Oktober 23, 2017

Seni Rupa dan Perkembangan Kebudayaan oleh FX Harsono

Biennale Jogja 2015 | sumber foto: www. print.kompas.com 

Penciptaan seni rupa tak lagi sunyi di studio. Ia tidak lagi steril dan bersifat individual. Seniman kini masuk ke pelosok-pelosok area untuk berinteraksi, berkolaborasi, dan memahami masyarakatnya. Dalam mencipta karyanya, mereka telah lebih dari sekedar mengandalkan intuisi, emosi, kepekaan rasa atau pun keahlian tangan semata.

Kegiatan-kegiatan yang bersifat kolaboratif, partisipatif, maupun kajian telah menjadi bagian di dalam proses kreatif penciptaan karya seni. Kegiatan penciptaan semacam ini merupakan praktik dari seni rupa kontemporer, di mana

kehidupan dan kompleksitasnya mampu dihadirkan ke dalam karya seni yang merefleksikan kondisi masyarakat dan kebudayaannya.

Keseriusan seniman dalam mengamati, mengenali, dan membaca bagaimana kebudayaan bergerak sangat dibutuhkan. Seorang seniman dituntut untuk memiliki pengatahuan yang cukup agar mampu membaca dengan baik perubahan kebudayaan yang semakin dinamis. Disinilah hal-hal yang bersifat kognitif untuk menafsir gejala-gejala alam, sosial, dan perkembangan ilmu pengetahuan melengkapi penciptaan karya seni.

Sementara itu, gerak kebudayaan yang semakin dinamis, cepat, dan kompleks dipicu oleh perkembangan pemikiran filsafat yang tidak lagi mengacu pada kekuatan dan dominasi teori-teori besar yang memihak kebenaran tunggal. Pemikiran ini dikenal sebagai filsafat pascamodern. Filsafat pascamodern pada satu sisi memperlihatkan bagaimana pemikiran dan ukuran kebenaran tidak mutlak satu, dan di sisi lain juga menyebabkan kerancuan, ambiguitas, dan paradoksal nilai. Pemikiran ini pula yang kemudian mendorong terjadinya eksplorasi tema dan bentuk-bentuk artistik dalam praktik seni rupa.

Batasan yang semula membagi dan mengkotak-kotakkan yang mana terapan dan murni, nilai estetis dan non estetis, hirarki tinggi dan rendah; menyatu dan saling baur dalam media-media yang menciptakan paradigama baru. Antara seni murni dan desain, antara seni tinggi dan seni rendah, antara kebudayaan massa dan kebudayaan tinggi pun kabur.

Dalam hal epistemologi seperti yang dijelaskan di atas, pergeseran-pergeseran dalam pemikiran pascamodern tidak seragam. Namun demikian, beberapa bagian pemikirannya sudah bisa diantisipasi sejak generasi sebelumnya. Yang paling menonjol adalah pemikiran Mahzab Frankfurt mengenai bagaimana objek seni diproduksi, dikonsumsi, dan dipahami.

Dunia seni rupa tidak hanya semakin kaya, namun juga kompleks. Pergeseran bukan hanya dalam nilai estetis, tetapi juga dalam proses penciptaan. Bergesernya kriteria proses penciptaan, bagaimana objek seni diproduksi, menuntut suatu kondisi tertentu di mana pengetahuan tentang seni saja tidak cukup, tetapi dibutuhkan pengetahuan tentang kebudayaan, sosial, dan filsafat.

Pada posisi ini, lembaga pendidikan sebagai tempat mempersiapkan seniman yang siap menghadapi tuntutan perkembangan jaman, diuji. Dunia pendidikan kita yang selalu terjebak dalam birokrasi dan kebijakan pemerintah membuatnya tertinggal dalam menyesuaikan dinamika kebudayaan yang nyata. Untungnya, ketertinggalan ini kemudian banyak diisi oleh kemunitas seni dan institusi independen lokal dengan menyelenggarakan lokakarya dan residensi, menunjang pematangan wacana dan artistik.

Pasar dan segala perangkatnya saat ini tumbuh pesat. Tumbuhnya galeri-galeri komersial dan bertambahnya kolektor yang mulai mengoleksi karya seni kontemporer membuat dunia seni rupa semakin semarak. Keadaan ini mengiringi perjalanan seni rupa kita yang minim dukungan pemerintah, masalah finansial dalam berkarya, dan tidak ada infrastruktur yang baik. Pasar kemudian menyelinap masuk ke dalam proses penciptaan.

Ketika pasar menjadi dominan, maka pasar berkesempatan menjadi penentu nilai. Pasar punya logikanya sendiri, yakni keuntungan, efisiensi, dan percepatan produksi demi mendorong produktivitas. Logika pasar ini akan menentukan relasi ekosistem antara galeri komersial, kolektor, dan seniman. Pasar yang pragmatis menempatkan motif kapitalnya sebagai pengambil keputusan yang ampuh dan dipakai sebagai alat penekan agar seniman bersikap profesional dan mengadopsi manajemen modern, yaitu efektifitas waktu dan keuntungan. Dua hal tersebut dipakai sebagai ukuran kondisi ideal menurut pasar.

Akibatnya, segala proses penciptaan yangRiset, eksperimentasi, atau kegiatan lainnya yang tidak sejalan dengan efisiensi waktu produksi akan dihilangkan. Secara sadar atau tidak, hal-hal ini menyusup ke dalam pikiran seniman yang kemudian secara otomatis akan melakukan self censorship demi kepentingan pasar. Mekanisme sensor ini memang tak kasat mata karena terkonversi ke dalam bentuk idea “profesionalisme”,” deadline”, maupun “target penjualan”.

Dengan direduksinya proses penciptaan yang membuka persentuhan seniman dengan realitas kehidupan, maka karya seni akan menjadi superfisial, tak punya akar dan kehilangan konteks dengan masyarakatnya. Kondisi ini akan menciptakan standar penilaian yang secara spesifik berorientasi pada kepentingan pasar. Tertinggalnya dunia pendidikan menjadi semakin rumit dengan agresifnya pasar seni rupa. Di satu sisi, pendidikan harus mampu memberikan modal pengetahuan agar seniman menjadi kritis dalam menghadapi seluruh tantangan yang nyata dalam dunia seni rupa, bukan melayani komersial semata. Seniman ditantang untuk menghadirkan karya yang mempunyai nilai wacana menyumbang pemikiran-pemikiran baru terhadap seni rupa kontemporer.

Pada posisi ini kita perlu mempertanyakan; di mana posisi yang ideal dalam pola produksi, di mana semua bisa diuntungkan? Persoalannya bukan siapa yang untung dan siapa yang rugi, tetapi bagaimana kita bisa memaknai nilai-nilai kebudayaan lewat karya seni rupa yang mampu mengangkat nilai-nilai kebangsaan. Nilai-nilai kebangsaaan akan menunjukkan identitas ke-Indonesiaan, yang akan hadir melalui mereka (para seniman) yang setia dan terus berdisiplin, bukan dari mereka yang mengejar keuntungan semata.

***

Melihat kenyataan ini, maka kehadiran institusi seni rupa, artist initiative, pendidikan nonformal, serta art spaces yang mendukung eksperimentasi dan penelitian menjadi penting. Perlu dipahami juga bahwa aktivitas kesenian bukan lagi hanya berbentuk sebuah pameran, melainkan juga diskusi, lokakarya, dan proyek penelitian. Ragam aktivitas tersebut tidak berada di wilayah pasar karena tidak menghasilkan keuntungan, namun berperan sangat penting dalam memunculkan wacana kritis yang berguna untuk kemajuan seni rupa. Tanpa eksperimentasi dan penelitian, seniman tidak akan mendapatkan pengetahuan dan pemahaman baru sebagai referensi tumbuhnya ide-ide yang juga baru.

Selama ini, mekanisme keberlangsungan institusi seni rupa lokaldidanai oleh lembaga donor luar negeri, yang bergantung kepada kondisi ekonomi di negaranya. Peran perusahaan swasta dan pemerintah tentu diperlukan. Sementara, terjadi kesalahpahaman oleh pemerintah mengenai kegiatan kesenian yang hanya tampak di seputar penyelenggaraan pameran.

Sedangkan pihak swasta atau pun para kolektor selalu melihat hubungan mereka dengan kesenian dan seniman berdasarakan pertimbangan bisnis.

Sekali lagi, nilai-nilai kapital nampaknya selalu menunjukkan kekuatannya untuk merebut ruang yang paling menguntungan bagi bisnis mereka, sementara aktivitas kreatif para perupa untuk menunjukkan peran mereka dalam membangun bangsa tak bisa dihentikan. Saya khawatir kalau situasi ini terus dinomorsatukan, maka kemajuan kebudayaan bangsa Indonesia akan menjadi nomor paling akhir dibandingkan dengan kepentingan bisnis dan keuntungan pribadi.

Saya tak hendak untuk mengatakan mana yang benar atau mana yang harus diprioritaskan, tetapi marilah kita semua berusaha memposisikan diri untuk bisa berperan dalam memajukan kebudayaan bangsa Indonesia. Seniman, komunitas, pengusaha, dan pemerintah bersatu menyongsong Indonesia hebat. Salam hebat.

Penulis:
FX Harsono
Perupa (Peraih Prince Claus Award 2014)

Related posts