Oktober 23, 2017

“Pengalaman Praksis: Kebudayaan sebagai Kebanggaan Identitas dan Sikap Kritis” oleh Moelyono

Oleh: Moelyono*

Saya dulu kuliah di jurusan seni lukis “ISI” Yogyakarta. Lukisan saya teknik realis dengan tema ketertindasan rakyat kecil. Dalam proses melukis itu mulai muncul kegelisahan, ternyata lukisan saya hanya menyuarakan ketertindasan, namun tidak bisa menyelesaikan persoalan ketertindasan.

Dengan kegelisahan itulah, saya coba jalan kaki masuk ke sebuah dusun kecil berpenghuni nelayan miskin di pantai  selatan Jawa Timur. Saat jalan, bersamaan dengan pedagang ikan sambil ngobrol dan bertanya ke saya: nama, dari mana, apa pekerjaannya. Pertanyaan “apa pekerjaannya” membuat  bingung menjawabnya. Apa saya jawab seniman? pelukis? Tapi apakah itu pekerjaan yang dimengerti? Kemudian sambil lalu saya menjawab, “saya guru gambar”.

Sesampai di pantai, saya langsung bertemu Kepala Sekolah SD setempat yang mengajar sendirian. Ia mengajak saya langsung mengajar gambar murid kelas I dan II. Di depan kelas, saya bingung mau mengajar gambar mulai dari mana. Saya coba menggambar ikan di papan tulis dan mengajak anak-anak menggambarnya. Ternyata mereka hanya diam memandangi saya. Jelas membuat saya makin bingung, saya tanya mengapa tidak menggambar. Serentak anak-anak menjawab: “tidak punya buku gambar, tidak punya pensil” Jawaban yang membuat saya makin bingung.

Tiba-tiba seorang anak mendatangi dan menarik tangan saya keluar kelas sambil berkata: “ayo pak gambar di pantai saja” dan semua anak keluar kelas berlarian ke pantai dan langsung menggambar di pantai. Membuat garis garis panjang dengan ujung kaki sambil berjalan mundur, membuat gambar ikan menggunakan ranting kayu, gambar burung dengan telunjuk tangan, gambar ular, gambar rumah dengan batu karang, mereka menggambar dengan berlarian, berteriak, menyanyi, kejar-kejaran, jatuh di air laut dan mandi sekalian, menyenangkan dan saya ditarik anak-anak masuk ke air laut dan mandi bersama.

Hari pertama ini, ternyata saya yang diajari cara, metode, teori menggambar oleh anak-anak nelayan miskin. Menggambar bersama anak anak nelayan miskin adalah menggunakan bahan dan alat apapun yang ada di sekitar lingkungan hidup mereka. Menggambar adalah bermain, menyenangkan, menikmati suasananya.

Proses awal dengan anak-anak menggambar apapun yang disukai, berlanjut dengan menggambar apa yang dilihat, dialami, dirasakan. Anak menggambar kebiasaan mandor Perhutani meminta orang tua anak tiap bulan setor kelapa ke kantornya. Gambar dipasang di pintu rumah, dan sempat dilihat mandor yang lewat. Melihat gambar itu, mandor memanggil Kepala Desa dan ditanya, siapa yang mengajari anak anak gambar, yang dijawab dengan santai oleh Kepala Desa: “digambar anak-anak saja, tidak usah marah”. Sejak itu, para orang tua anak tidak  setor kelapa, karena mandor sudah tidak minta.

Gambar anak-anak dipamerkan di kota kabupaten yang dibuka oleh Bupati yang ternyata tertarik dengan cerita  di gambar. Bupati memutuskan untuk mengunjungi pantai tempat tinggal anak-anak. Setelah kunjungan, jalan menuju ke teluk pantai dibangun dengan aspal, gedung SD direnovasi, Posyandu dibangun, bak tampungan air minum dibangun, diberi bantuan perahu, jaring dan mesin diesel. Dengan jalan di aspal, para nelayan orang tua anak anak bisa langsung jual sendiri hasil ikan ke pasar kecamatan atau di kabupaten. Ekonomi warga meningkat, perbaiki rumah, beli televisi, sepeda motor, mobil pick up, beli tanah, anak yang lulus bisa lanjut ke SMP. Teluk mulai ramai tiap hari libur dikunjungi wisatawan domestik dan warga buka warung-warung makanan.

Dengan keterlibatan langsung bersama warga miskin di dusun, yang kemudian dipresentasikan dengan karya seni rupa berupa gambar, terlihat dampak ekonomi, sosial, politiknya.

Pengalaman model keterlibatan itulah yang kemudian diaplikasikan ke  desa-desa, dengan pemahaman bahwa pada tiap komunitas warga desa sudah terbangun alur kehidupan yang membentuk tata nilai budaya lokal. Maka budaya lokal adalah basis tata nilai dari kerangka konstruksi  pengembangan dinamika warga menghadapi desakan agresif  problem ekonomi, sosial, lingkungan, politik yang terus mendesak.

Agar tata nilai budaya lokal terus aktual, dirancang agenda  kegiatan pendidikan rutin sebagai mesin penggerak alur kehidupan warga desa kesehariannya. Pendidikan acuan budaya lokal dengan pelajaran berbasis penguatan logika berpikir agar kelak jadi warga yang mandiri dengan  kritis.

Pengalaman aplikasi di Desa Pawis, Kecamatan Jelimpo, Kabupaten Landak, Kalimantan Barat. Bekerjasama dengan LSM lokal dan Yayasan Kelola, membuat pilot proyek program edukasi berbasis budaya lokal untuk anak usia 0-5 tahun sebagai pintu masuk.

Langkah pertama melakukan dialog pemahaman bersama program edukasi berbasis budaya lokal bersama istri bupati selaku bunda PAUD, kepala Diknas beserta infrastruktur sampai ke PAUD, Camat wilayah Jelimpo dan para Kepala Desa. Kemudian tinggal di Desa Pawis, dengan awal pertemuan dengan Kades dan perangkatnya untuk pemahaman program edukasi, mendata anak usia 0-5 tahun, mendata warga perempuan yang tertarik sebagai pengajar anak, mendata kegiatan PKK dan Posyandu, mengadakan pertemuan warga, membahas masalah sosial, ekonomi, lingkungan, peta politik di desa. Termasuk juga, memilih lokasi kelas untuk penyelenggaraan pendidikan.

Kegiatan bersama warga desa dimulai dengan pelatihan calon pengasuh dengan peserta mayoritas perempuan dan sekitar dua laki-laki. Materi pendidikan utama adalah pembelajaran dan praktik mengajarkan modul yang berbasis logika berpikir, juga praktik membuat APE (Alat Permainan Edukatif) berbahan lokal.

Pembuatan Media Anak dilakukan dengan pemetaan potensi budaya lokal: lagu, mainan, permainan, dongeng, cerita, tarian, musik lokal. Dari pemetaan didapatkan data. Pendongeng lokal  yang sekaligus penari dan dukun mantra hutan ternyata tinggal satu orang. Hal ini karena di Desa Pawis hampir 40 tahun ini hutan habis diganti industri tanaman kepala sawit. Data ini mempresentasikan bila persoalan besar warga desa sekarang adalah menghadapi konstruksi budaya industri kelapa sawit. Warga desa sekarang adalah bukan lagi pemilik tanah. Budaya lokal dengan tata nilai ekosistem hutan sudah tergusur diganti dengan budaya konsumtif: membeli sepeda motor, membeli televisi. Warga desa di bekas area hutan, kini hanya menjadi obyek.

Saat pendidikan sudah berjalan beberapa minggu dan ruang kelas sudah selesai ditata, dilakukan peresmian penyelenggaraan pendidikan yang dilakukan oleh Wakil Bupati bersama istrinya yang anggota DPR RI Komisi Pendidikan. Dalam pidato peresmian, Wakil Bupati menyatakan bahwa jalan menuju desa akan dibangun, SD dan gedung PAUD akan diperbaiki. Istri Wakil Bupati menyatakan mendukung pengadaan fasilitas pendidikan di desa. Kepala Desa dalam peresmian juga menyatakan bahwa Desa Pawis akan menjadi desa ramah anak.

Seminggu setelah peresmian, ternyata Gubernur datang sekaligus mengunjungi warga desa sebagai konstituennya. Beberapa bulan kemudian, jalan aspal dibangun, fasilitas SD dan lingkup kantor desa dibangun.

Praksis ini memberikan pembelajaran, dengan spirit kesenian melalui pintu masuk pendidikan kurikulum logika mendayagunakan budaya lokal sebagai basis media pendidikan, coba mengembalikan posisi warga desa sebagai subyek, sebagai pemilik dan pencipta kebudayaan lokal sesuai ekosistemnya, pemilik identitas budaya lokal, yang akan secara kritis mengahadapi serbuan  budaya industri kelapa sawit.

*Moelyono adalah perupa, praktisi edukasi anak berbasis budaya lokal, tinggal di Tulungagung, Jawa Timur.

Related posts