Oktober 23, 2017

Seni Masih Terpinggirkan – Kompas, 04 November 2015

Jakarta, Kompas – Selama ini negara belum menjadikan kesenian sebagai sarana untuk menggerakkan pembangunan di Indonesia. Padahal, di banyak negara, seni justru ditempatkan sebagai bagian dari strategi kebudayaan untuk memajukan bangsa, termasuk di kancah global.

Gagasan ini disiapkan sebagai salah satu tema yang diperbincangkan dalam Kongres Kesenian Indonesia (KKI) Ke-3 di Bandung, 1-5 Desember 2015. Kegiatan yang digelar Direktorat Kesenian Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud) itu mengangkat tema “Kesenian dan Negara dalam Arus Perubahan” sebagai semacam kritik-otokritik terhadap peran negara dalam pengembangan kesenian. Tema besar itu dijabarkan ke beberapa subtema.

KKI menjadi penting karena Indonesia memasuki babak baru ketika muncul kesadaran untuk berbenah. “Di Indonesia, kesenian bisa dibilang masih marjinal karena belum dilihat sebagai elemen penting yang menggerakkan pembangunan. Di banyak negara lain, ada strategi kebudayaan, termasuk di dalamnya kesenian. Di Brasil, keseniannya dioptimalisasi oleh masyarakat,” kata Ketua Koalisi Seni Indonesia Mohamad Abduh, yang menjadi Wakil Ketua Panitia Penyelenggara KKI 2015, Selasa (3/11) di Jakarta.

Pelaksanaan kongres pada tahun 2015 ini dinilai tepat sebagai kelanjutan dari KKI ke-1 pada 1995 dan KKI ke-2 pada 2005. Terjadi banyak perubahan paradigma, gagasan, dan tata kelola kesenian selama sepuluh tahun terakhir sehingga perlu dibangun lagi arah baru pengembangan kesenian Indonesia.

KKI enggan dinilai sebagai kongres “plat merah”, seperti pernah dicibir pada 2005. Oleh karena itu, kongres memberi kesempatan lebih besar kepada 700 peserta yang meliputi seniman, pengamat seni, kritikus seni, jurnalis seni, anggota DPR RI khususnya Komisi X, kepolisian, para pejabat di daerah, dan kementerian terkait, seperti Kemenpar, Kemlu, Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf). “Ada beberapa penyelenggara festival dari luar negeri yang mau hadir sebagai peninjau dan mitra dialog. Brasil mau bikin festival tentang Indonesia tahun depan sehingga mau hadir,” kata Arie Batubara, salah satu anggota panitia KKI.

Anggota panitia lain, Ari Sutedja, berharap hasil kongres ini bisa mendorong perubahan demi kemajuan bangsa.

Peta Kesenian Berubah

Hasil pergulatan pemikiran dalam kongres akan disusun dalam bentuk rekomendasi kepada semua pihak terkait. Abduh menambahkan, peta kesenian telah berubah, misalnya banyak lembaga yang tidak relevan lagi. Seiring waktu muncul kesenian urban, kontemporer, meski basisnya seni tradisi. “Kita akan lihat apakah perubahan-perubahan itu saling mendukung. Dimana macetnya. Hasilnya menjadi semacam rekomendasi acuan pembangunan ke depan yang mana kesenian ditempatkan pada porsi sesungguhnya,” katanya.

Direktur Kesenian Kemdikbud Endang Caturwati mengatakan, sejumlah persoalan akan diurai dalam kongres. Endang mencontohkan, pendidikan kesenian di sekolah yang belum dianggap penting. Tidak semua sekolah memiliki guru kesenian yang mumpuni. “Akhirnya guru matematika bisa nyambi jadi guru kesenian,” katanya.

Menurut budayawan yang juga eks Dirjen Kebudayaan, Edi Setyawati, sampai kini kita selalu dihadapkan pada wacana merawat kesenian lama dan mengembangkan baru. Seni tradisi dan sejumlah suku bangsa mau diapakan ketika seni modern datang. Edi juga menyoroti peran kritik seni yang besar dalam pengembangan kesenian. Media massa diharapkan memberikan ruang kepada kritik seni, tak sekadar memberitakan. (IVV)

Related posts