November 12, 2019

Rimbang Baling, Koto Lamo, dan Sikukeluang—Dua Tahun Berselang

Petang mengambang ketika saya hilir mudik seorang diri di pinggir Sungai Bio, melihat orang-orang bermain air di tepian seberang. Perlu waktu untuk benar-benar sadar tengah berada di belahan bumi mana: tujuh jam sebelumnya, saya baru saja mendarat di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru bersama Mas Kusen (Ketua Pengurus Koalisi Seni, yang datang mewakili jaringan festival berbasis masyarakat Begawai Nusantara) dan Oming (Staf Keanggotaan Koalisi Seni). Setelah menempuh perjalanan darat melintasi provinsi Riau—ditemani pemandangan kebun sawit tak putus-putus—dan menyusuri Sungai Bio selama satu setengah jam di atas piau, kami bertiga tiba di desa Koto Lamo nun di tengah-tengah Taman Nasional Rimbang Baling. 

Di desa inilah, Rumah Budaya Sikukeluang— anggota Koalisi Seni—menyelenggarakan acara tahunan Festival Musik Rimbang Baling bersama warga setempat serta musisi independen Sumatera. Mereka melagukan kecintaan terhadap alam serta menyisipkan pesan-pesan perdamaian untuk menjaga adab dan tradisi—terutama adab Koto Lamo, tempat hidup dan bernaung masyarakatnya selama bergenerasi-generasi.

Bersama Oming, Mas Kusen, serta pengemudi piau kami.

Namun, Festival Musik Rimbang Baling bukanlah gelaran musik folk biasa: ia dihelat di tengah-tengah tanah konflik. Kendati Rimbang Baling de facto berstatus sebagai Kawasan Hutan Lindung, sebuah perusahaan batu bara atas nama PT Buana Tambang Jaya sukses mengantongi izin beroperasi di area hulu Sungai Bio sejak tahun lalu. Dari sisi hilir, berbagai perusahaan kelapa sawit berlomba-lomba mengekspansi area perkebunan hingga masuk jauh ke dalam kawasan hutan lindung. Ini membuat Koto Lamo dan desa lainnya di sepanjang Sungai Bio terjepit dari dua sisi, oleh kepentingan dua industri ekstraktif yang berbeda.

Konflik lingkungan Rimbang Baling memang lumrah terjadi di berbagai daerah di Indonesia. Yang menjadi salah satu faktor pembeda adalah kehadiran Sikukeluang yang melibatkan seni berbasis masyarakat sebagai salah satu bentuk resistensi. Dalam kunjungan pertama Koalisi Seni ke Festival Musik Rimbang Baling pada Januari 2018, Zulkhair Burhan dari Kedai Buku Jenny Makassar mengamati cara para penampil menggunakan kesenian “sebagai senjata” untuk membahasakan kemalangan—namun juga menunjukkan celah harapan—bagi mereka yang terdampak langsung oleh konflik lingkungan. Para seniman yang berasal dari Riau, contohnya, menggunakan bahasa dan gestur yang menunjukkan lokalitas guna memangkas jarak dengan masyarakat Koto Lamo. Salah satunya adalah Onyai, seorang musisi “Pantura-Melayu” yang sukses memantik semangat warga dengan kombinasi musik dangdut heboh dan tema-tema keseharian masyarakat akar rumput, seperti kesenjangan ekonomi antara si kaya dan si miskin.

Lokasi Rimbang Baling dilihat pada Google Maps

Zulkhair Burhan—yang biasa dipanggil Bobby—menuliskan keragaman metode untuk menyelamatkan Rimbang Baling berbanding lurus dengan sifat konfliknya yang multidimensional. Menyelamatkan hutan tidak pernah hanya soal melestarikan sebuah ekosistem, namun berkaitan pula dengan permasalahan perubahan iklim yang lebih makro hingga kebudayaan masyarakat adat yang tiba-tiba terseret dalam relasi kuasa modern dari putusan pengadilan, industri ekstraktif, hingga Pendapatan Domestik Bruto. Kompleksitas ini membuat aktivisme seni yang dilakukan Sikukeluang menempati peran kunci dalam membangun jembatan antarperspektif (dalam istilah kiwari: sebagai makelar konteks).

Untuk melihat praktik ini, saya perlu menunggu pukul delapan malam hingga acara musik dimulai kembali. Maghrib telah berlalu, dan Koto Lamo yang belum memiliki aliran listrik menjadi gelap gulita. Di tepian seberang, orang-orang yang main air pun mulai meninggalkan sungai. Saya memutuskan untuk kembali ke tenda dan bercengkerama dengan pengunjung festival lain.

Dalam perjalanan pulang melewati panggung festival—tanpa atap maupun backdrop, karena pemandangan Koto Lamo jauh lebih apik daripada desain mana pun—saya berpapasan dengan pendiri Sikukeluang, Heri Budiman. Setelah bercakap-cakap sedikit mengenai perjalanan ke Koto Lamo, Bang Heri kemudian memberitahu kabar mengagetkan.

“Tapi ya begitu, kami semua [pegiat Sikukeluang] lagi pusing karena kejadian tadi pagi,” ujarnya dengan — anehnya — sangat tenang.

“Memangnya ada apa?”

“Laboratorium Sikukeluang terbakar.”

Laboratorium Rimbang Baling (Foto: Oming Putri)

Terletak satu kilometer dari desa Koto Lamo, laboratorium Sikukeluang dibangun secara swadaya oleh tangan-tangan pegiatnya sendiri selama delapan bulan; lantainya berasal dari anyaman rotan, atapnya dari daun sikai. Rencananya, laboratorium sederhana itu akan menjadi ruang utama untuk berbagai program Sikukeluang ke depan, seperti Festival Kopi Hutan dan residensi seniman di Koto Lamo. 

Karena lokasinya yang cukup jauh dari desa, laboratorium itu baru ditemukan habis terbakar pada Jumat pagi, 11 Oktober 2019. Janggalnya, bangunan laboratorium menjadi satu-satunya objek yang musnah, sementara pohon-pohon di area sekitar tidak tersentuh jilatan api.

Atap dan lantai laboratorium yang sudah terbakar (Foto: Oming Putri)

Menjelang acara, baik Bang Heri dan kawan-kawan Sikukeluang lainnya tampak rileks dan bercanda satu sama lain. Husin, yang menjadi pembawa acara sepanjang festival, mengobrol dengan saya mengenai keinginannya mengikuti Sekolah Antikorupsi untuk seniman yang digagas Indonesia Corruption Watch (ICW) dan Koalisi Seni sambil mengomentari buruknya tingkat korupsi di Riau. Diam-diam, kepala saya berisik sendiri memikirkan dua hal: janggalnya waktu kebakaran yang bertepatan dan penyelenggaraan festival, serta membayangkan kekalutan pikiran teman-teman Sikukeluang.

Pikiran saya rupanya terjawab ketika menonton perhelatan selama dua hari berikutnya. Pada dasarnya, Festival Musik Rimbang Baling adalah perayaan yang mestinya disambut dengan sukacita. Hal ini membuat segala perundungan bisa menunggu, setidaknya untuk sementara waktu. Sejumlah pertunjukan sepanjang festival menyisakan kesan cukup mendalam: kelompok Reggae asal Pekanbaru Konkrit Genggaman, misalnya, menciptakan sebuah lagu bertajuk “Indahnya Rimbang Baling” yang membuat saya terngiang-ngiang (karena begitu catchy) sampai beberapa hari ke depan. Ada pula duo instrumental Dua Bicara memainkan nomor ambient yang begitu ciamik, sementara kelompok Arecca Ansamble, beranggotakan mahasiswa Sendratasik dari Universitas Islam Riau, mengkombinasikan alat musik tradisional Riau dengan biola, gitar dan akordion untuk menghasilkan warna bunyi yang baru (setidaknya bagi telinga urban saya). Pada sebuah momen, Noza, salah satu personil Arecca, berkeliling meniup peluit sambil mengajak penonton berjoget dengan tembang Lancang Kuning—momen guyub yang, menurut saya, paling membahagiakan selama tiga hari di Koto Lamo.

Namun, pertunjukan yang paling membekas untuk saya adalah ketika ibu-ibu PKK desa Koto Lamo hadir di atas panggung sebagai kelompok Rabbana Mandiri dan memainkan sejumlah lagu yang bercerita mengenai desa mereka sendiri. Dua dari lima tembang mereka ditujukan untuk Bang Heri, dengan lirik (dalam bahasa Melayu) yang berbunyi kurang lebih seperti ini:

Assalamualaikum kami ucapkan
Kepada Bang Heri Budiman

Bang Heri datang ke Koto Lamo
Sebagai seniman [yang hanya] ingin menghibur kita
Janganlah kita berpikir yang bukan-bukan
Karena prasangka buruk itu tidak sesuai dengan ajaran Tuhan

Ada pula satu tembang yang bercerita mengenai sebuah konflik sosial di desa Koto Lamo:

Dulu desa kita desa percontohan
Sekarang desa kita bahkan dipandang orang [karena menjadi tempat festival]
Aku mendambakan persatuan [di desa]
(Vokalis kedua): Begitu pula diriku…

 

Jason Ranti bermain di Festival Musik Rimbang Baling (Foto: Oming Putri)

Saya berkesempatan mengobrol dengan Bang Heri melalui percakapan telepon dari Jakarta, saat ia menceritakan inti konflik sosial Koto Lamo antara Ninik Mamak—kelompok tetua adat—dengan perangkat desa. Ketika Sikukeluang mulai mengadakan aktivitas di Koto Lamo pada 2015, sebanyak 112 keluarga desa itu telah setuju menjual tanah kepada perusahaan kelapa sawit. Tanah ini, yang dimiliki secara adat, memang berbeda dengan area tanaman karet hutan yang digunakan sebagai mata pencaharian. Namun, aktivitas budidaya sawit tentu akan memiliki efek domino terhadap ekosistem hingga kehidupan masyarakat—sebuah fakta yang selama ini ingin dibungkam seperti melalui propaganda bahwa “sawit adalah tanaman hutan.” 

“Pada akhirnya, para Ninik Mamak memahami konsekuensi penjualan tanah tersebut dan menolak melakukannya. Tetapi tidak lama kemudian, koordinator penjualan tanah tersebut terpilih menjadi Kepala Desa Koto Lamo,” ucap Bang Heri menjelaskan.

Ini membuat Sikukeluang menempati posisi rumit: mereka selama ini mencoba netral dengan tidak terlibat proses politik desa, namun telanjur dianggap oleh perangkat desa telah mempengaruhi pendapat kelompok tetua adat. Prasangka ini, menurut Bang Heri, membuat Sikukeluang mendapat sejumlah halangan. Perangkat desa, misalnya, sempat menolak perhelatan Festival Musik Rimbang Baling kedua pada tahun lalu.

“Pada dasarnya, kami [Sikukeluang] hanya seniman-seniman yang karya-karyanya memiliki kesamaan tematik, yakni berbicara soal hutan dan lingkungan. Kami hanya berpegang pada prinsip: kalau sudah berkaitan dengan penjualan tanah dan pencemaran lingkungan, kami tidak netral karena tahu apa yang benar,” ujar Bang Heri.

Mendengar penjelasan ini, saya merasa memahami inti kerja dan perjuangan teman-teman Sikukeluang. Setiap metode untuk mengubah keadaan sosial-politik—baik advokasi kebijakan, aksi langsung, hingga pemberdayaan masyarakat—memiliki rintangan dan keunggulannya masing-masing sendiri. Jalur yang dipilih Sikukeluang, yakni melalui seni, mungkin tidak memiliki dampak langsung layaknya lobi dengan perusahaan ekstraktif. Meski demikian, metode ini—yang mengharuskan pegiatnya untuk jauh lebih sabar dan disiplin—memiliki berkah besar karena tidak hanya memberdayakan masyarakat, namun memungkinkan masyarakat memberdayakan dirinya sendiri.

Saya mendadak teringat perkataan almarhum Abduh Aziz: bagi banyak orang, memiliki momen untuk melihat dan merefleksikan diri adalah sebuah kemewahan tersendiri. Dalam hal ini, pertunjukan ibu-ibu Rabbana Mandiri selama festival berfungsi layaknya inisiatif dokumenter yang diproduksi kolektif bersama masyarakat lokal, mengajak mereka melihat diri sendiri dan melakukan otokritik dalam prosesnya.

Laboratorium Sikukeluang, yang mereka bangun dengan tangan sendiri, kini tak dapat dipakai lagi. Api telah melalap bangunan kayu tersebut hingga ke tiang-tiang penyangganya. Namun, hal ini tidak meredupkan semangat mereka: belum lama ini, mereka memulai program Bank Pohon Rakyat, yang mengundang publik ikut berinvestasi untuk menanam pohon dan menjaga pasokan oksigen. (Eduard Lazarus)

Related posts