Agustus 19, 2019

M. Abduh Aziz

Kepergian orang hebat selalu menyisipkan sebuah pesan penting: regenerasi. Dan bagi kami di Koalisi Seni, Mohamad Abduh Aziz adalah orang hebat. Maka ketika ia berpulang pada Minggu malam, 30 Juni 2019 akibat serangan jantung, kami tidak hanya berduka karena kehilangan seorang mentor dan sahabat, namun juga atas kepergian sosok penting dalam kesenian Indonesia. Tidak banyak orang mendedikasikan dirinya untuk memperbaiki ekosistem seni melalui kerja-kerja advokasi, dan Mas Abduhdemikian kami yang lebih muda menyebutnya—merupakan pionir pun pemimpin dalam jalur ini, memastikan berbagai sektor kesenian dapat berdikari dan bertumbuh-kembang.

Sejatinya, Mas Abduh adalah pegiat film. Ia merupakan manajer produksi untuk film Daun di Atas Bantal (1997) oleh Garin Nugroho, ko-produser dan turut menulis naskah untuk Impian Kemarau (2004), serta memproduseri film dokumenter Banda: The Dark Forgotten Trail (2017). Bersama rumah produksi Cangkir Kopi yang ia dirikan, Mas Abduh  menyutradarai Tjidurian 19 (2009) dengan Lasja F. Soesatyo, serta bertindak sebagai produser untuk film Sebelum Pagi Terulang Kembali (2014). Karya terakhirnya sebagai sineas adalah menahkodai Perusahaan Film Nasional (PFN) sebagai Direktur Utama dan mengakhiri vakum produksi 27 tahun Badan Usaha Milik Negara tersebut melalui film Kuambil Lagi Hatiku (2019).

Namun, jejak Mas Abduh di perfilman Indonesia tidak berhenti pada pengkaryaan. Bersama pegiat film lainnya, ia turut menggerakkan Masyarakat Film Indonesia (MFI) yang mengecam pasal-pasal represif dalam Undang-undang Perfilman dan menuntut pembubaran Lembaga Sensor Film (LSF) ke Mahkamah Konstitusi. Meski tuntutan ini gagal, MFI menumbuhkan kesadaran akan pentingnya tata kelola ekosistem perfilman yang baik serta terciptanya konsolidasi di kalangan pegiat film muda Indonesia kala itu.

Pada 2013, setelah rapat anggota pada tahun sebelumnya, ia terpilih sebagai Ketua Pengurus Koalisi Seni yang pertama. Amanat ini diembannya hingga terpilih kembali untuk periode ketiga pada Rapat Umum Anggota pada Maret 2019 di Yogyakarta. Kala itu, ia menyatakan di hadapan anggota yang hadir bahwa ini akan menjadi masa bakti terakhirnya. Seusai acara, ia berpesan kepada regu sekretariat akan pentingnya regenerasi internal bagi kerja advokasi seni. Mas Abduh memang selalu memperhatikan dan mengayomi rekan-rekan yang lebih muda, mengajak kami untuk bersiasat dengan lebih cerdas. Dalam kata-katanya sendiri: “Jadi anak muda itu nakal boleh, goblok jangan.”

Kami akan terus mengenang kebaikan Mas Abduh, dalam hal besar maupun kecil: bagaimana ia seringkali, saat rapat, mengambil spidol dan langsung menggambar skema di flipchart untuk memantapkan alur pikir kami, atau ketika ia mengeluarkan wejangan yang begitu dibutuhkan kala krisis melanda. Atau setiap kali ia masuk pintu kantor, membawa biji kopi panggangannya sendiri bagi regu sekretariat yang butuh asupan kafein (kopinya beragam dari berbagai daerah Indonesia, dan selalu nikmat!), berbagi cerita ketika menumpang pulang di mobilnya—dan tentu saja, tawanya yang terkekeh-kekeh saat berkelakar.

Belum lama ini, kami menemukan kembali sejumlah puisi karya Mas Abduh dalam sebuah utas email senggang dari tahun 2016, yang berisi karya-karya puisi anggota sekretariat. Berikut salah satu puisinya, yang kami rasa tepat mengakhiri tulisan penuh kenangan ini:

Sungai Baliem 

Jangan menunggu,

Aku harus pergi…

Demikian kata air kepada hulu,

Mengalir pelan dalam diam

Menjemput nasib di ujung sana,

Dalam curam dan kelok anak sungai,

Entah berapa huma dan desa terlewat,

Entah berapa waktu tersisa,

Hingga tiba di hilir beriak,

Menuju laut keabadian…

 

Wamena, 22 April 2015

Untuk mengetahui rekam jejak Abduh Aziz yang lengkap, silakan baca obituari yang ditulis oleh anggota Koalisi Seni dan Ketua Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) Hikmat Darmawan di laman DKJ.

(Eduard Lazarus)