Agustus 18, 2018

Terancam Digusur, Sanggar Anak Akar Bersiasat oleh Nur Azizah

IMG_8189

Anak-anak belajar di salah satu ruang di Sanggar Anak Akar, Sabtu, 31 Oktober 2015.

Oleh: Nur Azizah

Sabtu siang di akhir Oktober lalu, sejumlah anak-anak asyik belajar dan bermain di Sanggar Anak Akar (SAA). Mereka tampak tak terganggu dengan isu penggusuran yang tengah mengintai keberadaan ruang belajarnya. Dalam hitungan bulan atau bahkan hari, Sanggar Anak Akar pasti akan tergusur atas nama proyek pembangunan Jalan Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung Melayu).

Kabar penggusuran bukanlah isu baru bagi pengurus Sanggar Anak Akar. Sejak mula mereka memilih berlokasi di sekitar Jalan Inspeksi Saluran Kalimalang, isu penggusuran sudah menjadi kabar tahunan yang ‘wajib’ mereka dengar. Tahun ini, isu itu kembali santer dan mendesak ruang kreasi mereka. Meski begitu, pemerintah sepertinya tak transparan perihal pengerjaan proyek bernilai Rp7,2 triliun.

Itu pula yang diakui rektor sekolah otonom Sanggar Anak Akar, Ibe Karyanto. Ditemui lepas jam belajar anak, Ibe Karyanto mengaku belum menerima kepastian dari pihak pemerintah terkait penggusuran itu. “Sampai sekarang juga belum ada undangan pasti. Terakhir Mei kemarin, cuma enggak jelas, cuma memberitahukan program ini harus dilaksanakan tahun 2017.”

Proyek pembangunan Jalan Tol Bekasi-Cawang-Kampung Melayu memang mangkrak sejak 1998. Namun, pada 17 Oktober 2014 Menteri Pekerjaan Umum Djoko Kirmanto meletakkan batu pertama pembangunan sekaligus menandai keseriusan pemerintah untuk melanjutkan pembangunan jalan tol sepanjang 21,4 kilometer itu. Bagi pengurus sanggar, pertanda itu menjadi alasan untuk mengurangi aktivitasnya. “Tadinya kita intensif, sampai sekarang ini saya sengaja longgarkan kegiatan di sanggar tahun ini karena bayangan kita membayangkan persiapan itu, tapi ternyata belum dapat kepastian,” ujar Ibe Karyanto.

Ancaman penggusuran kini dalam hitungan hari. Namun pemerintah lalai memberikan informasi pasti. Bukan hal mengada-ada bila situasi ini menjadi permasalahan bagi pengurus Sanggar Anak Akar.

“Saya nyari data ke sana kemari kayaknya belum ada yang bisa kasih kepastian. Cuma problemnya, kan, pembangunan itu bergerak terus. Ini yang aku enggak ngerti harus tanya kemana lagi,” ucap sutradara produksi Sanggar Anak Akar berjudul ‘Sayap-sayap Mimpi’ yang dipentaskan di Graha Bhakti Budaya, akhir November 2014.

Jurus Advokasi Sanggar Anak Akar

IMG_8214
Anak Sanggar Akar bersama pendamping yang merupakan mahasiswa magang dari Semarang, Sabtu 31 Oktober 2015.

Tahun ini, kabar penggusuran proyek Jalan Tol Becakayu menjadi perhatian serius warga sepanjang jalan Inspeksi Saluran Jatiluhur, termasuk Sanggar Anak Akar. Apalagi pemerintah menargetkan proyek tersebut rampung 2017 mendatang. Pengerjaan dikebut. Sanggar pun kalang kabut. “Tadinya kita mau ke Balaikota, (tapi) kemarin kita telpon teman-teman di konsorsium, mereka sendiri belum punya data pasti soal jadwal,” ungkap Ibe Karyanto.

Pihak perusahaan, kata Ibe Karyanto, memang pernah menunjukkan gambar proyek Becakayu. Perusahaan penggarap proyek tersebut bahkan menyatakan akan lebih dulu mengerjakan proyek pada sisi selatan sungai. “Tapi kenyataannya sekarang ini kalau dilihat dari pembangunannya itu, kan, enggak jelas, kanan kiri kanan kiri. Makanya gimana, waduh.”

Proyek pembangunan jalan tol di sepanjang Jalan Inspeksi Jatiluhur memang bukan ‘barang’ baru. Demikian halnya dengan SAA yang paham benar atas potensi ancaman itu. Namun, lagi-lagi pemerintah luput menyampaikan informasi pasti kepada warga yang berada di sekitar lokasi proyek pembangunan. Informasi mengenai luasan area penggusuran pun simpang siur setiap tahunnya.

“Tahun 2003 ada isu lagi masih di depan. 2007 mulai ada isu mulai sampai ke belakang-belakang. Nah yang terakhir itu mulai ada yang ngukur-ngukur,” ungkap Ibe Karyanto. Bahkan kepada warga, lanjut Ibe, pelaksana proyek mengaku hanya menerima tanah negara antara 27 hingga 30 meter, tanpa disertai penjelasan batas awal pengukurannya.

Menyikapi ketidakjelasan informasi, pengurus sanggar bersama Sahabat Akar sebelumnya telah membentuk tim advokasi yang bertugas menginvestigasi rencana penggusuran sanggar atas proyek Jalan Tol Becakayu. Namun, rupanya tim tersebut belum bergerak maksimal lantaran kesibukan masing-masing anggotanya.

“Paling tidak bisa mengejar kepastiannya gimana, kedua skema pembeliannya seperti apa, supaya kita juga bisa buat perencanaan. Nah sekarang mau bikin perencanaan juga susah,” sesal Ibe Karyanto.

Padahal, ujarnya, kerja tim advokasi sangat penting demi menentukan langkah selanjutnya. Namun, pengurus Sanggar Akar tak terus mengurung diri dengan penyesalan. Akhir Juni lalu Sanggar Anak Akar menggalang donasi bagi keberlanjutan sekolah otonom itu. Melalui pementasan bertajuk “Syukur Atas Cinta dan Kehidupan,” mereka sukses meraup donasi hingga Rp74 juta. Tapi keberhasilan itu masih jauh dari harapan. Sebab, modal utama relokasi adalah informasi seputar penggusuran. Minimnya informasi, diakui Ibe Karyanto menghambat proses pemilihan lokasi baru bagi kegiatan sanggar.

“Sementara ini kami belum berani bahkan mencari lahan pun belum berani. Rencana ada, assesment lahan-lahan itu, tapi enggak berani masuk ke dalam misalnya ketemu yang punya, karena kalau sudah ketemu pemilik pasti sudah tawar menawar,” terang penerima penghargaan dari Ashoka Fellowship pada 2005.

Sejumlah tempat itu masih di sekitar Jakarta Timur dan area Kalimalang. Paling enggak, kata Ibe Karyanto, sampai Duren Sawit. “Bisa juga masih di daerah sini,” imbuhnya.

Bagi sanggar yang berdiri sejak 22 November 1994, pindah dari lokasi lama memang tak bisa dihindari lagi. Segala upaya dilakukan untuk ‘menjaga’ aset dan jiwa penghuninya. Kecewa, tentu iya. Tapi, mereka berusaha bijak menghadapi penggusuran. “Kalau anak-anak yang gede, dibilang kecewa pasti kecewa, tapi mereka siap saja dalam arti, ya, sudah kita mulai kembali. Tentu saja sekalian itung-itung mungkin pembenahan manajemen, dan lain-lain. Ya sudah nanti kita hadapi saja,” terang Ibe Karyanto.

Strategi bertahan Sanggar Anak Akar tampaknya memang tengah diuji. Sanggar yang dibidani oleh Institut Sosial Jakarta itu kini ‘ditantang’ untuk mengerahkan segenap kemampuannya demi merawat komitmennya terhadap pemenuhan hak anak atas Sanggar Anak Akar. Tahun depan, Ibe memastikan timnya akan bekerja intensif, mengejar data dan informasi seputar penggusuran.

“Kalaupun mungkin sebelum akhir tahun diminta pindah, kita akan fight sampai akhir tahun tidak ada perubahan apa-apa. Permintaan kita sampai tahun depan enggak diusik, masuk akal lah,” tukas pendiri Sanggar Anak Akar itu.

Selain mengulur waktu penggusuran, Ibe menyatakan pihaknya akan kembali menyiapkan tim advokasi. Tim itu akan terdiri dari teman, pengurus serta Sahabat Akar. Dalam waktu dekat, Ibe juga berjanji akan menemui Wali Kota Jakarta Timur Bambang Musyawardhana untuk audiensi.

“Tim akan mencari kepastian informasi terkait dengan jadwal penggusuran, seberapa besar, bagaimana skema pembayaran. Itu satu untuk mengadvokasi. Di samping kesiapan surat menyurat yang kita punya, tim lain mencari dana, tim selanjutnya cari lokasi dan pembangunan. Itu rencananya.”

Sanggarku Pasti Tergusur

IMG_8242
Anak-anak Sanggar Anak Akar menunjukkan hasil ketrampilan mereka usai belajar, Sabtu, 31 Oktober 2015

Sejak mula pendiriannya, Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar acapkali berpindah lokasi. Dianggap negatif dan mengganggu warga sekitar. Namun itu tak mengurangi semangat mereka untuk terus berkarya dan berproduksi. Hingga di tahun 2003 usaha tulus Sahabat Akar mulai membuahkan hasil. Atas nama Yayasan Anak Akar, lahan seluas 950 m² menjadi ruang belajar bagi mereka. Kini, sanggar yang dibangun oleh keringat anggotanya itu tengah dalam bidikan proyek pembangunan. Proyek bernama jalan Tol Becakayu yang terdiri dari dua seksi pengerjaan, Casablanca-Kampung Melayu-Jakasampurna, lalu Jakasampurna-Duren Jaya.

Pengerjaan proyek yang seolah diburu waktu itu sempat menciutkan obor semangat pengurus Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar. Kegiatan rekruitmen anak-anak dari luar sanggar pun ditiadakan. Namun, surutnya kegiatan mereka tak mengurangi komunikasi antara pengurus dan alumni.

“Kalau alumni punya mekanisme sendiri, kalau ke sini, iya, kita ngobrol-ngobrol. Tapi mereka punya konsen sendiri. Ada pemikiran mereka disampaikan ke kita juga,” tutur Ibe.

Sanggar Anak Akar memang perlu menandingi langkah pengerjaan proyek Jalan Tol Becakayu. Tetap bekerja sembari mencari solusi di tengah informasi penggusuran yang tak pasti.

“Belum jelas setiap kali ada yang datang ke sini dari PU dari apa lah, ngukur semau-maunya sampai atas-atas tapi ketika ditanya enggak tahu dan hanya bilang persiapan saja. Saya tahulah kamu selalu bilang sekedar pelaksana. Percuma, sampai capek juga saya. Sudah terlalu sering, sampai bosan saya. Sampai saya bilang sudah ukur saja lah,” ujar Ibe.

Kiprah Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar memang tak bisa dipandang sebelah mata. Puluhan produksi pementasan baik musik, teater hingga film pendek adalah tanda nyata jika mereka memang patut ada. Ibe berharap pemerintah memperhitungkan proses perpindahan bagi mereka. Butuh waktu sebulan hingga dua bulan bagi Sanggar Anak Akar untuk berkemas dan pindah ke lokasi baru.

“Karena persoalan kayak gini enggak sekedar pindah fisik, biaya sosial itu yang berat yang mahal. Biaya sosial budaya. Kita harus membangun dengan masyarakat sekitar lagi, enggak gampang itu. Itu yang sebenarnya menyebalkan dari penggusuran ,” terang Ibe Karyanto.

Kerugian sosial budaya menjadi alasan bagi pengurus Sanggar Anak Akar untuk memilih tempat baru yang tak jauh dari lokasi saat ini. Penguatan internal melalui komunikasi antara penghuni serta unek-unek alumni juga menjadi siasat cermat bagi pengurus agar tak salah langkah menyikapi dampak tersebut. Karenanya, Ibe berkeras akan memperhitungkan biaya sosial budaya jika memang lokasi Sanggar Anak Akar ‘habis’ oleh penggusuran. Meski ia paham benar jika pemerintah tak bisa mengabulkan permintaannya.

“Kalau soal harapan, mau apalagi yang diharapkan dari pemerintah enggak ada sudah. Mereka enggak bisa mau memenuhi harapan. Ukurannya, kan, cuma uang, selesai.”

Kendati demikian optimisme tetap menjadi pijakan pengurus. Mereka yakin penggusuran akan membawa perubahan manajemen terhadap cita-cita awal Sekolah Otonom Sanggar Anak Akar, yakni melindungi anak-anak pinggiran dari ketertinggalan.

Related posts