April 29, 2017

Rima untuk Solidaritas

Rima untuk Solidaritas

Pada tahun ini, Koalisi Seni Indonesia mengadakan kembali seri diskusi publik sebagai upaya penyebaran pengetahuan dan mengangkat pewacanaan praktik seni kontemporer di Indonesia.

Diskusi ini diharapkan bisa membangun cara berpikir kritis, dengan menghadirkan pemateri yang terdiri dari para pemikir dan praktisi seni di Indonesia. Seri diskusi Koalisi Seni akan dilaksanakan setiap dua bulan sekali selama tahun 2017, dengan fokus pada pembahasan praktik seni dan aktivisme di Indonesia.

Pada akhir tahun, upaya pendokumentasian akan dilakukan dalam bentuk tulisan untuk disebarluaskan untuk khalayak yang lebih luas. Seri diskusi Koalisi Seni 2017 terselenggara atas kerjasama Koalisi Seni Indonesia dan Asep Topan (Jakarta), yang berperan sebagai kurator pada seri diskusi ini secara keseluruhan.

 

Seri Diskusi Koalisi Seni Indonesia: “Rima Untuk Solidaritas”

Pada edisi kedua ini, Frans Ari Prasetyo (Bandung) dan Kartika Jahja (Jakarta) diundang untuk menjadi pemateri yang akan mengangkat dua topik yang berkaitan erat dengan dunia seni musik di Indonesia.

Frans Ari Prasetyo ialah seorang peneliti yang menempatkan perhatian pada kajian budaya perkotaan. Pada diskusi ini ia akan berbagi mengenai solidaritas yang telah dibuat teman-teman musisi independen Bandung melalui peluncuran album “Organize!: Benefit Compilation for Community Empowerment.” Album ini lahir dari komunikasi dengan beragam komunitas yang konsisten membangun inisiatif dan otonomi aktivitas warga kota di Bandung, sebagai upaya mewartakan eksistensi dan isu-isu yang melatarbelakangi aktivitas mereka.

Kartika Jahja akan menempatkan pembahasan pada praktik berkeseniannya sebagai musisi yang dengan konsisten menyuarakan isu kesetaraan gender, serta beberapa inisiatif advokasi yang ia lakukan baik secara individu maupun kolektif. Keduanya akan berbicara mengenai bagaimana praktik tersebut dan artikulasi kritisnya dihadirkan. Selain itu, presentasi ini diharapkan bisa membahas bagaimana kolektivitas hadir dan berpotensi dalam upaya membangun solidaritas tidak hanya di dunia seni musik itu sendiri, namun juga dalam medan sosial yang lebih luas.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, inisiatif dari musisi di Indonesia terutama yang berada di jalur independen, mulai menempatkan perhatian mereka pada isu-isu sosial yang tengah terjadi di Indonesia.

Kepedulian mereka bukan hanya terwujud dalam penyampaian pesan lirikal dalam karya-karya mereka. Lebih jauh lagi di luar kegiatan berkesenian, mereka menggalang solidaritas, turun langsung ke lapangan, hingga melakukan praktik advokasi lainnya baik melalui kampanye di media sosial, penggalangan bantuan dana hingga bersama-sama menyelenggarakan pendidikan alternatif. Bentuk kolektivitas musisi-musisi ini tidak hanya menyebar di kota-kota besar, namun telah menyebar luas dan memberikan inspirasi ke seluruh pelosok Indonesia.

Pada seri diskusi Koalisi Seni kedua ini, pembahasan mengenai fenomena ini akan berfokus pada dua contoh praktik yang berkaitan dengan seni musik di Indonesia. Pertama, Frans Ari Prasetyo akan membahas solidaritas musisi independen Bandung dengan peluncuran album “Organize!: Benefit Compilation for Community Empowerment” dan Kartika Jahja yang akan memaparkan mengenai kaitan aktara praktik kesenian dan aktivisme yang ia lakukan, serta inisiatif kolektif yang ia lakukan untuk mengangkat isu kesetaraan gender.

Beberapa pertanyaan kunci yang kiranya bisa dijawab dan dielaborasi dalam diskusi ini ialah:

  1. Jika berbicara mengenai aktivisme dan seni musik, apa yang bisa dilihat sebagai potensi utama medium ini?
  2. Sejauh mana upaya ini terus dilakukan bukan hanya dalam lingkaran para musisi, namun juga di medan sosial yang lebih luas?
  3. Bagaimana para pembicara memaknai kolektivitas dalam praktik berkesenian tersebut?

 

Keterangan teknis pelaksanaan diskusi:

  • Diskusi akan diselenggarakan dalam bahasa Indonesia.
  • Sesi dalam diskusi akan terdiri dari pemaparan materi dari pembicara, dilanjutkan dengan sesi tanya jawab.
  • Diskusi akan dilaksanakan pada hari Kamis, 27 April 2017, maksimal selama dua jam, antara pukul 15.00-17.00 WIB.
  • Diskusi akan dilaksanakan di Ruang Baca Amil, Jl. Amil No.7, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Kota Jakarta Selatan, DKI Jakarta.

Kartika Jahja adalah seorang penyanyi independen bersama grup musik Tika and The Dissidents dan penggiat kesetaraan gender. Pada tahun 2013 Tika bergabung dengan gerakan global anti kekerasan terhadap perempuan, One Billion Rising. Ia mengorganisir One Billion Rising Indonesia bersama beberapa aktivis dan seniman di Jakarta. Mulai tahun 2014, Tika menjadi pendamping sosial bagi perempuan-perempuan korban kekerasan. Ia kemudian mendirikan Yayasan Bersama Project pada tahun 2015 yang giat melakukan edukasi publik tentang kesetaraan gender melalui musik, seni, dan kultur pop. Tika juga tergabung dalam beberapa kolektif perempuan, di antaranya Kolektif Betina dan Mari Jeung Rebut Kembali.

Frans Ari Prasetyo, lahir dan tinggal di Bandung. Ia merupakan peneliti yang telah bekerja secara intensif di wilayah perkotaan, dengan kota Bandung sebagai fokus kajiannya. Ketertarikan utamanya ialah pada evolusi seni budaya, politik dan aktivitas perkotaan, ruang publik perkotaan, arsitektur, dan sub-kultur seperti punk, seniman, dan aktivis masyarakat adat di akar rumput. Ia memiliki pengalaman bekerja sebagai peneliti di beberapa institusi seperti di RTH Swiss University, Toronto University dan ITB. Saat ini bekerja sebagai peneliti di SSHRC-Canada dan BRICK (Bandung Research Institute for Culture, Social, and Knowledge), dan sebagai salah satu anggota peneliti di LBH Bandung. Selain menulis untuk jurnal akademik dan berbagai media, ia juga telah meluncurkan sebuah buku berjudul “River In A Visual Shot” yang berisikan antropologi/etnografi visual di sungai Citarum. Buku tersebut diterbitkan pada 2017 oleh BRICK, ITB dan Ultimus.

Bagi teman-teman yang ingin mengikuti diskusi ini, silakan mendaftarkan diri dengan klik tombol reservasi berikut:

Anda juga bisa mendaftar lewat facebook, twitter, dan instagram Koalisi Seni. Reservasi ditunggu hingga 25 April 2017. Tempat terbatas untuk 30 orang.

Contact Person: 083 834 995 606

Kami tunggu!

Related posts