Juli 22, 2019

Musik Tradisi Nusantara di Atas Meja

Video rekaman forum Meja Bundar Musik yang diinisiasi oleh Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), kini dapat ditonton di www.alineatv.com. Video ini merekam perbincangan di antara empat orang musisi Indonesia terkait musik tradisi Nusantara.

Video dengan durasi total sekitar satu jam itu merekam perbincangan Meja Bundar Musik edisi perdana di antara empat orang komponis, pemusik sekaligus motivator yang bertahun-tahun menempuh jalan dengan gigih untuk menggali budaya musik Nusantara. Mereka adalah I Wayan Balawan, Rahayu Supanggah, Rence Alfons, dan Trisutji Djuliati Kamal. Adapun posisi moderator ditempati oleh Jabatin Bangun dan Nyak Ina Raseuki.

Perbincangan terkait musik Nusantara ini diinisiasi oleh Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ). Menurut mereka – mengutip pengantarnya – keberagaman artistik yang dihasilkan lewat eksperimentasi akan akar kesenian sangat penting diperbincangkan dan dijaga kelestariannya sebagai upaya untuk menempatkan musik tradisi Nusantara dalam konstelasi musik dunia. Oleh karena itu, mereka mempersembahkan forum ini, terutama untuk para generasi penerus musik Indonesia.

Forum ini berjalan selama dua hari yang tiap harinya melibatkan dua pembicara. Hari pertama adalah perbincangan dengan I Wayan Balawan dan Rahayu Supanggah. Pada hari pertama ini, dibicarakan beberapa hal, seperti peran penting masyarakat di daerah dalam pelestarian musik tradisi, pentingnya festival musik tradisi yang berkualitas, perlunya menerapkan pendidikan apresiasi musik tradisi di generasi muda, dan mendesaknya pencatatan titilaras musik tradisi agar tidak kehilangan identitas ketika mengalami penyesuaian dengan perkembangan zaman.

“Di Bali itu ada yang namanya standar, seperti jazz standar. Setiap tarian ada standarnya. Sudah baku. Sebelum beraneh-aneh, seniman Bali harus tahu dasarnya. Dasar mereka sudah sangat kuat. Seperti pemain gamelan saya, mau diganti tangga nadanya, tidak berpengaruh. Mereka main di E, tidak masalah, karena dasar slendro – pelog mereka sudah sangat kuat,” ujar I Wayan Balawan.

Pada hari kedua, Rence Alfons dan Trisutji Djuliati Kamal menceritakan pengalaman mereka berkelindan dengan musik tradisi. Rence Alfons, pendiri Molucca Bamboowind Orchestra pada 2005 bercerita tentang perjuangannya melestarikan suling bambu khas Maluku. “Bagi saya, musik suling bambu tidak kaku dan bisa beradaptasi dengan tuntutan musik kekinian. Jika berbicara revitalisasi harus melihat instrumennya macam mana kemudian menyangkut musiknya, komposisi maupun aransemen,” ujarnya. Menariknya, dalam usahanya merevitalisasi suling bambu lewat grup orkestranya, Rence bisa sekaligus mendamaikan dua kampung yang dulunya sering bertikai.

“Saya punya pengalaman yang sangat menarik. Ada dua kampung. Kampung saya, kampung Tumi dan sebelah lagi ada kampung Atalay. Kami dulunya berantem terus. Tapi semenjak ada Molucca Bamboowind Orchestra tidak ada lagi berantem. Karena pemainnya dari dua komunitas itu, dari anak-anak muda,” ujarnya.

Trisutji Djuliati Kamal menceritakan hal yang berbeda. Musisi, yang dalam lebih dari setengah abad kariernya telah menggubah tak kurang dari 200 karya ini, bercerita bagaimana prosesnya menulis komposisi musik dengan pengetahuan budaya yang beragam. Sebagai informasi, Trisutji lahir di lingkungan Jawa, namun menghabiskan masa remajanya lingkungan Melayu dan Batak. Pendidikan musiknya ia tempuh di Eropa, yaitu Belanda, Paris, dan Roma. Ia pun terpapar musik Bali dan mencintainya sejak tahun 1953. Ia juga memiliki ketertarikan personal pada elemen-elemen Quran dan ritual-ritual yang ada di dalam Islam. Cara Trisutji mengaitkan, membaurkan, hingga menuangkan pengetahuan-pengetahuan itu dalam komposisi musik lah yang banyak dibicarakan di forum hari kedua.

“Mereka berdua melakukan riset yang panjang, yang di dunia sebelah sana disebut aspek ilmiah di dalam berkesenian. Tidak ada sesuatu yang tiba-tiba terjadi. Ada proses yang sangat panjang sebelum mereka menuangkannya ke dalam komposisi. Sebagaimana dalam ilmu-ilmu yang lain, di dalam kesenian mereka membuat riset agar setiap nada, setiap bunyi, setiap tekstur itu mesti diperhitungkan,” ujar Nyak Ina Raseuki.

Pada akhirnya, video ini perlu ditonton sampai habis. Sudut pandang keempat pembicara dapat menjadi masukan bagi banyak pihak dalam memperlakukan musik tradisi Nusantara agar ia tidak menjadi outsider di ruangnya sendiri. [OMG]

Related posts