Desember 11, 2018

Seri Diskusi: Sastra, Perlawanan, dan Perjuangan Bangsa

Seri diskusi Koalisi Seni kembali hadir, kali ini membahas seputar sastra, perlawanan, dan perjuangan bangsa. Pembahasan mengenai sastra sebagai bagian dari paradigma kritis tak bisa lepas dari kemunculannya yang erat dengan asas berkesenian realisme sosial.Setelah revolusi 1945, para sastrawan Indonesia kritis memiliki andil besar dalam membentuk sejarah sastra kiri baik yang berafiliasi dengan partai politik maupun yang tidak. Dunia sastra di Indonesia saat ini dapat dikatakan sedang bergeliat. Banyak penulis muda bermunculan, bahkan menerbitkan buku secara mandiri. Penerbit independen, dengan segala keterbatasannya, terus bertahan dan menerbitkan buku-buku hingga terjemahan-terjemahan penting yang mungkin tidak banyak dilakukan dalam dekade sebelumnya. Namun di sisi lainnya sisa-sisa perdebatan terkait sejarah masih terjadi jika dilihat lebih jauh ke belakang: mulai dari penolakan pemberian penghargaan kepada Martin Aleida oleh Akademi Jakarta (2013), hingga penerbitan buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh (2014) yang dinilai kontroversial.

Dengan pembicara Ni Made Purnama Sari dan Berto Tukan, diskusi ini akan menyajikan sebuah pembahasan mengenai bagaimana sartra kritis di Indonesia tumbuh berkembang, diperbincangkan, hingga bagaimana posisinya saat ini serta berusaha menjawab pertanyaan sejauh mana geliat sastra yang terjadi saat ini memberikan tempat tersendiri bagi wacana sastra kritis di Indonesia.

Ingin ikut lebih jauh dalam diskusinya? Silakan datang langsung ke Kios Ojo Keos, Jalan Karag Tengah Raya, Lebak Bulus, Jakarta Selatan, pada hari Minggu, 30 September 2018 pukul 14.00 WIB. Acara ini gratis dan terbuka untuk umum. Peserta yang hadir dipersilakan membawa botol air minum sendiri. Sampai jumpa!


Profil Narasumber:

Ni Made Purnama Sari telah meraih berbagai penghargaan penulisan sejak 2007, antara lain Juara II Sayembara Cerpen Balai Bahasa se-Bali, Harapan III Penulisan Cerpen Pusat Bahasa Jakarta, Juara Umum Lomba Penulisan dan Pembacaan Puisi Sampoerna AGRO 2007 se-Indonesia serta Juara II Lomba Penulisan Puisi Nasional Dewan Kesenian Semarang 2007. Esainya meraih juara I Lomba Esai Kompas Gramedia (2007). Antologi puisi pertamanya, Bali – Borneo (2014), meraih Buku Puisi Pilihan Festival Hari Puisi Indonesia 2014.

Puisinya termasuk dalam Buku Antologi 100 Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana (2007), buku antologi Temu Penyair 5 Kota di Payakumbuh “Kampung Dalam Diri” (2008), serta Antologi Puisi Indonesia Terbaik Anugerah Sastra Pena Kencana (2008 dan 2009), Temu Sastrawan Indonesia (2010 dan 2011), Antologi Ubud Writers and Readers Festival (2010), Antologi ‘Couleur Femme’: Kumpulan Puisi Indonesia-Perancis yang diterbitkan Alliance Francaise Denpasar beserta Forum Jakarta Paris (2010) dan sebagainya. Selain itu, karyanya (esai biografi) juga telah dibukukan dengan tajuk ‘Waktu Tuhan: Wianta” (2007). Ia juga turut dalam program Penulisan Cerita Rakyat dari Pusat Bahasa Jakarta tahun 2010.

Tahun 2015 ia mendapatkan beasiswa penelitian dari Frans Seda Foundation dan Universitas Indonesia untuk melakukan riset sosial budaya bekerjasama dengan Universitas TilburgBelanda. Juga diundang dalam Emerging Writers Festival 2015 di Melbourne (atas kerjasama Australia-Indonesia Institute), Pembacaan Sajak di Monash Asia Institute (Monash University, 2015) serta Salihara International Literary Biennale 2015.

 

Berto Tukan aktif di ruangrupa sebagai editor pada www.jurnalkarbon.net dan menjadi redaktur di www.indoprogress.com. Penulis dan peneliti lepas yang berdomisili di Jakarta ini tengah menempuh studi Magister Filsafat di STF Driyarkara. Beberapa esai, puisi, dan cerpennya pernah masuk dalam beberapa buku bunga rampai. Buku tunggalnya yang pertama, sebuah kumpulan cerpen berjudul Seikat Kisah Tentang Yang Bohong (Alpha Centaury, 2016), masuk nominasi Lima Besar Katagori Karya Pertama dan Kedua pada Anugerah Kusala Sastra Khatulistiwa 2017.

Ia beberapa kali menjadi periset untuk beberapa program dari Dewan Kesenian Jakarta, semisal program untuk penerbitan buku Seni Rupa Indonesia dalam Kritik dan Esai (Dewan Kesenian Jakarta, 2012) serta program Penelitian Karya Ilmiah Seni Rupa di Tiga Kota (Jakarta, Jogja, dan Bandung). Salah satu kegemarannya adalah bermain-main dengan media alternatif; Bersama beberapa kawan yang berbeda, ia pernah menelorkan dan menggawangi beberapa media alternatif cetak seperti PendarPena, Problem Filsafat, dan Dada Terbit.

 

Related posts