Oktober 18, 2018

Sebuah Catatan dari Anak–Anak Koto Lamo

Penulis: Annisa Rizkiana Rahmasari* | Editor: Fandy Hutari

Komunitas Siku Keluang─sebuah kolektif budaya berbasis di Pekanbaru yang fokus terhadap pengembangan seni yang berpihak kepada masyarakat─bekerja sama dengan Koalisi Seni Indonesia, mengadakan residensi singkat di Koto Lamo, Kampar Hilir, Riau. Kegiatan ini dilakukan pada 7 hingga 13 Maret 2017. Di sini, seniman ditantang untuk merespons ulang apa yang sudah mereka “rekam” selama menyusuri Koto Lamo, sebuah desa yang letaknya di kawasan Bukit Rimbang dan Baling.

Ketika tiba di Koto Lamo, hawa sejuk yang menyeruak lamat-lamat dari pinggir sungai Bio menyambut rombongan kami. Tentu saja, kami yang berasal dari Yogyakarta, Semarang, Gresik, dan Jakarta, tak pernah memiliki pengalaman melintas sungai besar dengan sampan. Jika pandangan dilempar ke bawah, tampak warna bebatuan bercampur, bergerak disapu riak air.

Selepas menaiki undak-undak kecil, kami singgah sejenak di rumah Datuk Bandaro. Rencananya, rumah ini akan disulap menjadi perpustakaan untuk warga sekitar. Terlihat perlengkapan seperti rak buku, dan meja-meja telah disusun rapi sedemikian rupa.

Usai bersilaturahmi kami kembali ke lokasi berkemah yang jaraknya sekitar 10 menit dari rumah Datuk Bandaro, menggunakan sampan. Kami rehat makan malam, kemudian berdiskusi tentang kegiatan apa yang mungkin dilaksanakan selama satu minggu dengan warga. Bang Heri dari Siku Keluang, dan Datuk Marlan yang merupakan tetua Kenegerian bertugas memimpin jalannya perkenalan dan diskusi. Api unggun telah dinyalakan sebagai penghangat suasana sembari kami duduk melingkar dan bertukar cerita. 

Saya memilih untuk mengerjakan creative mapping bersama anak-anak. Dalam prosesnya nanti kami akan menambahkan elemen-elemen yang berbeda seperti karya yang kaya warna, berbagai bentuk catatan, serta gaya bercerita yang anak-anak pilih sendiri diatas kertas. Setelah berdiskusi dengan teman-teman seniman lain, kami pun memulai eksperimen yang menyenangkan ini. Sebelumnya, teman-teman dari Yayasan Hakiki, Riau, telah menunjukkan informasi penampang grafis Kenegerian Koto Lamo. Dari situ, saya dapat membuat gambar dan menunjukkan lokasi penting, seperti letak jembatan, serta daerah mana yang merupakan desa lama maupun desa baru.

Esoknya, ilustrasi peta telah dibuat. Warna-warna spidol dan kertas yang akan kami pakai pun telah dipilih, sehingga dapat menstimulasi respon anak-anak. Perbedaan bahasa dan kebiasaan tidak menyurutkan semangat mereka untuk mengembangkan imajinasi dan rasa ingin tahu. Terbukti setelah saya menjelaskan apa yang akan kami buat di sini, anak-anak dengan sigap menandai tempat-tempat penting, seperti rumah, sungai, lapangan, termasuk binatang-binatang yang mereka lihat selama di desa.

Mula-mula kami menggambar di lantai. Beralaskan tikar plastik, alat tulis dan kertas kami gelar. Nyaris serba tak beraturan. Namun berbekal pengetahuan menggambar dari Kak Sheila Rooswita (Sheila’s Playground) dan Kak Azer (Komikazer) di lokakarya sebelumnya, anak-anak tampak lebih percaya diri membuat bentuk-bentuk yang mereka kehendaki.

Mailani, 13 tahun, membuat ikon piyau (sampan), kerbau, dan kepiting di spons empuk yang bisa digambari untuk kemudian ditempel di peta. Adiknya, Ita, 7 tahun, semangat memenuhi ruang kosong dikertas dengan gambar bunga. Dalam waktu tiga jam, kegiatan yang awalnya hanya terdiri dari 10 hingga 15 anak, bertambah menjadi lebih dari 30 anak. Kami pun menghabiskan 6 buah kertas berukuran A0 yang rencananya akan dibingkai dan dipajang di rumah Datuk Bandaro. Anak-anak juga menulis catatan pendek tentang cita-cita mereka serta saling memberi respons pada sahabatnya. Salah satu anak juga menulis kalimat baik, seperti “Kalau nonton televisi jangan dekat-dekat.”

Hal tersebut membuktikan bahwa anak-anak memiliki keberanian dengan merespon semua alat gambar yang telah disediakan dan menciptakan karya yang mereka inisiasi sendiri. Pendekatan yang bersahabat serta sesuai kebutuhan masyarakat juga membuat baik seniman maupun warga dapat saling berbagi pengalaman hidup mereka.

Pergantian dari kegiatan yang satu dengan yang lain akhirnya menjelma menjadi kelompok belajar. Mulai dari fokus pada kiat-kiat awal menggambar, melengkapinya dengan cerita, gunting tempel berkolase, hingga menjadikan gambar sebagai cendra mata dan instalasi di desa.

Disela waktu istirahat, saya menyempatkan membacakan dongeng terjemahan berjudul Listen to the Wind: The Story of DR. Greg and Three Cups of Tea. Buku ini bercerita tentang anak-anak di desa Urdu, Pakistan yang bertemu dengan Gregg Mortenson. Pertemuan yang tidak disengaja itu kemudian berbuah manis, sebagai balas budi dari Dr. Gregg yang telah ditolong warga desa setempat. Ia mendirikan sekolah yang ikut anak-anak bangun. Wah, menarik sekali!

Kami saling melengkapi apa yang kurang dan mempelajari apa yang lebih dari proses berinteraksi dengan warga di Koto Lamo. Sebisa mungkin, komunikasi dengan berbagai lapisan masyarakat, baik dewasa, remaja, maupun anak-anak tak ada yang terlewat. Sebab hal tersebut akan membuka kemungkinan baru bagi kegiatan lain yang rencananya akan dilanjutkan setelah program residensi pertama. Dan dengan semangat yang tulus ini, kesempatan belajar akan menjadi lebih terbuka bagi siapa pun pesertanya nanti.

Minggu malam kala menyalakan lampion, Datuk Bandaro dan Bang Heri Budiman membawa keluar sebuah alat musik tua khas Koto Lamo bernama talempong atau canang. Alat ini dipukul dengan kayu yang lebih kecil dan mengeluarkan suara Pung, pung, pung yang dalam. Anak-anak berjejer rapi di depan pintu rumah Datuk, tak sabar menunggu. Pak Bambang Prihadi yang juga pegiat teater ikut menabuh galon air minum, sehingga menghasilkan suasana yang meriah namun tetap syahdu. Ibu-ibu terlihat bernostalgia dengan suara merdu talempong. Beberapa kali ada yang berusaha menunjukkan pada anak-anak bagaimana cara memukul yang baik. Seolah mengobati kerinduan yang mereka cari: musik dan semangat berkumpul seluruh warga tanpa terkecuali.

Ketika saya dan teman-teman kembali pulang, ada banyak hal untuk kami renungkan. Mulai dari proses interaksi dengan warga, serta pada titik apa seniman dan masyarakat dapat bersepakat. Sebab proses serupa tak bisa diakselerasi, maka untuk menghasilkan kegiatan yang merangsang kreativitas, bermanfaat, serta berkelanjutan dibutuhkan kerja sama dari banyak pihak. Koto Lamo dan Rimbang Baling telah membawa semangat baik untuk kita jaga bersama. Mari lestarikan adat dan hutan Indonesia! 

*Penulis adalah seniman muda yang berasal dari Semarang dan kini tinggal di Yogyakarta. Arsip gambar dan tulisannya dapat dilihat di www.ikantupai.tumblr.com

Terima Kasih kepada:

Aquino Hayunta (Koalisi Seni Indonesia); Heri Budiman, Budi Utami, Adhari Donora, Umar, dan Gendon (Rumah Budaya Siku Keluang); Bang Hendra dan Bang Adi (Yayasan Hakiki); Sheila Rooswita (Jakarta), Reza Mustar (Jakarta), Marishka Soekarna (Jakarta), Diela Maharani (Jakarta), Ayu Dila (Jakarta), Bambang Prihadi (Jakarta), Oktav Bagus (Semarang), Yoshi Fajar (Yogyakarta), dan Novan Effendy (Gresik); Ahmad Khairudin (Hysteria), Iman Abda (Jaringan Radio Komunitas Indonesia), dan Budi Prakosa (Lifepatch).

Referensi

www.youtube.com | Participatory Rural Appraisal and Rapid Rural Appraisal for JFM Programme Implementation.

-Terbitan Biennale Anak Yogyakarta 2009 – Dokumenku

 

 

 

 

Related posts