Januari 18, 2018

[Seri Diskusi] Riset Artistik dan Transformasi Sosial

Saat ini, melakukan penelitian atau riset telah menjadi hal yang umum dilakukan oleh para seniman atau pelaku seni. Pertanyaan sederhana dalam menanggapi kecenderungan ini ialah, apakah peran kemudian ‘intuisi’ yang telah melekat dalam praktik berkesenian tergantikan dengan praktik riset artistik ini? Atau keduanya, baik intuisi dan riset artistik bukanlah sesuatu yang berseberangan?

Dalam sebuah kegiatan riset, metode menjadi salah satu faktor penting. Namun apakah ini juga berlaku dalam riset artistik? Dalam seri diskusi Koalisi Seni edisi ini, pembahasan mengenai praktik riset artistik hendak diangkat khususnya dalam konteks seni rupa kontemporer Indonesia.

Dua pembicara yaitu FX Harsono dan Riksa Afiaty kami undang untuk membagikan materi terkait praktik riset artistik yang mereka jalani selama ini. Beberapa fokus pembahasan akan juga bertujuan melihat bagaimana fenomena praktik riset artistik ini secara umum di Indonesia, hingga sejauh mana potensi riset artistik dapat berperan dalam signifikansi karya seni yang dihasilkan, dan transformasi sosial yang diharapkan.

Lebih lengkapnya, silakan membaca dan mengunduh kerangka acuan kegiatan di tautan ini: Kerangka Acuan Kegiatan – Diskusi “Riset Artistik dan Transformasi Sosial”

Diskusi akan diselenggarakan pada Jumat, 24 November 2017, pukul 14.00 – 17.00 WIB. Bertempat di Koalisi Seni Indonesia, Jl. Amil Raya No. 7A, Pejaten Barat, Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Acara gratis dan terbuka untuk umum. Info lebih lanjut silakan menghubungi Oming (083 834 995 606).


Profil pembicara:

FX Harsono (lahir 1949) adalah  seniman yang kritis terhadap perkembangan politik dan gerakan kebudayaan Indonesia. Harsono belajar melukis di STSRI “ASRI” Yogyakarta (1969-1974) dan di Institut Kesenian Jakarta (1987-1991).

Sejak 2005 ia menjadi staf pengajar di Fakultas Seni dan Desain di Universistas Pelita Harapan, Tangerang. Beberapa pameran tunggalnya adalah Testimonies, Singapore Art Museum, Singapura (2010) dan The Erased Time, Galeri Nasional Indonesia, Jakarta (2009). Harsono juga tampil di berbagai acara seni internasional, di antaranya, 4th Moscow Biennale of Contemporary Art, Moskow, Rusia (2011), Edge of Elsewhere di 4A, Sydney, Australia (2011), Recent Art From Indonesia: Contemporary Art-Turn di Museum of Contemporary Art, Shanghai, Cina (2010) dan Beyond The Dutch di Centraal Museum, Utrecht, Belanda (2009).

Selain berpameran, Harsono juga aktif menjadi pembicara dalam berbagai lokakarya serta menulis kritik seni di berbagai media. Ia juga pendiri dan Ketua Pengawas Koalisi Seni Indonesia. Pada 2014, FX Harsono menerima penghargaan Prince Claus Award.

 


Riksa Afiaty (lahir 1986) adalah kurator seni rupa kelahiran Bandung. Ia merupakan salah satu kurator untuk Jakarta Biennale 2015. Pada 2011-2015 dia menjadi bagian dari kelompok seniman ruangrupa, dan dalam rentang waktu tersebut ia telah berkontribusi untuk OK Video — Indonesia Media Art Festival dan artlab.

Pada 2013 ia mendapatkan hibah riset dari Rumah Seni Cemeti (Yogyakarta) untuk mengembangkan minatnya pada penelitian mengenai street art dan grafiti. Dengan hibah dari Foundation for Arts Initiative, fokus penelitiannya saat ini ialah pada pencarian sebuah model dan modus operandi dari institusi-institusi seni dengan pembelajaran melalui inisiatif-inisiatif seni non-Barat. Bersama Charles Esche, saat ini ia sedang mengerjakan pameran “Power and Other Things” di Brussels, sebagai bagian dari Europalia Arts Festival, 2017.

 

Related posts