Mei 20, 2019

Sambutan Ketua Pengurus Koalisi Seni Indonesia untuk #SeniLawanKorupsi

Selamat malam,
Salam Sejahtera untuk kita semua.

Pertama-tama ijinkan saya untuk menghaturkan ucapan terima kasih dan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh komunitas seni, seniman pengisi acara kick off kampanye #SeniLawanKorupsi , panitia dan relawan yang telah bekerja keras dalam hanya dalam beberapa hari saja untuk mempersiapkan acara ini. Sungguh sebuah pameran kesigapan, dedikasi, semangat dan ketulusan yang luar biasa untuk bekerja dan bersuara bersama merespon krisis yang tengah dihadapi bangsa ini.

Apa yang dipertunjukan di panggung politik dan media akhir-akhir ini jelas menunjukkan sebuah kebuntuan nalar dan akal sehat; nilai-nilai dijungkirbalikan secara semena-mena oleh berbagai kepentingan, ukuran benar-salah didistorsi sedemikian rupa, dan masyarakat terus dibiarkan dalam kebingungan melalui informasi-informasi sesat dan banal. Muaranya adalah bagaimana persoalan mendasar mengenai betapa gawat dan daruratnya negeri ini menghadapi “kejahatan terorganisir” korupsi yang berlangsung sistematis dan massif luput dari perhatian publik. Masyarakat dijauhkan dari informasi-informasi penting bagaimana kejahatan tersebut direplikasi berulang-ulang dalam lindungan sistem hukum yang ada; dan gantinya dijejali oleh “sirkus politik” penuh gossip, intrik dan fitnah.

Reformasi yang sesak oleh harapan dan mimpi-mimpi perubahan sekali lagi harus dibenturkan dengan kenyataan pahit ini. KPK sebagai anak kandung reformasi terus dibonsai bahkan gejalanya mungkin harus dilenyapkan sama sekali. Ini bukan semata soal KPK karena pada akhirnya ini merupakan lonceng kematian bagi spirit gerakan anti korupsi secara keseluruhan. Dan tanpa sadar perlahan tapi pasti akan berujung pada kematian nilai-nilai utama bangsa ini.

Para penggiat kesenian yang terlibat dalam perhelatan ini pada awalnya hanya gelisah melihat realitas semacam ini. Kegelisahan yang memuncak menjadi kemarahan kolektif yang harus disalurkan energinya menjadi kegiatan produktif. Seni dipercayai oleh kami sebagai pengejewantahan dari dialektika antara nilai, idealisasi dan praksis dalam medan realitas yang kongkrit; menolak berada di pinggiran sebagai penonton yang diam, ataupun penonton yang gaduh. Kami kemudian memilih ikut dalam gelanggang, bersuara dan secara sadar membangun opini tandingan yang lebih membumi dan semoga dapat membawa pencerahan pada publik.

Tanpa itu; dalam peradaban yang korup, seni kemudian dipastikan menjadi sekedar asesoris dalam etalase yang indah dilihat tapi tidak bermakna apa-apa.

Terima Kasih dan Selamat Malam.
Jakarta, 5 Maret 2015
Abduh Aziz

Related posts