Juni 19, 2018

Meneruskan Kebenaran Informasi Sejarah

Penulis: Baiq Ilda Karwayu* | Editor: Fandy Hutari

Pada 18 Februari 2017, saya hadir dalam seri diskusi Koalisi Seni Indonesia di Ruang Baca Amil, Jalan Amil, Pejaten, Jakarta Selatan. Diskusi ini bertajuk “Seni, Sejarah, dan Ingatan”. Dua narasumber, yakni Agung Kurniawan dan Yulia Evina Bhara, hadir untuk memaparkan dua peristiwa sejarah yang sama, namun dengan cara berbeda.

Ebe, panggilan akrab Yulia Evina Bhara, menceritakan proses penciptaan museum temporer “Rekoleksi Memori”. Ia menjelaskan, bagaimana ingatan tentang tragedi 1965 itu disuguhkan dengan samar-samar, tapi tidak dengan main-main. Sedangkan Agung Kurniawan menyuguhkan album Dialita “Dunia Milik Kita”. Sama seperti Ebe, Agung juga mengangkat isu tragedi 1965.

Kedua pemateri menggarap isu yang saling terkait satu benang merah, yang ujungnya hanya satu tujuan, yakni mengemas hasil riset sejarah alternatif supaya mudah diterima generasi muda. Ebe memiliki alasan membuat proyek seni ini. “Karena anak zaman sekarang sudah tidak lagi mempan dijelaskan secara utuh,” kata Ebe.

Sementara Agung mengatakan, generasi sekarang harus diberi informasi secara kilat. “Generasi sekarang, generasi kilat. Tinggal beri mereka tautan atau link tentang kebenaran (tragedi) 1965, mereka akan buka. Dan dengan sendirinya akan mencari informasi lebih,” kata Agung.

Forum diskusi sepakat, jika berbicara mengenai korban tragedi 1965, bukan para orang tua yang disebut sebagai korban. Justru, generasi muda yang lebih tepat disebut sebagai korban. Terutama generasi 1990-an dan 2000-an.

Kita bisa membayangkan, bagaimana mereka merekam ingatan sejarah yang salah, lalu diteruskan ke generasi berikutnya. Seperti sebuah roda, hal ini berputar dan berlangsung terus-menerus. Jika tak diputus mata rantai itu, tak menutup kemungkinan bangsa kita menjadi bangsa yang tak lagi mengenal sejarahnya sendiri.

Pematung senior, Dolorosa Sinaga, yang hadir dalam diskusi itu mengatakan, niatan untuk memutus mata rantai kekeliruan informasi sejarah tadi harus disampaikan dengan serius dan konsisten. Terutama, kata Dolorosa, membangkitkan kesadaran generasi muda kepada semangat mencari kebenaran sejarah bangsanya. Dolorosa pun mengingatkan, salah satu penggalan sejarah yang juga dibahas di diskusi ini, yaitu peristiwa 1998, sebagai sebuah hal yang fatal kalau generasi muda, terutama mahasiswa, tak mengetahui rekam jejak sejarahnya.

Di sisi lain, peran media ikut dalam “pembungkaman” sejarah. Perbedaan pengetahuan di pusat (Jakarta) dan daerah, menjadi buktinya. Hal tersebut belum ditambah dengan kepekaan kita semua dalam melihat lebih detail bekas peristiwa sejarah tadi di sekitar kita.

Keturunan korban, eksekutor, atau saksi mata, tak berani mengakui dan menindaklanjuti untuk terus mencari kebenaran. Padahal hal ini penting, untuk memberikan informasi yang benar kepada generasi kita selanjutnya. Salah satu cara untuk membuka tabir sejarah itu adalah dengan bergerak di bidang kesenian dan riset budaya. 

 

*Baiq Ilda Karwayu lahir di Denpasar 10 Juli 1993. Pengajar Bahasa Inggris di Mataram Lingua Franca Institute (MaLFI). Aktif mengkaji sastra di Komunitas Akarpohon Mataram. Puisi dan opininya terbit di koran-koran daerah dan nasional.

Related posts