Oktober 20, 2017

Pemetaan Kesenian

Pemetaan kesenian adalah sebuah program yang mencoba merekonstrukis kisah sukses pelaku dan organisasi seni jaringan KSI yang ada di sejumlah daerah di Indonesia. Terutama bagaimana mereka bertahan hidup dan menanggulani masalah-masalah yang dihadapi. Cerita ini diharapkan bisa menginspirasi berbagai pihak, terutama pelaku atau organisas seni, dalam menjalankan program kesenian masing-masing.

Sementara pihak-pihak yang telah melakukan kerja kesenian dalam kapasitas dan pencapaian masing-masing dipandang akan memberikan perspektif baru menyangkut kemampuan mengelola sumber daya maupun mengembangkan dukungan berbagai pihak bagi organisasi-organisasi seni. Sehubungan dengan ini KSI telah menyelenggarakan dua kali FGD (focus group discussion) tentang “Peranan Seni dalam Masyarakat”.

Yang pertama berlangsung di Jakarta, 2 November 2012, yang menghadirkan Ignatius Sandyawan Sumardi (Ciliwung Merdeka, Jakarta), Ibe Karyanto (Sanggar Anak Akar, Jakarta), Sri Wahyuni, Haryanto Bachroel, Bapak Aji Mahmud (pengelola Festival Erau, Samarinda), Arie Ghorie (Jatiwangi art Factory, Jawa Barat), Marintan Sirait (Jendela Ide, Bandung), dan Dynand Fariz (Jember Fashion Carnaval, Jember).

Dari diskusi pertama muncul kesamaan dalam soal strategi dasar untuk bisa bertahan hingga hari ini, yakni kemampuan menumbuhkan kebutuhan masyarakat setempat akan kegiatan kesenian sebagai sarana pengembangan sumber daya lokal, baik yang bersifat ekonomi, identitas, sarana kohesi sosial maupun aktualisasi diri.

Sementara FGD kedua berlangsung di Yogyakarta, 6 Desember 2012, dengan narasumber Yossie Krishna Murti (IVAA, Yogyakarta), Imas Sobariah (Teater Satu, Bandar Lampung), dan Hapri Ika Poigi (Komunitas Seni Tadulako, Palu). Diskusi menampilkan kisah sukses tiga organisasi ini dalam mengembangkan kesenian di daerah masing-masing.

Akan tetapi masih ada yang terjebak pada persoalan klasik ketergantungan kepada pemerintah daerah. Dalam konteks semacam ini peserta diskusi kemudian menyimpulkan perlunya perubahan paradigma dalam membuat model atapun strategi keberlanjutan yang lebih mengakar pada konteks lokal.