April 27, 2018

Seniman Perempuan dalam Cerita

Oleh: Rahmadiyah Tria Gayathri*

Pada Mei 2016, Mataram menjadi tempat yang dipilih oleh Koalisi Seni Indonesia untuk menyelenggarakan kegiatan TEMU SENIMAN PEREMPUAN. Sebanyak  25 peserta diundang ke forum ini. Mereka adalah perempuan-perempuan tangguh yang berasal dari beberapa kota di Indonesia, yaitu Palu, Makassar, Kupang, Pekanbaru, Jakarta, Yogyakarta dan Mataram sebagai tuan rumah.

Pukul 10 pagi forum dibuka oleh Naomi Srikandi, seorang Sutradara Teater asal Yogyakarta yang berperan sebagai fasilitator dalam forum tersebut. Agenda acara dimulai dengan presentasi karya dan aktivitas kesenian yang dilakukan oleh peserta di kota-kota masing-masing, dengan durasi 7 menit setiap sesi presentasinya. Presentasi pertama dibuka oleh Ruth Marini, seorang seniman teater asal Kota Lampung yang saat ini bermukim di Jakarta. Ada kutipan manis yang terakhir diucapkan oleh Mbak Ruth sebelum menutup presentasinya yaitu “jalan seni betapapun penuh semak dan belukarnya, seberapapun tak pastinya, ia tetap akan mengantarkan kita pada suatu tujuan”. Kutipan itu berhasil menyalahkan segala amuk semangat di dada perempuan-perempuan yang tergabung didalam forum seniman perempuan pada pagi itu.

Sangat banyak cerita-cerita menarik dan tak diduga-duga dari setiap pengalaman peserta yang mereka bawa dari keragaman kotanya. Salah satu yang paling menarik adalah kisah dari kawan-kawan di Lombok yang membagi cerita tentang atmosfer kota mereka yang dipengaruhi oleh perbedaan stigma juga batasan-batasan bagi perempuan di Mataram untuk menjalani hidup sebagai seniman sekaligus menjalankan tugas sebagai perempuan. Kemudian dibicarakan pula tentang keresahan-keresahan akan krisis apresiasi dari pekerja seni di Indonesia Timur dan kesulitan untuk  mendapat akses dengan pemerintah juga pihak-pihak swasta sebagai pendukung kegiatan kesenian. Lain halnya juga cerita dari teman-teman yang berbasis di Pulau Jawa seperti Jakarta, Yogyakarta dan lainnya, dimana cerita yang mereka bagi lebih terkait pada problematika di dalam organisasi kesenian dimana sangat sering terjadi kesenjangan antara perempuan dan laki-laki.

Presentasi kembali dilanjutkan dengan peserta lainnya. Ada cerita unik yang dibagi dari komikus asal Jakarta, Mbak Sheila Rooswitha yang berbagi cerita tentang pekerjaannya yang sangat menginspirasi. Sehari-sehari ia bekerja di atas kertas dengan peralatan gambar, sambil mengemban tugas mulia sebagai ibu dari dua orang anak. Karya-karyanya terinspirasi dari lingkungan tempat tinggalnya dan kepekaannya terhadap keadaan dan isu-isu sosial di Jakarta menjadi sumber inspirasi terbesarnya dalam bekerja dengan hal yang ia cintai.

Kemudian Mbak Irma Agryanti, seniman sastra asal Lombok ini memperkenalkan Komunitas Akarpohon.  Ia bercerita bahwa komunitas di Lombok awalnya bergerak sporadis setelah sebelumnya bergerak individualis. Setelahnya, Mbak Irma juga membahas tentang perkembangan sastra puisi dan cerpen, bagaimana sejarah perempuan penyair di NTB tidak terdokumentasi atau terarsipkan dengan baik. Hal ini penting karena perjalanan sastra haruslah ada yang merekam dalam bentuk tulisan. Ia berpendapat bahwa literasi kegemaran membaca masyarakat NTB masih sangat kurang, sehingga meski banyak ruang apresiasi, namun tetap saja subjek apresiasinya masih minim.

Lanjut, Emy Diyah Oktaviani anggota Teater Putih Mataram. Selain berkutat dengan kegiatannya untuk selalu konsisten di musikalisasi puisi bersama Teater Putih, perempuan satu ini juga memiliki hobi jalan-jalan.  Selama di Teater Putih ia masih mencari alasan kenapa ia berada di sana dan kemudian dia memutuskan untuk tidak ingin mencari lagi alasan itu. Karena, katanya, jika ia menemukannya, maka ia bisa saja keluar ketika alasan itu sudah hilang. Mungkin saja, ungkapnya sebelum menutup ceritanya.

Mikyal Fatonah mengambil giliran setelahnya. Guru SMAN 1 Selong ini berkonsentrasi menulis cerita pendek (cerpen) dan naskah drama. Ia berkata, dunianya mungkin hanya seluas kamar tidur namun jauh di dalam hatinya, ia mendambakan masa tua yang damai di depan rumah sambil mengguluti pekerjaan kesenian. Setiap menulis, ia selalu memilih tema perempuan. Ini karena di tempat tinggalnya, pandangan masyarakat tentang perempuan yang berkesenian masihlah sempit. Oleh karena itu, ia berusaha “melelang” nilai demi anak didik yang mau membaca karya sastranya.

Novita Hidayani kemudian mengambil gilirannya untuk maju ke depan. Gadis penggelut cerita pendek (cerpen) ini berasal dari Komunitas Akarpohon. Ia bingung kenapa diundang ke acara ini karena merasa baru menelurkan beberapa karya. Lintang Sugiyanto pernah mengadakan workshop di sekolahnya dan ia berikrar akan menjadi penulis di masa depan. Saat “nyantri” dengan segala keterbatasan,  ia tetap menulis dan membacanya di hadapan teman sekolahnya. Sifat dan mimik wajahnya yang sangat ekspresif begitu mencairkan suasana forum siang itu.

Selanjutnya Iin Farliani. Perempuan ini bergelut dalam dunia sastra, dari menulis cerita pendek, puisi, dan essai. Ia sempat masuk dalam Sanggar Budaya Pelangi (SBP) SMAN 2 Mataram, namun karena kurang sabar menunggu peran, ia memilih keluar dan selanjutnya aktif di Akarpohon pada 2013.

Dan dilanjutkan oleh Vicky Rosalina, salah satu pegiat Jakarta Biennale. Ia berkata bahwa dari sekian banyak peserta mungkin ia satu-satunya yang tidak memiliki karya yang nyata. Latar belakang pendidikan sastra yang ia miliki dari ilmu yang ia tempuh saat masa kuliah dan keterlibatannya dalam komunitas Salihara menjadi jejak awal perkenalannya dengan seni rupa. Menurutnya, bekerja di belakang layar dan mengelola kegiatan kesenian sudah menjadi pilihan yang membahagiakan selama masih tergabung dalam tubuh kesenian. Ia juga membagi ceritanya saat berkunjung ke Perth, Australia mengadakan studi banding tentang kinerja pemerintah dalam memfasilitasi kerja seni. Ia mengajari peserta lain banyak hal yang sering luput dalam isi kepala seniman bahwa kesuksesan sebuah pameran atau pertunjukan kesenian merupakan kerja keras dari pekerjaan yang ia geluti saat ini.

Kemudian  Sugar Nadia Azier yang tak lain adalah koordinator acara forum ini. Berawal dari hobinya menonton film lalu berlanjut menjadi relawan pemutaran. Ia memilih  tumbuh di dunia sinema, hingga menjadi programmer dari salah satu ruang pemutaran film alternatif di Taman Ismail Marzuki yang dinamakan Kineforum. Bergelut dan bekerja bersama sinema selama beberapa tahun membuatnya mampu merekam karakter-karakter dari penonton film alternatif di Indonesia, berjejaring dengan kawan- kawan aktivis film di segala penjuru Indonesia dan memperjuangkan distribusi film-film non mainstream di Indonesia.

Usai semua peserta selesai melakukan presentasi, fasilitator mengumpulkan pertanyaan-pertanyaan juga kritik-kritik dari peserta untuk merespon hasil dari setiap presentasi yang mereka bawakan. Kami kemudian mencoba saling memecahkan masalah-masalah dari organisasi di kota kami juga saling berbagi motivasi untuk tetap bertahan hidup di jalan yang kami inginkan.

Selain berbagi cerita, berinteraksi memecahkan masalah, hari itu juga kami saling mengajukan inisiasi untuk menjalin kerjasama antar kota seperti inisiatif untuk tetap saling membagi informasi kegiatan kesenian di kota masing-masing yang output-nya akan disebar di media-media guna mempermudah pertukaran ilmu dan informasi kegiatan berkesenian, sehingga komunikasi antar pekerja seni di daerah-daerah di Indonesia tidak akan terputus.


*Rahmadiyah Tria Gayathri adalah mahasiswa Teknik Informatika tingkat akhir berusia 24 tahun. Tumbuh dan bekerja di Kota Palu, Rahma menjadi ilustrator paruh waktu dan mengelola toko kerajinan tangan di markas Forum Sudut Pandang. Ia pun aktif menulis di Majalah Marlah dan webzine musik bernama Indie Palu. 

Related posts