November 12, 2019

Siaran Pers: Lebih dari Sekadar Adu Gengsi, Pensi Juga Penting Buat Ekosistem Musik

Glenn Fredly, Cholil Mahmud (Efek Rumah Kaca) dan Monita Tahalea bersama murid-murid dan guru pada perhelatan SkulTur di M Bloc Space.

Jakarta – Pentas seni alias pensi kerap dipandang sebagai ajang adu gengsi sekolah, namun sebetulnya ia berperan penting dalam ekosistem musik. Sebab, pensi bisa memicu apresiasi penontonnya terhadap musik, serta menjadi etalase karya dan salah satu sumber pemasukan bagi musisi.

“Pensi adalah penggerak penting dalam ekosistem musik. Bukan cuma mengumpulkan massa, tapi jadi mesin yang menghidupi musik Indonesia. Apalagi di belakang musisi, ada tim komplit seperti pencipta lagu, sound engineer, arranger, dan sebagainya yang juga ikut terhidupi,” ujar Glenn Fredly pada Sabtu, 19 Oktober 2019.

Ia mengatakannya dalam SkulTur, diskusi seru bersama murid dan guru SMA/SMK/MA di M Bloc Space. Peserta SkulTur berinteraksi hangat dengan tiga pemantik diskusi, yakni Glenn Fredly, Monita Tahalea, dan Cholil Mahmud, vokalis Efek Rumah Kaca.

Menurut Monita, pensi adalah bagian dari apresiasi terhadap musik. “Kalau kalian mengundang artis yang disukai untuk tampil dalam pensi, itu bagian dari apresiasi. Tapi, akan lebih bagus kalau ada nilai lebih untuk penonton dan musisinya. Misalnya, saat saya main di pensi dan berkolaborasi dengan ekstrakurikuler ansambel. Mereka yang aransemen, kami latihan bareng. Semua pulang dengan nilai baru dan banyak hal dipelajari,” tuturnya.

Cholil Mahmud menceritakan, ia terpicu bermusik karena pensi juga. Awalnya sebagai penonton, lalu memulai bermusik dalam band. Ia berpendapat, setelah bermain di gigs sendiri, pensi adalah langkah berikutnya bagi musisi independen. “Kalau belum main di pensi, artinya band belum cukup disukai anak muda,” ucapnya berseloroh. “Pensi juga mengasah life skills untuk anak-anak penyelenggaranya, yang jadi belajar soal proses dan kerja tim.”

Dalam diskusi ini, Glenn bertanya kepada peserta dari SMA Labschool Kebayoran soal kejagoan mereka menggaet sponsor pensi. Konsep yang matang, pantang menyerah, dan kelihaian persuasi terhadap calon sponsor adalah kuncinya. “Konsep acara dalam proposal harus matang, mencantumkan manfaat jelas bagi sponsor. Kami riset dulu, sponsor biasanya mau apa. Kadang sponsor menolak, yang justru memacu kami mencoba lagi. Kami pernah ditolak dua kali oleh calon sponsor, kami coba ubah proposalnya dan ajukan lagi. Setelah itu mereka panggil kami untuk presentasi dan akhirnya  lolos,” kata Ghiffari Zafran, murid SMA Labschool Kebayoran.

Proses diskusi SkulTur ini, menurut Patricia Cecilia dari SMK Musik Perguruan Cikini, sangat menarik dan bermanfaat. “Kami jadi tahu bagaimana proses sekolah lain menyiapkan pensi. Semoga setelah ini bisa ada kolaborasi dan pertukaran ide lebih banyak dengan sekolah lain,” tuturnya setelah jam session di panggung M Bloc Live House.

Glenn mengusulkan agar pensi bergerak lebih jauh untuk menjadi gerakan yang meninggalkan dampak lebih luas. “Misal, pensi gabungan menggalang dana untuk sekolah lain yang belum bisa mengadakan pensi. Bisa juga transfer knowledge dari sekolah dengan pensi sukses ke sekolah-sekolah lain. Itu akan seru, dan pasti banyak musisi yang mau mendukung,” ucapnya.

Siaran pers ini dapat diunduh di tautan ini.

Related posts