November 19, 2017

[Profil Seniman Perempuan] Fadriah Syuaib (Iyah) dari Ternate

 

Fadriah Syuaib (Iyah) Perupa/pelukis, seniman Ternate, Maluku Utara

oleh Olin Monteiro,
untuk Koalisi Seni Indonesia

Lombok Utara, 23 September 2017

Fadriah Syuaib, atau biasa dipanggil Iyah, lahir di Toboleu, Kota Ternate, Maluku Utara, suka menggambar sejak kelas 2 SD. Awalnya, ia sekedar suka gambar seperti anak-anak pada zaman itu, ia pun melukis gambar pemandangan. Kelas 4 – 5 SD, Iyah mulai mengikuti berbagai lomba menggambar dan ikut seleksi gambar perangko.

Beberapa pelukis favoritnya antara lain Frida Kahlo (Mexico) dan Christine Ay Tjoe (Indonesia). Menurut Iyah, Frida melukis dengan hati, dia melihat dan mengungkapkan protes dengan menggunakan dirinya sendiri sebagai obyek. Kemudian ketika magang di Selasar Sunaryo Art Space Bandung, tahun 2007, Iyah bertemu dengan karya Ay Tjoe. Dalam karya Ay Tjoe ada ungkapan kebebasan dalam setiap karyanya.

Inspirasinya sebagai pelukis, adalah hal-hal yang menyangkut isu perempuan contohnya perempuan seringkali terkekang dan harus tunduk atau patuh dengan yang ada.  Iyah percaya pada kebebasan berpikiran dan melihat realitas yang ada.

Sejauh ini perempuan di kota, menurut Iyah, sudah setara dengan laki-laki. Contohnya kalau ada kegiatan di lingkup pemerintah atau swasta atau dimana saja, sudah mulai banyak yang berperan aktif. Ia pernah bekerjasama dengan LSM Daur Mala, beberapa kali untuk isu kekerasan terhadap perempuan contohnya. Memang belum seimbang 50 % perempuan berpendidikan, tapi sudah lumayan.

Kendala terbesar di seni adalah tidak adanya wadah yang menggerakan seni di Ternate.  Sebenarnya seniman perempuan ada, tapi harus kita bantu dorong dan bangun kepercayaan dirinya. Jadi sulit sekali. Kalau penulis perempuan itu sebenarnya lumayan ada.  Tapi masih takut dan malu menunjukkan eksistensinya. Katanya malu, karyanya masih belum memuaskan, sehingga kurang percaya diri.

Awalnya 2004, bersama teman-teman seniman di Ternate, kita punya mimpi ingin berpameran dan melakukan pertunjukan teater. Saat itu bertemu dengan Grace Siregar, perupa yang ikut dengan suami bekerja di wilayah Ternate, paska konflik. Ada beberapa LSM yang bekerja di Maluku Utara. Setelah banyak diskusi, bikin pameran, mereka mendapat dukungan Grace. Karena itu pertama kali 2004 dibuat pameran seni rupa, dengan tema “Bicara Bahasaku”.

Saat itu semua ikut, pelukis, pematung dan teater, kurang lebih 1 minggu kegiatan pameran. Hambatannya waktu pinjam gedung, karena aturan yang berbelit-belit, walaupun akhirnya mendapat ruangan gratis.

Iyah menjadi penggagas Rumah Seni Sabua, kebetulan sebagai ketua pada 2004 – 2008. Iyah terus aktif berkesenian, termasuk membentuk komunitas pelukis dan teater. Tapi yang paling minim itu perempuan. Setelah pameran itu banyak yang menawarkan drama radio, mural, graffiti yang terkait rekonsiliasi paska konflik atau berbagai kegiatan lainnya.

Lalu sempat juga membentuk satu komunitas perempuan, tahun 2006. Kegiatannya antara lain membuat graffiti rekonsiliasi. Iyah juga sempat  residensi dari Yayasan Kelola di Bandung pada 2007- 2008.

“Saya harus lebih kuat dan kerja keras untuk membangun kesenian di daerah saya. Kemungkinan besar harus saya sendiri yang harus bekerja, terus bergerak. Ada teman saya Ulfa. Dia itu seni kriya, dia punya studio di rumahnya. Dia sangat antusias dengan perkembangan kriya disana. Dia support untuk mengangkat sampah dan menjadikannya sesuatu. Sekarang sedang berkarya bekerjasama dengan dia dan menggerakan dan mengumpulkan perempuan,” kata Iyah dengan bersemangat,

Sekarang ini kegiatan Iyah lebih banyak di Komunitas Kampung Warna, dalam tahap awal pengorganisasiasian. Di komunitas Kampung Warna, ada juga seniman laki-laki  yang bantu untuk teknis atau keperluan persiapan acara atau kegiatan mereka.

Iyah mengembangkan komunitas di seputar rumahnya, awalnya di komunitas, ia mengajak anak-anak tetangga untuk menggambar. Kemudian program berkembang dan mengajak teman-teman pegiat teater, yang kemudian membantu mengajar teater untuk anak-anak, mulai dari bercerita. Lalu sempat vakum beberapa tahun.

Komunitas ini mulai bangkit lagi selama 2 tahun terakhir ini. Sekarang ini sedang ada kegiatan membuat mural, dengan teman-teman dari Amerika, juga membantu kegiatan workshop perempuan dan mural perempuan.

Salah satu karya Iyah berjudul “Pengabdian” | Medium: oil on canvas 60x70cm.

Salah satu program Iyah adalah di desa di Halmahera, desa Jarakore, desa yang sangat support dengan hal budaya. Dibuat beberapa kali kegiatan mural juga di sana. Baik seniman, atau pegiat seni perempuan dan anak muda laki-laki ikut bikin mural, dibantu orang-orang di desa, di sepanjang 30 meter di empang.

Menurut Iyah, sepulangnya dari Lombok, akan ada kegiatan di daerah di pinggiran kota, mungkin akan berinisiatif sendiri sebagai individu menggagas  pembuatan mural. Komunitas tempat Iyah aktif ini beranggotakan 6 orang. Perempuan ada 4 orang dan laki-laki 2 orang. Laki-laki hanya pelaksana teknis saja. Iyah memulainya dengan bersemangat untuk menjalankan program terkait seni di Ternate dan sempat diajak bekerjasama dengan berbagai organisasi.

Tanggapan masyarakat sejauh ini terhadap kegiatan Iyah, mereka sangat mendukung dan sangat suka. Tapi bagi Iyah, ini sebagai awal menggagas kegiatan, tapi nanti mereka (masyarakat) harusnya  melanjutkan. Sejauh ini memakai pendekatan ke anak muda dan kepala desa, memang lebih baik.

Tidak ada kegiatan yang tanpa hambatan. Bagi Iyah hambatan sebenarnya seperti dukungan pemerintah terhadap kegiatan seni. Contoh ketika pernah buat mural di titik kota, itu awalnya didukung. Ketika dihubungi awalnya bisa bantu, kalau butuh cat itu katanya gampang. Ketika acara selesai dan dihubungi pihak “dinas” (kantor pemerintah), ternyata tidak ada anggaran. Jadi tidak ada budget untuk ganti cat saja. Di awal bersemangat, tapi pada pelaksanaanya berbeda. Dari masyarakat malah tidak ada masalah sekali.

Untuk kegiatan, Iyah sudah melakukan kegiatan di Ternate dan di Halmahera Barat. Dulu pernah berkegiatan di kabupaten Halmahera Barat (2 jam dari Ternate), di Jailolo.  Biasanya menginap dan tinggal di rumah warga. Kalau rumah di Ternate, ada beberapa titik yang di pinggiran kota, di daerah Tarawu, kurang lebih 10 km dari pusat kota.

Kegiatan sekarang ini di rumah Iyah (dan komunitas di Ternate). Selain kelas untuk anak-anak, mengundang volunteer dari luar daerah kelurahannya. Contoh kalau ada seniman foto, bisa bikin kelas gratis, kayak kelas foto.  Jadwalnya tiap Sabtu, seminggu sekali.  Biasanya diumumkan di Instagram siapa mau jadi relawan dan isi kelas. Contoh Ibu Ulfa bisa mengajar daur ulang sampah menjadi sesuatu yang bermanfaat. Sasarannya lebih banyak untuk anak muda atau pelajar SMA. Peserta yang ikut pelatihan, satu kelas maksimal 15 orang atau maksimal 20 orang.

Iyah sangat menyayangkan di Ternate tidak ada Taman Budaya, gedung keseniannya dulu malah terpakai menjadi kantor pemerintah. Sekarang pemerintah menggagas kawasan Benteng untuk menjadi tempat kesenian. Komunitas bisa bekerjasama untuk kegiatan-kegiatan di Benteng. Iyah sangat berharap akan ada kerjasama yang lebih banyak kedepannya untuk kegiatan kesenian di Ternate.

Olin Monteiro, penulis, aktivis feminis, penerbit buku perempuan, produser film documenter, anggota Koalisi Seni Indonesia & pegiat seni beberapa jaringan seni dan hak-hak perempuan.

Related posts