Agustus 21, 2017

Membincangkan Metode Alternatif Edukasi Seni di ESOA

Irra, salah satu pendiri ESOA, memberikan sambutan pada pertemuan guru seni di sekolah tersebut pada 30 Oktober 2014

Irra, salah satu pendiri ESOA, sedang memberikan sambutan pada pertemuan guru seni di sekolah tersebut pada 30 Oktober 2014

Pada Oktober lalu, tepatnya tanggal 30 Oktober 2014, telah diselenggarakan pertemuan guru seni dari beberapa sekolah di Jakarta dan Bogor. Pertemuan ini hasil kerjasama Erudio School of Art (ESOA) dan Koalisi Seni Indonesia (KSI). Rencananya, pertemuan ini tidak hanya berlangsung sekali dan diusahakan agar berkembang ke tahap yang lebih jauh agar jaringan antara para guru seni, ESOA, dan KSI bisa terus terbina.

Tujuan diadakannya pertemuan ini adalah memberikan wawasan lebih kepada para guru seni tentang materi apa saja yang bisa diajarkan kepada anak-anak tentang dunia seni, selain teknik menggambar. Lebih jauh lagi, para guru seni diingatkan tentang kemampuan seni dalam menyederhanakan proses distribusi pengetahuan yang lain, seperti sejarah, biologi, matematika, dan lain-lain. Jenis-jenis mata pelajaran di sekolah yang seringkali menjadi momok bagi anak-anak. Tapi, yang lebih penting dari itu semua adalah mengingatkan kembali para guru seni tentang pentingnya pendidikan seni bagi kehidupan anak-anak, sehingga para guru seni tak mudah patah arang ketika pihak sekolah hanya memberikan waktu satu kali dalam seminggu – itupun hanya dua jam – untuk mengajarkan seni.

Pemateri hari itu ada dua, yaitu Mia Maria dan Meiske Taurisia. Materi pertama diisi oleh Mia. Seorang kurator profesional yang tahun lalu menjadi anggota dalam tim kuratorial Singapore Biennale. Mia juga adalah anggota Koalisi Seni Indonesia dan pemerhati pendidikan. “Aku mulai perhatian pada pendidikan seni karena aku punya dua anak yang masih kecil,” akunya.

Hari itu, Mia memberikan materi tentang atmosfer seni rupa Indonesia kini. Ia merasa materi ini penting untuk diketahui oleh para guru seni agar anak didik mereka tak cuma mengenal kata “seniman” dalam kamus seni rupa mereka, tetapi juga kata “museum”, “galeri”, “balai lelang”, sampai “forum seni rupa internasional”. Dengan begitu, Mia berharap, anak-anak Indonesia bisa memiliki pilihan cita-cita yang lebih variatif terkait dengan dunia seni. Sehingga, jumlah antara seniman dan elemen lain dalam dunia seni rupa bisa lebih seimbang.

Ada dua poin penting yang Mia sampaikan hari itu terkait atmosfer seni rupa Indonesia sekarang. Pertama, tentang bagaimana kontribusi besar seni rupa Indonesia yang sayangnya masih belum disadari oleh negara dan masyarakat. Ia menyebutnya dengan istilah “keterlibatan”. Keterlibatan-keterlibatan dalam skala internasional, yang ternyata tidak hanya menguntungkan para pelaku seni rupa dari segi finansial, tapi juga negara dari segi kebudayaan.

“Tanpa negara kita sadari, seni rupa sudah menjadi duta budaya Indonesia yang sangat kuat di forum global, terutama Asia Tenggara,” katanya. Ia pun menegaskan kondisi ini dengan memaparkan fakta mencengangkan tentang jumlah keterlibatan pelaku seni rupa Indonesia dalam forum internasional.

“Dari tahun 2009 sampai sekarang kita memiliki sekitar 145 keterlibatan. Maksudnya keterlibatan adalah para pelaku seni rupa diundang, dibayar, bahkan digaji oleh negara lain untuk entah berpameran, mengkurasi, atau berbicara di forum-forum internasional,” lanjutnya. Sebuah kondisi yang selama ini tersembunyi dari publik, hingga membuat dunia seni rupa sering dipandang sebelah mata.

Hal kedua yang juga penting, yang Mia sampaikan hari itu, adalah tentang perlunya mengenalkan kepada anak-anak soal karya-karya seni rupa kontemporer hari ini. Ia menyebut beberapa nama seniman, seperti Eko Nugroho, FX Harsono, seniman-seniman yang terkumpul dalam komunitas Ruang Rupa, dan lain-lain. Menurut Mia, ini perlu dilakukan agar anak-anak punya pemahaman baru tentang proses berkesenian. Bahwa, “seni sekarang bukan lagi dilihat sebagai ajang galau-galauan sendiri dari si seniman. Sekarang, art is not just for art. Seni sekarang lebih ditekankan sebagai media komunikasi,” katanya dengan senyum.

Para guru seni yang hadir saat itu. Sebagian besar berasal dari Jakarta, tetapi ada pula yang datang dari Bogor.

Pemateri kedua, setelah Mia, adalah Meiske. Meiske adalah produser babibutafilm dan sutradara film. Karyanya yang berjudul Postcards From The Zoo masuk sebagai nominasi Golden Bear, Berlinale 2012. Sama seperti Mia, Meiske pun adalah anggota Koalisi Seni Indonesia.

Hari itu, Meiske lebih terfokus pada bagaimana menggunakan film sebagai sarana edukasi. Ia menggunakan film dari Edwin, berjudul Dajang Soembi, Perempoean jang Dikawini Andjing sebagai contoh bagaimana film bisa membantu para guru seni untuk bercerita tentang hal lain seperti legenda Indonesia – yang dalam film Edwin adalah legenda Sangkuriang. Ini karena film dapat memancing respon anak-anak tentang apa yang tersembunyi di balik sebuah film. Apalagi kalau filmnya digarap dengan visual yang unik dan tak biasa.

“Kita ga pernah punya satu apresiasi tunggal ketika kita nonton film. Ini kenapa saya suka film,” ujar Meiske.

Meiske memang menekankan tentang pentingnya apresiasi dan ekspresi yang terjadi saat menonton sebuah film. Ia menyebutnya sebagai “pengalaman menonton”. Apresiasi dan ekspresi inilah yang bisa dikembangkan oleh para guru seni. Guru seni tinggal memilih topik mana yang mau dibicarakan lebih jauh. Bisa historisnya, bisa kostumnya, bisa musiknya, bisa macam-macam. Tapi sebelum itu, ada yang perlu diingat oleh para guru seni, “tak ada apresiasi dan ekspresi yang lebih benar dari yang lain,” ungkap Meiske.

Selain memberikan wawasan tentang guna lain dari pemutaran film, Meiske juga memberikan ide lain kepada para guru seni terkait penggunaan film sebagai sarana edukasi. Menurutnya, guru seni tidak harus selalu memutar film untuk mengajarkan sesuatu hal yang lain lewat film. Guru seni juga bisa memberikan tugas membuat film pendek kepada anak-anak. Apa yang bisa diajarkan dari tugas ini adalah kerjasama tim dan cara berdiskusi. Sedangkan, teknis, menurut Meiske, malah tak terlalu penting untuk diajarkan. Ini karena, “dengan perkembangan teknologi seperti sekarang, anak-anak bisa belajar teknis secara mandiri. Apa yang perlu ditekankan para guru adalah proses pertukaran pikirannya,” lanjut Meiske.

Sebagai penutup presentasinya, Meiske menginformasikan kepada para guru seni tentang tempat yang bisa mereka kunjungi untuk mendapatkan film-film sebagai bahan ajar. Meiske merekomendasikan Sinematek, tempat tersimpannya arsip film di Jakarta yang didirikan oleh Misbach Yusa Biran dan Asrul Sani pada tahun 1975.

Ia merekomendasikan tempat ini karena Sinematek menyimpan sekitar 2.700 film, kebanyakan film Indonesia, dan sejumlah karya referensi. Namun, karena film-film ini hanya boleh ditonton di studio Sinematek, maka para guru seni bisa mengagendakan kunjungan kelas ke tempat ini untuk menonton bersama.

Diskusi hari itu ditutup pada pukul 5 sore. Hasil dari diskusi hari itu adalah ide tentang penyelenggaraan pameran metode alternatif edukasi seni untuk para guru seni di sekolah, setingkat SD, SMP, dan SMA. Mereka juga berencana untuk menerbitkan buku sebagai output dari forum guru seni ini.

“Kedepannya, kami berencana untuk membuat buku metode edukasi seni biar para guru seni terus berinovasi, juga untuk memajukan metode pengajaran. Terus juga rencana bikin pameran. Biar jaringan antar guru ini terus terjaga dan berkelanjutan,” ungkap Marda, Kepala Sekolah ESOA.

Ide ini muncul setelah mendengar metode edukasi seni dari para guru seni yang sangat menarik. Dari cerita mereka, dapat diketahui kalau metode ajar guru-guru seni ini cukup berhasil memberikan pemahaman tentang seni kepada anak didik mereka. Bahkan, lebih jauh lagi, metode ajar guru seni ini dapat digunakan untuk memberikan pemahaman tentang pelajaran lain kepada anak-anak. Salah satu contohnya adalah metode mengajar dari MG Pringgotono dari Serrum. Ia menggunakan seni untuk mengajar matematika di ESOA.

“Kaget juga waktu Serrum akhirnya ngajar matematika. Kan latar belakangnya seni rupa. Kok ngajarnya matematika. Tapi, kami mau saja. Karena kami berpikir kenapa matematika ga menarik untuk anak-anak sekolah? Jadi, saya berusaha bekerja disitu. Tapi, saya ga kerja sendirian. Saya panggil guru matematika beneran untuk ngajarin saya sebenarnya intinya matematika itu apa. Nah, dari situ saya olah,” cerita MG sambil tersenyum.

Selain MG, guru-guru seni yang hadir saat itu juga memiliki metode mengajar yang tak kalah seru. Dalam kelas seni mereka, para guru seni yang hadir pada hari itu ternyata tidak hanya mengajarkan teknik menggambar tetapi juga metode riset sederhana dalam proses berkesenian. Mereka juga mengenalkan tentang kebebasan berpikir tapi penuh tanggungjawab, lewat cara-cara yang tak biasa. Beberapa guru, bahkan sudah menggunakan film sebagai sarana untuk mendidik moral anak muridnya, mengajarkan mereka tentang kepedulian terhadap sesama dan lingkungan hidup. Metode-metode inilah yang perlu disebarkan ke guru-guru seni dari sekolah yang lain, salah satunya lewat buku.

Lalu apa kata para guru seni tentang ide ini?

“Itu bagus ya. Mungkin ke depannya selain bikin buku dan pameran, bisa bikin workshop juga tentang metode pengajaran seni. Soal cara-cara atau ide-ide menggunakan seni untuk mengajarkan pelajaran lain,” kata Nina dan Linda dari Homeschooling Kak Seto, menutup perjumpaan hari itu.

Related posts

1 Comment

  1. Pingback: Seniman dan Perannya dalam Advokasi Seni | KSI – Koalisi Seni Indonesia

Comments are closed.