Agustus 24, 2017

Theresia Sandhora, Mat Pelor dan Teguh Santosa

Pengantar redaksi: Saat mengunjungi Malang dalam rangka penelitian keberlangsungan lembaga seni pada 6 Mei hingga 10 Mei 2015 lalu, kami bertemu dengan Abdul Malik. Ia adalah seorang penulis kolom budaya di koran Malang Pos. Sebagai penulis budaya, Abdul Malik sering mengangkat kehidupan seniman di Malang, hingga demikian akrab dengan mereka. Melihat ini, kami pun meminta Abdul Malik untuk menulis di website Koalisi Seni Indonesia. Dan ia pun memberikan tulisan ini kepada kami: sebuah ulasan dari pameran preview komik karya Teguh Santosa. Seorang komikus legendaris dari Kota Malang.


Oleh: Abdul Malik

Hari kesekian/Teguh masih sendiri/Di meja gambar itu/Kali ini emosinya makin membabi buta/Melumatkan hiruk pikuk peluru/Dan mesiu di pikirannya/Kaupun menangis Teguh/Saat menghampiri karya tuamu itu/ Dalam bising gaduh lagu tanpa kata/Himne karya kesucian untuk istrimu/Masih kau rawat bagai bunga surge/Wajah Sandhora kau pegang, Teguh/Sampai akhir hayatmu tiba/Teguh, ini Sandhora, Suci Kinasihmu/Dengarkan aku berseru: Kau bukanlah bunga/tapi wangimu aku tak bisa lupa/Kata-katamu bukanlah sabda/tapi di telingaku bersenandung penuh nada/Kau bukanlah maha/tapi besarmu padaku berkuasa/pandang matamu bukanlah pedang/tapi sorotnya ke jantungku langsung menghunjam.

sandhora-horz
Sandhora (1969) adalah komik karya Teguh Santosa yang paling popular, terinspirasi film Angelique. (dok. Dhodi Syailendra)

Eny Dwi Cahyani membaca puisi karyanya, Sandhora Kinasihku, dengan anggun di House of Juminten, Jalan Kahuripan 18 Kota Malang, Minggu (24/5/2015). Eny adalah sahabat Dhany Valiandra, putra kedua komikus Teguh Santosa. Mereka sama-sama bersekolah di SMAN 2 Kota Malang tahun 1985-an.

Seratusan tamu hadir dan menjadi saksi dalam preview pameran seni komik Trilogi Sandhora karya komikus Teguh Santosa hari itu. Mereka adalah para sahabat, murid, pecinta komik Teguh Santosa, pekerja seni dan keluarga besar Teguh Santosa. Hari itu, Teguh Santosa kembali menjadi episentrum bagi pecinta komik karya-karyanya, seperti Bambang Priyadi, Buang Efendi (sahabat dan rekan kerja Teguh Santosa), Djathi Kusumo (budayawan Malang), Indra Setijadi (Rumah Makan Kertanegara), Yon Wahyuono (Komite Seni Rupa Dewan Kesenian Malang), Dandung Prasetyo (Semeru Art Gallery), Romy Setiawan (dosen Program Studi Seni Rupa Murni Fakultas Ilmu Budaya Universitas Brawijaya), Aditya Sasongko (dosen Universitas Ma Chung), Maruto, Keo Budi Harijanto, Asa Wahyu Setyawan Muchtar (Eklesia Prodaksen, Kebonagung), Wahyu Kris Aries Wirawardana (Kepala Sekolah SMP Kristen Pamerdi, Kebonagung), Pendeta Novarita (GKI Kebonagung), dan Arif Budiman (Paguyuban Sanggar Seni Rupa Warna).

Rahmatsyam Lakoro atau yang juga dikenal dengan Ramok Lakoro, dosen Jurusan Desain Produk Industri Fakultas Teknik Sipil ITS Surabaya, seorang pecinta komik Teguh Santosa, pun datang dari Surabaya hadir bersama keluarga. Rencananya semula ke Magetan bersama keluarga pun berubah setelah membaca postingan Beng Rahadian, seorang komikus dan juga pendiri Akademi Samali Jakarta, di media sosial tentang acara Preview Trilogi Sandhora karya komikus Teguh Santosa di House of Juminten, Malang. Ardian Syaf, komikus dari Tulungagung yang kini bekerja untuk DC Comics, juga turut hadir.

“Sejak kecil saya membaca komik karya Pak Teguh Santosa di halaman belakang majalah Jayabaya. Saya bercita-cita ingin menjadi komikus seperti Pak Teguh Santosa. Saat Pak Teguh Santosa masih hidup saya tidak sempat bertemu langsung dengan beliau. Saat saya diundang hadir dalam preview komik Trilogi Sandhora, saya memutuskan harus hadir. Saya ingin bertemu dengan keluarga Pak Teguh Santosa dan mengucapkan terima kasih,” ungkap Ardian. Memang, pada akhirnya, hanya mereka yang memiliki cinta yang mampu menangkap cinta dari Teguh Santosa lewat karya-karya komiknya.

Pintu telah dibuka untuk karya-karya komik Teguh Santosa setelah 46 tahun Trilogi Sandhora berkelana ke seluruh pelosok negeri ini.

Untuk sebaris cerita/Kaukumpulkan tulang belulang imajinasi/Kau ramu dengan musik bergelora/Mirip di film-film laga/Ahh sudahlah itu hanya mimpi-mimpi Teguh/Kumpulan komik asing, tak lagi bertuan di kota ini/Karena sejarah setengah membutakannya/Hampir saja namamu redup/ Tapi Teguh kamu masih ada/Kamu sedang hidup bersetubuh dengan karyamu di sini/Di rak-rak buku perpustakaan tua Tanjung Kuning/Sudut alun-alun kotamu/Pergilah kesana, menziarahi monumen abadi (Dhany Valiandra)

Memasuki Lorong Waktu 185 Tahun Bertemu Sandhora

BATAVIA 1830. Pada tahun itu jang menjadi Gubernur Djenderal adalah Van den Bosch, si pentjipta “tanam paksa”, sistim ini dilakukan untuk mengisi kekosongan kas pemerintahannja akibat beaja2 jang dikeluarkan terus menerus untuk menanggulangi Perang Djawa jang dicetuskan oleh Pangeran Diponegoro!

“Roman Sejarah”. Demikianlah Teguh Santosa (1942-2000) menyebut komik Sandhora yang dibuatnya pertengahan Oktober 1969 tersebut. Kita dapat membaca teks diatas dalam komik Sandhora jilid 3 halaman 156. Teks tersebut memantapkan pembaca bahwa komik Sandhora yang diterbitkan Pancar Kumala, Jakarta merupakan sebuah roman sejarah. Terdiri dari 9 jilid setebal 540 halaman, Teguh Santosa menggambar komik Sandhora dengan latar tempat serampung perang Diponegoro (1825-1830).

Theresia Sandhora, nama lengkap Sandhora, merupakan putri kembar Djenderal van Lawick dan Esterlitta (dari keluarga Gipsy). Margaretha, adalah nama saudara kembar Sandhora. Saat Sandhora berusia satu tahun, ia dititipkan pada Marcos Varga, pedagang senjata, kakak Esterlitta. Marcos membawa Sandhora ke Filipina yang merupakan koloni Spanyol. (komik Sandhora jilid 3 halaman 169-170).

Menurut penuturan Dhany Valiandra (48), nama Sandhora terinspirasi dari nama Titiek SandhoraSeorang penyanyi dan bintang film tahun 60-an, istri Muchsin Alatas.

Dikisahkan, Theresia Sandhora menjalin asmara dengan Mat Pelor. Lelaki anak wedana di Surabaya yang memiliki nama asli Achmad. Mat Pelor piawai dalam menggunakan senjata serupa namanyaIa mengawal Sandhora saat kumpeni mengejar kapalnya di laut sumatera, hingga terdampar di sebuah teluk di Sumatera Tengah. Disini, Teguh Santosa meramu roman sejarahnya dengan menarik. Mat Pelor dan teman dekatnya, Dul Rasjid, serta Sandhora, terseret masuk dalam kecamuk Perang Padri yang dipimpin Tuanku Imam Bonjol tahun 1803-1838 di Sumatera Barat.

Petualangan dilanjutkan ke sebuah pulau di selat Malaka milik Hamid Sulthon, orang Gujarat, pedagang senjata dan memiliki hubungan khusus dengan Thomas Stanford Raffles. Cerita bergeser dari satu pulau ke pulau lain. Dari Weltevreden, komplek militer Belanda di Batavia, hingga ke bumi Minahasa di pulau Sulawesi.

Menurut Dhany Valiandra, komik Sandhora telah dicetak ulang sampai tiga kali oleh penerbit Pancar Kumala JakartaTetapi logi kedua, Mencari Mayat Mat Pelor, diterbitkan oleh Sastra Kumala Bandung. Saat itu produksi komik tidak berfikir tentang royalti. Bagi Teguh Santosa, siapa yang berani membayar, silahkan menerbitkannya. Di situlah kompetisi penerbit dalam perebutan karya Teguh Santosa.

mat pelor 4
Dhany Valiandra sedang diwawancarai Arik Wahyudi, produser UB TV, televisi komunitas Universitas Brawijaya di House of Juminten untuk acara UB Talk, Senin (25/5/2015) untuk acara UB Talk. (dok. Aprodita Anggraeni)

“Saya kira komik Sandhora bisa digunakan tolak ukur, betapa luar biasanya pemikiran anak muda bangsa kita saat itu. Heroisme yang terbangun dari cerita ini barangkali sama persis dengan kondisi nasionalisme pemuda saat itu. Nama–nama seperti Pangeran Diponogoro, Sentot Prawirodirjo, dan suasana Perang Padri, masih menjadi memori remaja tahun 70-an. Transformasi hiburan saat itu hanya bisa didapat dari bioskop dan cerita komik. Tentu saja Teguh berperan penuh menjadi sutradaranya yang dielu-elukan setiap karya terbarunya,” Dhany Valiandra menambahkan. Wajar saja kalau WS Rendra, aktor dan sutradara Bengkel Teater, mengikuti perkembangan imajinasi Teguh Santosa kala itu. Sebenarnya ilham heroisme tentang sejarah sudah ada di benak Teguh Santosa sejak kecil. Teguh Santosa tumbuh dalam lingkungan Ketoprak Kridosworo milik keluarganya. Di situlah pemahamannya tentang sejarah sangat melekat. Saat itu, dimana–mana perpustakaan komik menjadi magnet hiburan seperti gedung bioskop . Film bioskop pada masa itu yang menjadi ukuran hanyalah film–film James Bond. Teguh Santosa pun mengikuti film ini dari awal dengan judul Dr. No (1962, Sean Connery) sampai film terakhir yang dilihat Teguh Santosa adalah A View to a Kill (1985, Roger Moore).

Tapi tak semuanya tertuju pada komik Sandhora karena saat itu Teguh juga membuat cerita komik lain di luar Sandhora yaitu Dewi Air Mata, Kuil Loncatan Setan, Tambusa, yang popularitasnya naik bersamaan dengan Si Buta Dari Gua Hantu. Kenapa kisah Sandhora menjadi perburuan bacaan komik saat itu? Bisa jadi, itu karena suasana pengajaran sejarah di sekolah yang masih miskin literatur visual. Saat itu, banyak sekali anak–anak yang belum mengenal kisah sejarah, seperti suasana pemberontakan kompeni/VOC dan heroisme Perang Diponegoro, dalam versi yang lain. Mereka hanya bisa melihat dari isi tulisan buku sejarah saja. Alhasil, komik lah yang menjadi sumber panutan peradaban hiburan pada saat itu di Indonesia

Kecerdasan menangkap kebutuhan atas cerita–cerita komik di era itu sangatlah wajar, karena film Indonesia pada waktu itu, yang banyak diproduksi oleh PPFN dan PERFINI, masih kental dengan muatan sastra seperti Tiga Dara (1956, Usmar Ismail), Kopral Jono, dan film–film yang dibintangi oleh Tan Tjeng Bok (1899-1985). Juga film–film seputar perjuangan revolusi 45 yang banyak melibatkan sutradara Usmar Ismail, Asrul Sani, Wim Umboh dan sastrawan lainnya.

Di sini tampak kecerdasan Teguh Santosa membuat cerita Sandhora berbeda dengan karya–karya film Indonesia saat itu. Kalau kita runut ke belakang, Indonesia baru membuat film bioskop pertama kali pada tahun 1926 yang berjudul Loetoeng Kasaroeng. Dari sini, bisa kita amati bahwa Teguh Santosa termasuk penyimpan imajinasi local genius pada masanya.

Satu hal unik yang patut dicermati adalah pada 1969-an, komik telah menjadi semacam media sosial bagi komikus Teguh Santosa. Pada halaman-halaman tertentu, Teguh Santosa membubuhkan catatan pendek. Seperti pada komik Sandhora Jilid IV, halaman 185: ketjup sajang buat si mungil “aphrodita anggraeni”. Kita tahu bahwa Aprodita Anggraeni adalah putri ketiga Teguh Santosa yang lahir tahun 1969. Teguh Santosa lewat komik Sandhora juga menyapa dua sahabatnya sesama komikus. Buat sahabatku jan mintaraga selamat atas kelahiran putri pertamanya ! berapa orang lagi? (jilid 8 halaman 433). Buat Ganes , lain kali kita ngobrol lebih lama ! (Jilid 8 halaman 437)

Trilogi Sandhora Diangkat ke Layar lebar

Dalam komik Sandhora jilid 8, Teguh Santosa menggunakan gaya penuturan film., hingga membaca halaman demi halaman komik Sandhora seperti sedang menonton adegan film. Karakter komik Bapak memang banyak terinspirasi adegan film. Mulai penggambaran karakter tokoh dengan sudutekstrem close up, sampai adegan out of frame yang terinspirasi film 3D,” kata Dhodi Syailendra, putra bungsu Teguh Santosa. “Di tahun 80-an Komik Sandhora sudah ada rencana untuk diangkat ke layar lebar. Pada waktu itu tokoh Mat Pelor akan diperankan oleh Alm. Dicky Zulkarnain (Ayahanda Nia Zulkarnain). Karakter beliau cocok dengan karakter tokoh Mat Pelor”, lanjutDhodi, yang juga alumnus Institut Seni Indonesia Yogyakarta Jurusan Fotografi ini “Seandainya Komik Sandhora diangkat ke layar lebar, harapanku bisa terinspirasi film ‘Pirates of the Caribbean’. Khususnya adegan yang ber-setting di perairan laut Thailand pada tahun 1960-an”.

Menurut Dhodi, sebenarnya Indonesia punya banyak kisah yang bisa diangkat ke layar lebar. Mulai dari kisah rekaan/fiksi para komikus dan penulis cerita, sampai kisah legenda yang ada di Indonesia. Semua itu bisa divisualisasikan ke media film dengan sentuhan teknologi digital. Dan Indonesia sudah banyak memiliki para seniman’ yang memiliki kemampuan di bidang tersebut. Jangan sampai cerita legenda Indonesia diangkat ke layar lebar oleh pihak Hollywood. Hal ini bisa saja terjadi, mengingat saat ini kisah Majapahit sudah diangkat menjadi sebuah permainan di Amerika.

Memang, menurut penuturan Dhany Valiandra, sutradara Hanung Bramantyosedang membaca komik Trilogi Sandhora karya Teguh Santosa. “Dulu Bapak berpesan kalau Trilogi Sandhora diangkat ke layar lebar, filmnya harus hitam putih.” ujarnya

Related posts