Desember 11, 2018

Seni dan Ikhtiar Menjaga Asa di Rimbang Baling

Oleh: Zulkhair Burhan*

Sore (26/1/018) mulai menyapa saat saya dan beberapa teman dari Koalisi Seni Indonesia tiba di Desa Gema, Kecamatan Kampar Kiri, Riau setelah menempuh perjalanan kurang lebih dua jam dari Pekanbaru. Bayangan akan perjalanan yang seru dan menyenangkan segera menyeruak saat melihat puluhan piyau (sampan khas Riau) terparkir rapi di pinggir sungai yang dijadikan sebagai tempat berangkat dan berlabuh.

Puluhan orang yang bersiap untuk berangkat menuju desa-desa di sepanjang Sungai Subayang dan Sungai Bio serta merta membuat saya sekejap melupakan pemandangan monoton dan menjemukan yang disuguhkan oleh perkebunan sawit yang terhampar luas sejauh mata memandang sejak meninggalkan Kota Pekanbaru. Dan tak lama kemudian sebuah piyau besar membawa kami menelusuri Sungai Subayang yang berkelok dan diapit hutan lebat Rimbang Baling menuju helatan Festival Musik #1 Rimbang Baling di Desa Koto Lamo.

 

Hutan Rimbang Baling

Rimbang Baling adalah Kawasan Hutan Lindung yang terletak di dua kabupaten di Provinsi Riau, yaitu sebagian besar di Kabupaten Kampar dan sebagian lainnya di Kabupaten Kuantan Sengingi. Kawasan ini juga berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat. Dan sesuai Surat Keputusan (SK) Gubernur Riau Nomor 149/V/1982, Rimbang Baling ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi.

Sebagai kawasan hutan lindung, Rimbang Baling menyimpan potensi dan kekayaan alam yang luar biasa. Berbagai spesies flora maupun fauna terdapat di kawasan ini. Rimbang Baling menjadi rumah bagi beragam spesies fauna yang dilindungi dan terancam punah seperti Harimau Sumatera, Tapir, Siamang dan banyak lagi lainnya. Beberapa spesies fauna dan ribuan jenis tanaman hutan yang bervariasi tersebut menjadi pemandangan yang terpampang luas di sepanjang pinggiran sungai yang kami lalui.

Namun sejak beberapa tahun terakhir ini, Hutan Rimbang Baling menghadapi berbagai ancaman karena perambahan hutan secara ilegal, alih fungsi lahan untuk perkebunan sawit, pertambangan batu bara dan maraknya perburuan liar. Perambahan secara ilegal semakin marak dilakukan sejak harga karet jatuh. Sementara, sebagian besar masyarakat yang berdomisili di Rimbang Baling merupakan penyadap karet dan mengandalkan karet sebagai sumber kehidupan.

Berbagai ancaman ini tidak hanya akan menghancurkan ekosistem alam Rimbang Baling yang menjadi benteng hidup terakhir Pulau Sumatera, namun perlahan akan ikut menjadi marabahaya bagi beragam kekayaan kebudayaan, tradisi dan nilai-nilai lokal yang telah bertahan begitu lama dan dipraktikkan sehari-hari oleh masyarakat adat yang tersebar di berbagai desa di kawasan Rimbang Baling.

 

Rumah Budaya Siku Keluang dan Seni sebagai Siasat

Berbagai ancaman terhadap Rimbang Baling yang semakin hari semakin terpampang nyata menjadi perhatian banyak pihak khususnya dari komunitas atau organisasi masyarakat sipil. Pentingnya mempertahankan dan melestarikan Rimbang Baling, yang telah menjadi kesadaran bersama berbagai kelompok dan komunitas tersebut, kemudian ditindaklanjuti dengan berbagai program dan aktivitas dengan latar belakang konsentrasi isu yang berbeda-beda.

Salah satu seri residensi seniman yang diadakan di Koto Lamo, hasil kerjasama Rumah Budaya Siku Keluang dan Koalisi Seni. Baca selengkapnya di: Residensi Seniman di Koto Lamo

Keragaman metode dalam menyelamatkan Rimbang Baling menjadi hal penting mengingat persoalan dan ancaman terhadap kawasan hutan lindung ini sangat kompleks. Mulai dari aspek politik, ekonomi hingga kebudayaan. Atas kesadaran pentingnya memperkaya metodologi tersebut maka muncul dan berkembangnya inisiatif kebudayaan dari Rumah Budaya Siku Keluang di Rimbang Baling menjadi kabar baik bagi setiap siasat untuk menyelamatkan Rimbang Baling. 

Rumah Budaya Siku Keluang sendiri merupakan merupakan insiatif seniman di Riau dan telah berdiri sejak 2011. Sejak tahun 2014, komunitas ini melaksanakan berbagai aktivitas dan program seni dan kebudayaan secara kolaboratif dengan masyarakat yang terpusat di Desa Koto Lamo dan berbagai pihak lainnya, salah satunya Koalisi Seni Indonesia. Dari beberapa desa atau kanegerian yang berada di area Rimbang Baling, Koto Lamo sengaja dipilih sebagai pusat aktivitas program Save Rimbang Baling (#saverimbangbaling) salah satunya karena lokasi desa tersebut berada ditengah Kawasan Rimbang Baling. Selain itu, karena akses menuju Koto Lamo bisa melalui jalur darat dan air.

Bersama Koalisi Seni Indonesia, Rumah Budaya Siku Keluang menginisiasi beberapa program seni seperti mukim (residensi) seni, workshop dan kegiatan kesenian lainnya. Berbagai kegiatan seni yang diinisiasi Rumah Budaya Siku Keluang saya kira salah satunya bertujuan untuk mengeksplorasi potensi yang dimiliki Rimbang Baling dengan menggunakan medium seni sekaligus sebagai ruang untuk mengajukan kritik terhadap praktik pembangunan yang tidak hirau terhadap keberlanjutan ekosistem di Rimbang Baling.

Dan upaya untuk terus menyuarakan gerakan Save Rimbang Baling dan sekaligus mengajak siapa saja untuk membangun solidaritas terus diupayakan dengan menjadikan seni sebagai mediumnya, salah satunya melalui helatan yang rencananya akan rutin dilaksanakan yaitu Festival Rimbang Baling yang dilaksanakan pada 22 hingga 28 Januari 2018 yang juga dihelat di Desa Koto Lamo.

 

Festival Rimbang Baling dan Perluasan Siasat

Untuk sebuah helatan musik yang menjadikan alam raya beserta semua petualangannya sebagai daya tarik, maka Festival Musik #1 Rimbang Baling saya kira sangat berhasil. Saya beberapa kali ikut serta dalam helatan musik dengan kemasan serupa namun festival yang baru pertama kali dihelat ini memberi begitu banyak pengalaman musikal luar biasa bagi saya.

Kesan itu sudah kami jumpai bahkan ketika kami masih berada di Desa Gema dimana piyau (sampan tradisional) yang akan memberangkatkan kami menuju Desa Koto Lamo berlabuh. Nuansa petualangan semakin terasa saat piyau yang dinahkodai Datuk Marlan, salah satu tetua adat di Koto Lamo, meninggalkan Desa Gema.

Kami menempuh perjalanan menuju Koto Lamo kurang lebih satu setengah jam. Dan selama perjalanan tersebut kami disuguhi pemandangan yang luar biasa. Lalu lalang piyau dari dan menuju beberapa desa yang terletak di pinggir sungai yang membelah Rimbang Baling, air yang begitu jernih, ribuan jenis flora dan beberapa jenis fauna yang menampakkan diri di pinggir sungai menjadi semacam hamparan bukti keindahan Rimbang Baling yang sebelumnya diceritakan oleh teman dari Koalisi Seni.

Rentetan cerita tentang keindahan ini tentu belum selesai. Festival Musik #1 Rimbang Baling menyuguhkan pengalaman menonton gelaran musik di alam terbuka dengan cara yang tak biasa. Untuk menuju salah satu panggung pertunjukan yang terletak di pinggir Sungai Bio Desa Kota Lamo, kami kembali harus menggunakan piyau. Di sore hari saat pertunjukan dimulai, perjalanan menuju panggung dengan piyau mungkin biasa tapi lain hal jika perjalanan itu dilakukan di malam hari saat gelaran usai dan kami harus kembali ke area perkemahan. Perjalanan yang hanya mengandalkan sumber cahaya dari senter milik pengemudi piyau dan sinar rembulan dan arus sungai yang mulai deras.

Di Festival ini, Anda juga bisa menikmati suguhan musik dari panggung sambil berendam dan menikmati dingin Sungai Bio. Atau menyaksikan pemandangan anak-anak desa yang berlompatan ke sungai dari pinggir sungai yang tempatnya cukup tinggi seolah ingin mengembalikan memori saya tentang kampung halaman di pelosok Sulawesi Tenggara sana yang alamnya perlahan mulai tergerus olah deru perusahaan tambang.

Meski saya dan tentu semua pengunjung festival ini begitu menikmati keindahan alam yang tersuguh, namun semua itu sekaligus menjadi serupa hitungan mundur menuju kehancuran ekosistem jika festival ini hanya dimaknai sebagai pertunjukan seperti biasanya. Dan menurut saya festival ini dirancang tidak hanya sebagai pengingat jika ancaman terhadap ekosistem alam khususnya di Rimbang Baling telah ada di depan mata, namun ia juga menjadi serupa seruan untuk segera melakukan sesuatu.

Dan untuk itu, Festival Rimbang Baling saya kira dirancang dengan sangat memperhatikan kemasan dan tata kelola pertunjukan. Dua hal yang seringkali masih diabaikan oleh banyak penyelenggara kegiatan seni yang mengusung atau mengadvokasi isu sosial tertentu. Untuk urusan panggung misalnya, penyelenggara festival ini membuat tiga panggung pertunjukan dengan nuansa dan suguhan suasana yang berbeda.

Panggung pertama terletak di area Camping Ground Rimbang Baling. Camping Ground adalah area perkemahan yang dibuat oleh Rumah Budaya Siku Keluang bersama warga Desa Koto Lamo. Area ini sengaja dibuat sebagai tempat berkemah bagi semua pengunjung atau tamu. Beberapa seniman yang melakukan residensi di Desa Koto Lamo beberapa waktu lalu atas inisiasi Koalisi Seni dan Rumah Budaya Siku Keluang misalnya berkemah selama masa residensi di tempat ini.

Camping Ground ini merupakan bagian dari perencanaan Rumah Budaya Siku Keluang untuk menginiasi project pariwisata ekologis di Rimbang Baling. Harapannya, dengan project ini masyarakat dapat mendapatkan sumber pendapatan alternatif sehingga tidak lagi bergantung pada sumber pendapatan yang mengharuskan warga untuk mengeksploitasi hutan. Di Camping Ground ini misalnya, tersedia warung yang dikelola warga desa dan menyediakan kubutuhan makan minum dan ngemil siapa saja yang datang.

Sayangnya kami tidak bisa menyaksikan penampilan di panggung Camping Ground karena kami baru tiba di hari kelima pelaksanaan festival. Saat semua penampilan di pusatkan di dua panggung lainnya.

Panggung berikutnya terletak di Pulau Tengah. Nama Pulau Tengah diberikan oleh warga Desa Koto Lamo untuk sebuah spot di pinggir Sungai Bio yang ketika air sungai naik maka tempat itu akan dikelilingi air seperti pulau. Sayang ketika pelaksanaan festival, air sungai sedang surut sehingga spot itu tidak sempurna terlihat seperti pulau. Saat air sungai sedang surut, Pulau Tengah dipenuhi bebatuan sungai. Dan diatas bebatuan sungai yang terhampar sejauh mata memandang, didirikan sebuah panggung yang tak begitu luas dan tinggi dengan latar gunung serta rimbun hutan Rimbang Baling.

Di panggung Pulau Tengah ini, pengunjung festival disuguhi beragam spot menarik untuk menonton pertunjukan. Di atas bebatuan depan panggung rendah tanpa barikade, diatas rerumputan, diatas piyau yang sebelumnya dipakai mengangkut set sound, atau yang sedikit ekstrim anda bisa menikmati suguhan lagu sambil menikmati dingin Sungai Bio. Beberapa warga juga terlihat menonton pertunjukan dari seberang sungai yang lebih tinggi.

Selain penampilan diatas panggung, pengunjung juga dimanjakan tentunya dengan panorama indah Rimbang Baling, lalu lalang piyau yang seolah menambah warna nada yang tersuguh di panggung, anak-anak yang menikmati sungai dan dunianya sendiri, dan tentunya keakraban yang terjalin meski beberapa dari kami baru pertama kali bertemu.

Dan panggung terakhir berada di area lapangan bola voli yang berada di jantung desa Koto Lamo. Selain menjadi tempat aktivitas warga berolah raga, di area ini juga terdapat semacam pendopo yang terbuka dan cukup luas. Di tempat itulah sehari-hari warga berkumpul dan bertemu. Selain sebagai pusat berkumpulnya warga, tempat ini juga sangat tepat dijadikan sebagai tempat pertunjukan karena terdapat deretan tempat duduk yang berbentuk semi amphitheater yang digunakan warga untuk menonton pertunjukan.

Saat pertama kali mengunjungi area ini di malam pertama, saya dibuat takjub dengan set panggung yang didesain panitia festival. Separuh area panggung dikelilingi pagar yang terbuat dari kayu dengan ukuran diameter kecil yang menjulang tinggi serta kilau lampu di semua sisi panggung. Nuansa panggung begitu terasa meski panggung yang digunakan pada malam itu adalah pendopo yang memang telah ada di area tersebut.

Di malam berikutnya, panggung tidak lagi menggunakan pendopo, kali ini giliran lapangan voli yang disulap menjadi panggung sederhana. Hamparan karpet disediakan di depan panggung untuk penonton yang ingin lebih dekat dengan penampil. Di panggung ketiga ini, nuansa keakraban  bersama warga Desa Koto Lamo begitu terasa. Setelah shalat isya, semua warga desa berpondong-bondong mendatangi panggung pertunjukan dan kemudian ikut larut dalam kebahagiaan sederhana yang tersuguh hingga malam semakin menua.

Keakraban bersama warga ini tentu tidak hanya terasa saat panggung pertunjukan dimulai, sebaliknya ia mulai terasa saat semua pengunjung festival dijemput piyau dari Desa Gema oleh warga bahkan pemuka adat seperti Datuk Marlan yang menjemput rombongan kami. Suasana akrab dengan warga juga sangat terasa dan tak mungkin terlupa saat kami dengan rapi antri untuk mengambil menu makan malam di rumah Datuk Bandaro setiap malam.

Selain itu, warga juga ikut serta dalam lomba yang menjadi rangkaian festival. Seperti lomba calempong (alat musik perkusi tradisional yang terbuat dari logam khas Riau). Juga ada lomba tembak ikan yang memperlihatkan kemampuan warga dalam menangkap ikan dengan cara yang tidak merusak ekosistem. Area lomba tangkap ikan ini tepat di area Sungai Bio yang berhadapan dengan Camping Ground.

Selain itu, yang tak kalah serunya adalah lomba mengayuh piyau dengan dayung. Beberapa pengunjung festival yang memberanikan diri ikut lomba ini terlihat berusaha keras agar sampai ke garis finis. Sebaliknya, warga yang setiap hari bergelut dengan piyau terlihat begitu santai bahkan mereka mengayuh dengan hanya menggunakan satu tangan. Dan yang lebih seru saat lomba mengayuh piyau melibatkan ibu-ibu Desa Koto Lamo. Mereka tak kalah dengan para bapak yang sebelumnya telah berlomba. Festival ini bagi saya juga menjadi serupa momentum untuk terus mengikat keeratan sosial antar warga. Sebuah modal sosial yang selalu dibutuhkan apalagi ditengah ancaman eksploitasi terhadap Rimbang Baling yang juga menjadi ancaman bagi modalitas sosial tersebut.

Dan ajakan untuk terus bersatu dan menguatkan keeratan sosial juga menjadi nafas semua karya para penampil di festival ini. Untuk penampil, festival ini menyuguhkan beberapa seniman dari luar Riau seperti Rusli Keleeng (Bandung), Iksan Skuter (Malang) dan Sisir Tanah (Yogyakarta). Kehadiran seniman-seniman ini bagi saya tidak hanya untuk membuat helatan ini mempunyai aroma “nasional”, sebaliknya ia merupakan strategi untuk memperluas ruang dengar dan solidaritas semangat Save Rimbang Baling. Dan harapannya, melalui karya atau penampilan seniman-seniman ini di tempat lain, peluang terbangunnya solidaritas yang lebih luas dan tanpa batas khususnya untuk isu Rimbang Baling dapat mewujud secara nyata. Hal itu diamini Iksan Skuter dan Danto Sisir Tanah di kesempatan mewawancarai mereka berdua di waktu yang berbeda.

Yang juga tak kalah penting tentu terkait keterlibatan berbagai seniman asal Riau. Mulai dari musisi lintas genre, pelaku teater, perupa hingga penari. Saya pribadi begitu jatuh hati pada cara masing-masing seniman atau kelompok seni dalam menyampaikan kerisauan atau kritik atas apa yang sedang berlangsung di Rimbang Baling pada khususnya. Dari mereka saya mendapatkan banyak referensi dan pelajaran baru tentang bagaimana memperluas siasat menyampaikan hal-hal yang baik dan benar dengan menggunakan medium seni. Hal ini menjadi penting mengingat variasi dan keragaman metode dalam menyusun siasat akan mempengaruhi seberapa lama nafas kita untuk memperjuangkan hal-hal baik dan benar tersebut bisa bertahan.

 

Bahasa sebagai Senjata

Saya beberapa kali mengikuti helatan musik yang diadakan di alam terbuka dan dekat dengan pemukiman warga. Salah satu kritik dari helatan seperti ini karena warga seringkali benar-benar hanya menjadi penonton pertunjukan dan terasa ada eksklusivitas, bahasa dan gestur khas “kota” yang dibawa serta para penampil dalam helatan. Padahal yang dibicarakan melalui panggung atau karya yang tersuguh dalam helatan adalah apa yang dirasakan dan dialami warga sehari-hari. Dan yang terjadi kemudian memang warga merasa terhibur tapi maksud dan tujuan helatan tak tersampaikan dengan baik.

Seperti yang saya jelaskan diatas, Festival Musik #1 Rimbang Baling sejak awal berusaha menjawab kritik serupa dengan melibatkan partisipasi warga secara maksimal dalam kegiatan langsung maupun tidak langsung. Meski masih ada catatan misalnya soal jumlah warga yang ikut menampilkan karya seninya secara serius dan masuk dalam rundown acara.

Tapi terlepas dari itu, yang penting untuk dicatat adalah soal kemampuan masing-masing seniman, khsusunya para seniman Riau, yang memiliki caranya sendiri untuk merepresentasi kelokalitasannya dan ini membuat para seniman tersebut dapat memangkas jarak dan eksklusivitas dengan warga. Sehingga warga tidak merasa asing dengan apa yang disampaikan dan kemudian harapannya terpanggil untuk bekerja bersama mewujudkan asa di Rimbang Baling. Dan bagi saya peran bahasa menjadi penting dan sangat krusial dalam konteks ini.

Di malam pertama saya menyaksikan pertunjukan yang dihelat di area lapangan voli Koto Lamo, saya begitu takjub dengan penampilan Riau Rhythm. Ketakjuban saya bukan hanya karena secara teknis mereka sudah berkelas dan sebelumnya saya tahu mereka pernah tampil di Oz Festival Australia, tapi saya kagum karena meski itu kali pertama mereka tampil di Koto Lamo, sesuai pengakuan frontman Riau Rhythm, tapi suasana serasa begitu akrab karena kelompok musi ini membawakan lagu-lagu yang memang berlirik bahasa daerah dan begitu pula bahasa yang digunakan untuk menyapa dan membangun komunikasi dengan penonton.

Lain lagi dengan Onyai yang saya kira menjadi bintang di festival ini. Selama dua malam berturut-turut Onyai menghibur warga dan pengunjung festival dengan dendang ocu-nya. Ocu adalah bahasa daerah yang digunakan di Kabupaten Kampar, Riau. Dengan lagu-lagu bernada dangdut riang khas Melayu dan menggunakan lirik berbahasa Ocu ditambah gimmick super heboh yang membuat siapa saja tergoda untuk ikut maju ke panggung dan berjoget ria, Onyai bercerita tentang persoalan yang dihadapi masyarakat Kampar sehari-hari. Di lagu berjudul Ekonomi Kaleru misalnya Onyai bercerita tentang keluhan masyarakat “bawah” tentang kondisi ekonominya dan sekaligus menggambarkan bagaimana yang kaya menjadi makin kaya sementara yang miskin semakin miskin.

Ada juga penampilan teater dipadu gerak tubuh dari Teater Lorong Pekanbaru. Saya tak ingat apa judul naskah yang ditampilkan, tapi saya tak mungkin lupa satu kata yang berulangkali disebut oleh kelima personil Teater Lorong yaitu bagadumbo yang berarti bersama-sama atau beramai-ramai dalam bahasa lokal. Kata ini terus diulang hingga bernada seperti ajakan atau seruan kepada siapa saja untuk berbuat sesuatu bagi tanah air yang sedang sekarat.

Selain ketiga penampil ini, juga ada beberapa penampil yang memiliki cara sendiri untuk berkomunikasi kepada khalayak khususnya warga dengan beragam medium seni yang mereka gunakan. Misalnya, kelompok musik Ujung Sirih yang memainkan musik Melayu dengan menggunakan instrumen kalempong toro, sebuah alat musik pukul yang bahannya terbuat dari kayu toro.

Beberapa penampil memilih juga memilih bahasa simbol untuk mengabarkan persoalan-persoalan yang terjadi di Riau. Salah satunya  Angga Satria yang menampilkan performance art  dengan judul Peristiwa Oktober. Angga memulai pertunjukannya di pinggir Sungai Bio depan Camping Ground dengan gerak dan suara batuk dan sesak nafas yang tak terkira. Selanjutnya seniman Pekanbaru ini duduk membelakangi tumpukan batu sungai dengan beragam ukuran yang kemudian dilemparkannya satu per satu hingga habis dengan pelan dan semakin lama semakin cepat. Angga lalu mengakhiri pertunjukannya dengan mencucui tangannya di pinggir Sungai Bio.

Menurut Angga, pertunjukan berjudul Peristiwa Oktober itu bercerita tentang bencana asap karena kebakaran hutan yang terjadi di Pekanbaru pada Oktober 2015. Efek bencana asap ini hingga ke Kalimantan bahkan Singapura. Angga bercerita bagaimana anaknya yang berumur 5 bulan saat itu terkena dampak asap dan mirisnya karena pemerintah memilih untuk “lempar batu” dan “cuci tangan” dengan menisbahkan masalah ini sebagai takdir.

***

Festival Musik #1 Rimbang Baling saya kira memperkaya referensi kita tentang bagaimana seni yang dikelola dengan baik dapat menjadi ruang untuk menyampaikan kritik serta membangun kesadaran dan solidaritas khususnya terkait masalah di Rimbang Baling. Selanjutnya, selama kurang lebih tiga hari berada di Kawasan Rimbang Baling dan mengikuti rangkaian kegiatan di Festival Musik #1 Rimbang Baling, saya kembali menemukan keyakinan jika selalu ada harapan untuk kondisi yang lebih baik dari kerja-kerja kolaboratif. Dari festival ini saya juga semakin percaya jika seni selalu punya cara untuk memastikan agar asa kita bisa terus terjaga. Dan memastikan agar asa selalu bersemai seperti bunyi di Rimbang Baling.

*Zulkhair Burhan mewakili Kedai Buku Jenny (Makassar) sebagai anggota Koalisi Seni Indonesia di Festival Musik #1 Rimbang Baling


Sumber gambar: dokumentasi Koalisi Seni, akun twitter @hutanituid, dan akun instagram @rimbang_baling

Referensi:

Mutiara Ekowisata Desa Koto Lamo, https://www.google.co.id/amp/s/leemon.wordpress.com/2016/08/24/mutiara-ekowisata-desa-koto-lamo/amp

Jay Fajar, Secercah HarapanUntuk Pengelolaan Bukit Rimbang Baling Riau, https://www.google.co.id/amp/www.mongabay.co.id/2015/05/10/secercah-harapan-untuk-pengelolaan-bukit-rimbang-baling-riau/amp/

Wawancara bersama Onyai, 28 Januari 2018

Wawancara bersama Angga Satria, 28 Januari 2018

Wawancara bersama Iksan Skuter 27 Januari 2018

Wawancara bersama Sisir Tanah, 28 Januari 2018

Wawancara bersama Umar dari Rumah Budaya Siku Keluang, 10 Maret 2018

Related posts