Juni 27, 2017

Menyingkap Jaring Laba-Laba di PPFN

IMG-20150412-WA0035

Oleh: Raka Ibrahim

“Apakah yang terpikir oleh mereka yang menelantarkan? Apa yang terpikir oleh para pengurus dan staff di sini saat mereka berlalu lalang setiap hari dan menyaksikan kompleks film ini perlahan-lahan rusak dimakan waktu?”

Satu tahun yang lalu, sekumpulan sineas dan pecinta film yang tergabung dalam Lab Laba-Laba mendatangi PPFN dengan pertanyaan ini. Mereka kemudian menandatangani MoU kerjasama dengan PPFN yang isinya memberikan hak kepada mereka untuk mempelajari dan memfungsikan kembali alat-alat yang tersisa di dalam gedung laboratorium. Timbal baliknya, mereka harus membersihkan gedung tersebut dan mendata ulang judul film hasil produksi PPFN yang masih ada. Mengingat gedung tersebut terbengkalai selama 12 tahun dan dijauhi karena dicurigai berhantu, tugas Lab Laba-Laba tidak mudah. Proses mendata ulang dan merestorasi ribuan koleksi seluloid PPFN itu membutuhkan waktu yang sangat lama.

Pameran Lab Laba-Laba, yang diselenggarakan di Gedung Laboratorium PPFN, kemudian menjadi rekam jejak dari perjalanan mereka menghidupkan kembali laboratorium tersebut. Ada dua belas seniman yang terlibat: Edwin, Tumpal Tampubolon, Anggun Priambodo, Dyantini Adeline, Yovista Ahtajida, Rizki Lazuardi, Fransiskus Adi Pramono, Ruddy Hatumena, Luftan Nur Rochman, Ari Dina Krestiawan, Anton Ismael, dan MG Pringgotono. Mereka diundang untuk menginterpretasi sejarah gedung ini dan perfilman Indonesia. Mereka pun diajak untuk bermain-main dengan teknologi analog dan seluloid yang telah ditinggalkan industri film.

Hasilnya adalah dua belas karya yang memenuhi kompleks laboratorium raksasa tersebut. Karya yang menggelitik, mengundang nostalgia, dan merangsang pemikiran. Meski subyek yang diangkat kental dengan unsur sejarah, namun minim romantisme. Pembacaan Lab Laba-Laba tentang kebijakan perfilman di masa Orde Baru, dengan PPFN sebagai ujung tombak dan eksekutornya, sepenuhnya modern. Beberapa diantaranya, karya Anton Ismael, Ferancis, Edwin, Rizki Lazuardi, dan Ruddy Hatumena.

anton2
karya Anton Ismael, Bagus!

Karya Anton Ismael berjudul Bagus! menghadirkan benda-benda dekorasi rumah seperti poster iklan, poster film, lukisan, dan piagam. Lewat karya ini, ia mengintervensi pemahaman umum atas rumah. Ia mencoret sebuah poster iklan lama dengan slogan penuh harap – “saya ingin setiap anggota keluarga saya terlindungi dengan baik” – dengan tulisan “jangan bicara tentang petuahmu, ini jaman kami! Tapi terima kasih atas apa yang telah diberi…” Sementara di sebelahnya, lukisan leluhur dan panorama pedesaan tercoret dengan spidol dan cat.

Lain lagi dengan Ferancis. Karyanya yang berjudul Pseudo Pesta Demokrasi memamerkan imaji kebahagiaan dan antusiasme dukungan publik saat kampanye Pemilu 1982. Ia menemukan filmnya dalam sebuah kardus berdebu di lantai dua Lab PPFN. Lewat karya itu, Ferancis bertanya satir, “Untuk apa mereka berbahagia saat pemenang Pemilu sudah jelas?” Sementara itu, di seberang karya Feransis, Vis a Vis II karya duo The Youngrr menyajikan pertentangan antara meja kerja pegawai PPFN dengan meja kerja anggota Lab Laba-Laba. Ditemani cuplikan gambar dari diklat terakhir PPFN di IKJ dari tahun 1999, karya tersebut membandingkan cara kerja pegawai PFN yang penuh birokrasi dengan cara kerja Lab Laba-Laba yang tak terstruktur, namun tekun.

Karya lainnya mengkritik logika kebijakan pemerintah yang dominan pada waktu itu dan masih berlangsung hingga kini. Memotong Film karya Edwin mempertanyakan cara memotong film oleh Lembaga Sensor Film (LSF) yang bertahan sejak dulu. Lewat karyanya, ia menawarkan cara alternatif memotong film dengan memotong lapisan emulsi di pita seluloid. Proses yang ia sebut “memotong cahaya.” Sebuah logika pemotongan yang, menurutnya, lebih masuk akal dan terukur ketimbang memotong berdasarkan tafsir moralistik. Nada serius ini kemudian dilengkapi oleh Peluru Panas Wanita Ibu Kota karya Rizki Lazuardi. Menggabungkan sekumpulan frame asli dari film 35mm yang dipotong oleh LSF, ia membuat slideshow kocak yang memparodikan plot-plot picisan film laga dan erotis Indonesia pada tahun 70’an hingga 90’an.

edwin
Karya Edwin, berjudul “Memotong Film”

Sementara di lantai bawah, Jejak Si Kancil dan Api Suci karya Ruddy Hatumena mengisahkan sebuah kebetulan yang miris. Ruddy mengisahkan tentang pengalaman para anggota Lab Laba-Laba yang tak sengaja melihat pembakaran beberapa lembar sel film animasi di halaman PFN. Alasannya, menyedihkan. Sel tersebut dianggap sudah mulai rusak dimakan rayap dan dapat merusak tumpukan sel animasi lain di gudang. Alasan lainnya, gudang itu sendiri sudah mulai kehabisan tempat. Maka tanpa tedeng aling-aling, sel film yang memiliki nilai sejarah tinggi tersebut dibakar begitu saja. Untuk menyajikan kisah ini, Ruddy memamerkan beberapa sel film animasi “Sang Kancil” yang sudah separuh terbakar, lengkap dengan dokumen-dokumen pemesanan dan rekaan ulang film animasi tersebut.

Shelvy Arifin, Direktur Utama PPFN, menyebut pameran ini sebagai ucapan selamat tinggal yang baik untuk gedung laboratorium bersejarah itu. Artinya, hidup gedung ini tinggal menghitung hari. Lewat pernyataannya, Shelvy telah memutuskan untuk merubuhkan gedung tersebut dan membangun kompleks baru. Isinya studio syuting, gedung teater dan pertemuan, hingga bioskop dan restoran, yang semuanya menerapkan sistem sewa. Alasannya, sebagai sebuah BUMN, PPFN perlu menghasilkan uang. Dan Gedung Laboratorium tersebut sudah tak memiliki fungsi ekonomis apapun bagi mereka.

Langkah ini ditentang keras oleh Lab Laba-Laba dan banyak pegiat film lainnya (selengkapnya bisa dibaca di artikel Mempertanyakan PPFN). Mereka enggan melihat gedung bersejarah ini disapu bersih dan digantikan oleh kompleks komersil. Mereka berpendapat bahwa rencana ini akan mencerabut fungsinya sebagai ruang bersama. Selain itu, rencana ini kurang strategis dan masuk akal secara komersial. Namun, diantara itu semua ada dampak buruk yang lebih nyata: jika gedung tersebut diruntuhkan, mau dikemanakan semua arsip di dalamnya?

Terkait hal ini, sebuah pengakuan menarik muncul dari seorang pegiat Lab Laba-Laba yang tak ingin disebutkan namanya. PPFN, menurutnya, sebenarnya tak tahu sama sekali aset apa yang ada di gedung tersebut. Ketika tim Lab Laba-Laba masuk dan menemukan ratusan film seluloid yang terbengkalai, yang terkejut tak hanya mereka. Pihak PPFN pun kaget akan temuan mereka.

Sampai saat ini, Lab Laba-Laba masih mengusahakan negosiasi dengan PPFN, sehingga restorasi gedung tersebut dapat dilakukan tanpa harus meratakannya dengan tanah. Mudah-mudahan, perjuangan para pegiat Lab Laba Laba dan kawan-kawan mereka untuk menyelamatkan pojok bersejarah ini tak sia-sia. Karena mestinya, pameran ini menjadi awal baru yang segar bagi gedung tersebut, bukan bab penutup yang ramai, namun diselimuti melankolia.


Tulisan ini adalah ulasan atas pameran Lab Laba-Laba. Pameran Lab Laba-Laba sendiri adalah bagian dari rangkaian acara Mengalami Kemanusiaan yang dibuka dengan acara FILM MUSIK MAKAN pada 21 Maret 2015 di GoetheHaus Jakarta. Selama bulan April, bersamaan dengan pameran ini, diselenggarakan pula program pemutaran #KOLEKTIFJAKARTA di Kineforum DKJ, Taman Ismail Marzuki.

Pameran ini diselenggarakan pada 4-26 April 2015 dan bertempat di Perum Produksi Film Negara, Jl. Otista Raya 125-128, Jakarta Timur.

Related posts