Juni 27, 2017

Temu Seni Flores: Menggali Narasi-Narasi Ende dan Maumere

oleh: Annayu Maharani

Ende dan Maumere adalah kota kecil yang bertumbuh. Keduanya bukan melulu tentang tenun ikat, Danau Kelimutu, ataupun Rumah Pengasingan Bung Karno. Beberapa anak mudanya—yang sebagian besar mengenyam pendidikan di sekolah pastoral—mempunyai minat terhadap musik, sastra, dan teater. Inisiatif komunitas seni di sana antara lain mengadakan malam pembacaan puisi dan pentas teater pelajar.

​Temu Seni Flores yang diadakan pada 29 April-2 Mei 2017 mencoba menggali narasi-narasi yang ada di Ende dan Maumere lewat kegiatan diskusi dan mini festival. Apa yang menjadi kecenderungan geliat kesenian anak-anak muda dan tema-tema sosial yang diartikulasikannya. Acara ini berlangsung berkat kerja sama Koalisi Seni Indonesia dengan PWAG Indonesia (Peace Woman Across the Globe), STIPAR Ende, dan Komunitas KAHE Maumere.

 

Perempuan dan Sastra​

Diskusi “Perempuan dan Sastra” (29/4) menjadi acara pembuka yang menghadirkan penulis perempuan dari​ berbagai daerah di NTT. Diskusi hari pertama itu diadakan di STIPAR Ende, yang secara kebetulan, menurut kesaksian Pater John, 70% pelajarnya adalah perempuan.

Sebagai provinsi kepulauan, pertumbuhan penulis-penulis muda sendiri berpusat di daerah Kupang, Sumba, dan Maumere. ​Mereka yang diundang adalah Beatryz Aran (Ende), Linda Tagie (Kupang), Sandra Olivia Frans (Soe), Martha Hebi (Sumba), dan Pater John Dami Mukese (Ende).

Beatryz, Linda, Sandra, dan Martha bergiat di tempat yang berbeda-beda, baik dalam komunitas maupun lembaga swadaya masyarakat. Beatryz awalnya bergiat di Komunitas Puisi Jelata yang berbasis di kampus. “Namun sayangnya komunitas tersebut sudah tidak aktif akibat masalah komitmen”, ujar Beatryz. “Meski begitu, di Ende ada komunitas Sare yang masih aktif”. Linda sendiri, yang merupakan penulis dan aktor teater, aktif sebagai anggota komunitas Dusun Flobamora. Flobamora–akronim dari Flores, Sumba, Timor, dan Alor–menjadi wadah perkembangan sastra di Kupang atas penerbitan Jurnal Santara yang memuat tulisan dari berbagai daerah di NTT dan luar NTT.

Seperti halnya Sandra yang berada di Soe. Soe adalah kota kecil di Timor Tengah Selatan, dua jam perjalanan dari Kupang. Karena sangat minim perkembangan sastra di daerahnya, mau tidak mau dirinya harus mencari supporting system di Kupang. “Sastra di Soe masih kurang, dan beberapa penulisnya keluar-masuk daerah. Dicky Senda, misalnya, aktif di beberapa komunitas. Sedangkan saya baru balik lagi ke Soe setelah melanjutkan studi Public Health di Melbourne.” Sandra adalah seorang dokter. Selain menulis fiksi, kesibukan lainnya adalah memberikan penyuluhan tentang pencegahan penyakit di daerahnya.

Sedangkan Martha bergabung di sebuah lsu Solidaritas Perempuan dan Anak di Sumba.  “Masih banyak perempuan yang buta huruf”, terangnya soal tingkat literasi di Sumba. Meskipun begitu, ia dan teman-teman memakai medium sastra dalam kampanye kekerasan terhadap perempuan.

Pater John sebagai sastrawan senior menimpali dengan pertumbuhan penulis perempuan di NTT di mana karya-karya mereka telah masuk ke dalam buku antologi, baik dicetak dari komunitas maupun secara mandiri.

 

Seni dan Seniman: Ada d​i Pihak Mana?

Topik lain yang menjadi bahan pembicaraan adalah posisi kesenian di tengah-tengah masyarakat. Topik ini dibagi dalam dua diskusi. Pertama di Ende (29/4) dengan pembicara ​Naomi Srikandi (Yogyakarta), Martha Hebi (Sumba), dan Arul Kurniawan (Ende); sedangkan kedua di Maumere (1/5) dengan pembicara Alfonsa Horeng (Lepo Lorun), Susilowati Koopman (Flores), Aquino Hayunta (Jakarta), dan Linda Tagie (Kupang).

​Di NTT kasus kematian buruh migran dan perdagangan manusia selalu menghiasi halaman muka koran-koran lokal. Pulang dengan keadaan cacat menjadi nasib mujur. Provinsi ini menempati urutan kesembilan pengiriman buruh migran ke luar negeri, dengan mengirimkan 2000-4000 buruh migran per tahun dari jumlah enam juta di Indonesia.[1] Dalam dua bulan, sejumlah 21 buruh migran asal NTT meninggal di Malaysia.[2]

“Sudah ratusan peti mati yang dikirim pulang ke Bandara El Tari”, ujar ​Linda Tagie dalam diskusi di Maumere. Linda Tagie bercerita bagaimana ia bersama teman-temannya di Kupang berdemo di depan kantor Gubernur sebagai aksi protes. Mereka membacakan puisi bertema buruh migran dan kritik terhadap pemerintah. Linda sendiri membuat puisi berjudul “Hujan Badai ​di Flobamoraku”, yang ditujukan untuk teman-teman aktivis dan LSM. Puisinya ia bacakan saat diskusi “Perempuan dan Sastra” di Ende tempo lalu.​

Para pembicara yang merupakan seniman dan aktivis tersebut tampak sepakat tentang penggunaan seni sebagai medium menyuarakan isu-isu di masyarakat dan menjadi bentuk komunikasi yang lebih halus. Hal inilah yang diaplikasikan oleh Martha dan Linda dalam kampanye kekerasan terhadap perempuan dan perdagangan manusia. 

Sejak Era Reformasi seniman mempunyai ruang gerak yang lebih bebas dan setidaknya mampu menjadi bagian dari perubahan.”Kesenian merupakan salah satu prasyarat demokrasi yang sehat karena kesenian berlandaskan kebebasan berekspresi”, terang Aquino Hayunta. “Praktek kerja ini beberapa kali kami temukan di berbagai daerah. Salah satunya adalah di Poso. Ada komunitas PEDATI yang menggunakan medium musik demi menurunkan konflik yang ada di sana.”

​”Jika saya sebagai pekerja seni dan saudara sebagai penonton kesenian, maka ​saudara berdiri di pihak yang mana di dalam persoalan masyarakat?​”, tanya Naomi Srikandi kepada audiens.​

Puncak Temu Seni Flores adalah festival teater pelajar di Sikka Convention Center, Maumere. Sebelumnya di pagi hari, Naomi Srikandi memberikan lokakarya teknik dasar keaktoran yang diikuti oleh aktor-aktor pelajar yang akan berpentas.

Penonton tidak langsung pulang setelah pentas teater terakhir selesai karena selalu ada sesi tanya jawab dengan aktor dan sutradara. Format menarik yang akan ditemukan jika berpentas atau menonton teater di Maumere—dan mungkin temuan narasi lainnya.

 

[1] “Puluhan Peti Mati Berisi Jasad TKI Dikirim ke NTT Sepanjang 2016”  http://www.bbc.com/indonesia/indonesia-38647064

[2]  “Dalam Dua Bulan, 21 TKI Asal NTT Meninggal di Malaysia” http://regional.kompas.com/read/2017/03/19/07461921/dalam.2.bulan.21.tki.asal.ntt.meninggal.di.malaysia

Related posts