September 22, 2018

Seni Lingkungan: Bekerja Bersama untuk Masa Depan

Seri diskusi Koalisi Seni Indonesia kini datang lagi. Kali ini, Koalisi Seni mengundang dua pembicara yaitu Tita Salina dan Adi Wibowo (LabTanya), untuk mempresentasikan kegiatan kesenian mereka. Tita Salina akan mempresentasikan proyek Ziarah Utara yang sedang berlangsung tahun ini dalam menanggapi isu lingkungan dan masyarakat pesisir di wilayah utara Jakarta. Sebagai proyek yang masih berlangsung, pembahasan diharapkan berupa paparan mengenai gagasan kreatif, hingga bagaimana proyeksi ke depan Ziarah Utara akan dilaksanakan. Sedangkan, Adi Wibowo yang tergabung lab riset dan ekseprimen LabTanya akan mempresentasikan proyek Kota Tanpa Sampah, yang telah diinisiasi oleh kelompoknya sejak 2015. Pembahasan mengenai proyek Kota Tanpa Sampah diharapkan dapat menjelaskan bagaimana pola kerja, kontribusi masyarakat, dan mengapa kita harus optimis bisa mewujudkan kota tanpa sampah seperti yang dicita-citakan oleh proyek ini.

Relasi antara seni dan gerakan lingkungan hidup memang dekat. Dalam wilayah kebudayaan, artikulasi seniman telah banyak dilakukan dalam menanggapi isu lingkungan, mulai dari isu reklamasi, masalah pembebasan lahan, hingga persoalan sampah. Setelah dekade 1960-an, salah satu momen penting terkait proyek seni dan isu lingkungan ialah diselenggarakannya pameran Proses 85 di Jakarta yang mengangkat isu lingkungan di wilayah utara Jakarta. Proyek pameran seni ini dilakukan dengan riset artistik dan pendekatan yang lebih bersifat observatif, bekerja langsung di masyarakat. Kecenderungan lainnya ialah dalam dua dekade terakhir telah terlihat adanya fokus kegiatan artistik yang mengkritisi situasi lingkungan dalam konteks kota besar seperti Jakarta. Inisiatif-inisiatif ini pada umumnya bersifat kolaboratif dan multidisipliner, melibatkan berbagai bidang keahlian seperti etnografi, arsitektur, tata  ruang kota, seniman, dan masyarakat umum.

Ingin ikut lebih jauh dalam diskusinya? Silakan datang langsung ke Kantor Koalisi Seni Indonesia, Jalan Amil Raya No. 7A, Pejaten Barat, Pasar Minggu pada pukul 14.00 WIB. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Tapi ada satu syarat untuk peserta yang ingin hadir: silakan membawa botol air minum sendiri sebagai upaya kita bersama menjaga lingkungan kita.

Sampai jumpa!


Profil narasumber:

Tita Salina bekerja dan tinggal di Jakarta. Sejak 2010, bersama Irwan Ahmett sebagai seniman duo membuat proyek seni inisiatif fokus kepada isu perkotaan terutama public space dan menjadikan masalah-masalah sosial dan politik sebagai sumber daya kreatif. Dalam enam tahun terakhir, Tita menghasilkan beberapa karya, terlibat dalam proyek seni juga diundang di program residensi dan pameran di Indonesia, Singapura, Jepang, Selandia Baru dan beberapa kota di Eropa. Praktek berkeseniannya memanfaatkan situasi, found object, melibatkan publik, merespon kebiasaan warga, meneliti isu sosial lalu memproses temuan-temuan tersebut lalu mengaplikasikannya di wilayah-wilayah tertentu dengan atau tanpa melibatkan publik didalamnya dengan memanfaatkan metode Play. Dalam empat tahun terakhir ini Tita lebih fokus kepada persoalan yang lebih kompleks yang terkait dengan ketidakadilan, pergolakan politik, lingkungan dan energi dan kelompok rentan. Dimana pada situasi-situasi tersebut kerap menghasilkan nilai-nilai kemanusiaan yang universal.

Ign. Susiadi Wibowo atau biasa dikenal dengan nama Adi Wibowo, mengelola studio arsitektur Adhi Wiswakarma Desantara (AWD) yang didirikannya pada tahun 2010. Bersama studio kerjanya, ia aktif mengikuti beragam sayembara arsitektur dan memenangkan beberapa penghargaan, di antaranya: Penghargaan Khusus Sayembara Penataan Kawasan Galeri Nasional tahun 2013, yang oleh dewa juri disebut sebagai karya provokatif. Pada akhir tahun 2014, ia menginisiasi berdirinya LabTanya: wadah riset serta eksperimen sosial yang mengedepankan kerja-kerja kolektif, partisipatoris, multi/lintas disiplin, dan berbasis pada tantangan keseharian di kehidupan masyarakat urban. Menurutnya, praktik kerja LabTanya merupakan anti-tesis dari praktik ‘business as usual’nya sebagai arsitek. Salah satu keluaran LabTanya yang kemudian didorong untuk menjadi program dan gerakan publik, adalah Kota Tanpa Sampah (2015).

Related posts