupas persoalan-persoalan mendasar yang ada di pergerakan seni pertunjukan. Jabo lebih banyak membawakan materi ke sesi diskusi lepas. Materinya dilanjutkan dengan evaluasi, yang sampaikan Muhammad Ghozali dari Komunitas Pasir Putih.

Dalam evaluasi terkait Teman Seni Lombok, para peserta lokakarya membahas usulan Sugar Nadia Azier dari Koalisi Seni Indonesia untuk mengisi situs Teman Seni Lombok, yang sudah dibuat di lokakarya sebelumnya. Kemudian, Ghozali meminta komitmen seniman yang tergabung dalam Teman Seni untuk mengirim ulasan dari setiap kegiatan mereka di komunitas masing-masing.

Setelah itu, sesi ini ditutup dengan memilih komunitas yang siap menjadi tuan rumah untuk lokakarya Teman Seni selanjutnya. Sebelumnya, sejumlah peserta menawarkan diri menutup sesi dengan memainkan sebuah lagu ciptaan mereka sendiri. Lagu pun menjadi penutup yang syahdu.

 

Related posts